Selasa, 09 April 2013

Pangeran Bunga Bangkai



SATRIA LONCENG DEWA
Karya : Bastian Tito

Episode 3
PANGERAN BUNGA BANGKAI

Di depan semak belukar lebat, bersandar ke sebuah batu hitam duduk menjelepokdi tanah satu mahluk yang seumur hidup baru kali itu dilihat Ratu Dhika Gelang Gelang. Jika manusia mana kepalanya. Kalau hantu mengapa tubuhnya utuh seperti seorang manusia. Sebagai pengganti kepala ada sekuntum bunga luar biasa besar berwarna kuning berbintik coklat. Pada bagian tengah bunga mencuat kuncup berwarna hijau setinggi tiga jengkal. Bunga aneh ini menebar bau busuknya bangkai yang membuat Ratu Dhika Gelang Gelang hampir tidak sanggup menahan muntah. "Bunga Bangkai..." ucap Ratu Dhika Gelang Gelang.

SATU
MAHLUK TANPA KEPALA
Rumah bambu berkolong tinggi beratap ijuk di lereng lembah kecil diselimuti kesunyian. Saat itu rembang petang. Cahaya terik sang surya mulai memudar. Ketika angin bertiup silir dari arah Gunung Merapi tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat dari arah timur lembah. Gerakannya luar biasa cepat dan ringan. Sesaat kemudian kelihatan seorang kakek berpakaian selempang kain putih, berkalung semacam tasbih besar terbuat dari kayu cendana, berdiri di ujung atas tangga rumah panggung, di hadapan sebuah pintu kajang yang tertutup.
"Salam sejahtera bagi penghuni rumah. Sri Sikaparwathi, apakah kau ada di dalam?"
Orang tua tadi memberi salam. Dia menunggu jawaban sambil memandang berkeliling, mengelus kumis dan janggut putih sementara rambut panjang menjela
bahu melambai-lambai tertiup angin. Ketika tidak ada jawaban dari dalam rumah, si kakek lantas mengulang salamnya untuk kedua kali.
"Sri Sikaparwathi, salam sejahtera untukmu. Apakah kau ada di dalam rumah?"
Tiba-tiba dari dalam rumah bambu yang pintunya tertutup terdengar suara batuk-
batuk. Lalu menyusul ucapan perempuan. Perlahan sekali hingga nyaris tidak
kedengaran.
"Orang yang ada di luar. Jika kau adalah utusan Dewa untuk mencabut nyawaku, silahkan lakukan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik."
Paras orang tua di depan pintu serta meria berubah. Jantung berdetak, perasaan langsung tidak enak
"Sikaparwathi? Benar suaramu yang aku dengar? Mengapa lain sekali? Mengapa kau berkata seperti itu?"
Tidak menunggu jawaban, orang tua itu mendobrak pintu kajang lalu menghambur masuk ke dalam rumah. Di bagian dalam,  rumah bambu itu hanya memiliki satu ruangan. Di tengah ruangan ada sebuah tempat tidur terbuat dari bambu beralaskan rumput kering. Orang tua yang barusan masuk ini tak percaya akan apa yang disaksikannya. Di atas tempat tidur terbujur sosok seorang nenek berjubah warna Jingga yang keadaan hampir sama rata dengan alas jerami kering. Tubuh kurus kering, wajah pucat keriput. Sepasang mata yang cekung nyalang menatap ke atas, ke arah atap.
"Dewa Agung! Sika, apa yang terjadi dengan dirimu?"
Orang tua berselempang kain putih sampai berteriak karena terkejutnya melihat keadaan nenek di atas tempat tidur itu. Jari-jari tangannya memegang keras bambu pinggiran tempat tidur dan dalam menahan gelora perasaan jari-jari itu tidak sengaja meremas hingga kraaakk!
Bambu pinggiran tempat tidur remuk di dua tempat. Sepasang mata cekung perempuan di atas tempat tidur bergerak sedikit, berusaha melirik ke arah orang tua yang tegak di sampingnya. Bibir yang kering bergerak sedikit, mengeluarkan suara batuk baru berucap.
"Tubuhmu terlihat tidak jelas, wajahmu tampak samar.Tapi telingaku mengenali suaramu. Bukankah kau Gede Kabayana sahabatku dari Klungkung Bali...?" 
"Dewa Jagat Batara! Aku bersyukur kau masih mengenali diriku. Sikaparwathi sahabatku, katakan apa yang terjadi dengan dirimu. Sepintas lalu aku melihat sakitmu bukan sakit wajar."
Perempuan tua di atas tempat tidur bambu kembali batuk-batuk. Kali ini ada lelehan darah mengucur di sela bibirnya. Dengan cepat orang tua yang dipanggil dengan nama Gede Kabayana menyeka noda darah itu mempergunakan ujung selempang kain putih pakaiannya.
"Kabayana, aku memang bukan sakit wajar. Aku menderita seperti ini karena ada orang jahat menggandakan tubuh dan rohku lalu dibawa pergi untuk dipakai berbuat jahat."
Orang tua di pinggir tempat tidur terkesiap mendengar ucapan si nenek.
"Orang jahat menggandakan tubuh dan rohmu? Demi Dewa Agung! Baru sekali ini aku mendengar hal seperti yang kau katakan! Itu adalah perbuatan luar biasa keji! Tapi apakah ada orang yang begitu sakti di Bhumi Mataram ini hingga mampu melakukan hal itu? Aku tidak percaya. Atau mungkin..." Gede Kabayana gelengkan
kepala. Lalu bertanya. "Kau sudah tahu siapa pelakunya dan sudah berapa lama hal
itu terjadi?"
"Aku tidak tahu siapa pelakunya. Kejadiannya dua hari lalu." Kembali Gede Kabayana dibuat terkejut. "Baru dua hari dan keadaanmu  sudah sangat sengsara seperti ini!" "Gede Kabayana...."
"Sudah, kau jangan terlalu banyak bicara dulu. Aku akan menolongmu sebisaku. Jika kau sudah sembuh kita sama-sama mencari siapa pelaku keji itu!"
"Kau sahabatku paling baik. Tapi sebelum kau melakukan sesuatu aku ingin bertanya dulu. Sekian belas tahun kita tidak pernah bertemu. Langkah peruntungan apa yang membawa dirimu terpesat ke lembah tempat kediamanku ini?"
"Sebenarnya aku datang membawa kabar baik. Tapi dalam keadaanmu seperti ini apakah kabar itu masih bisa mendatangkan kegembiraan pada dirimu..."
"Sebelumnya aku pasrah menerima kematian. Sekarang biarlah rasa gembira mungkin menunda kematianku beberapa kejapan mata. Katakan, kabar apa yang hendak kau sampaikan."
"Jauh-jauh aku tinggal di Klungkung. Tiga purnama yang silam aku datang ke tanah Jawa. Dari seorang sahabat aku berhasil mencari tahu dimana selama ini Sedayu Galiwardhana bersembunyi mengasingkan diri. Orang  cari, dia tinggal dan bertapa di salah satu lereng Gunung Merbabu."
Wajah pucat si nenek berubah bercahaya sekilas. Namun sesaat kemudian wajah itu tampak redup dan letih seperti menahan beban yang sangat berat. Mulut yang tadi terbuka perlahan-lahan mengatup  seolah-olah sengaja dikancingkan, pertanda
dia tidak mau bicara lagi.
"Sikaparwathi, apakah kau masih mendengarkan kata-kataku?" bertanya Gede Kabayana.
"Aku tidak ingin membicarakan orang itu..."
"Aaahhh..." Gede Kabayana hela nafas dalam. "Menggantang dendam asmara dalam
keadaanmu seperti ini sangat tidak baik, Sika..."
"Aku insan polos. Aku tidak pernah menaruh benci apalagi dendam terhadap siapapun. Dendam asmara katamu..." Secuil senyum hampa menyeruak di bibir yang kering. "Gede Kabayana, aku punya firasat buruk. Saat ini Sedayu Galiwardhana sudah tidak ada lagi..."
"Maksudmu Sika?"
"Dia sudah mati. Mungkin sekali dibunuh oleh manusia jahat yang meminjam tubuh dan rohku."
"Dewa Agung! Aku tidak berani berpikir sampai ke situ. Sikaparwathi, kau sakit tapi pikiranmu tidak kacau?" Gede Kabayana usap kening Sri Sikaparwathi. Terasa panas.
"Dewa Agung memberi petunjuk padaku tadi malam melalui mimpi."
"Sika, kau orang cerdik orang pandai. Jangan percaya pada mimpi."
"Aku juga punya dugaan kalau kura-kura hijau peliharaanku Raden Cahyo Kumolo juga telah di gandakan secara gaib.  Dikendalikan untuk berbuat kejahatan. Sudah dua hari aku tidak melihatnya. Aku tidak tahu dimana ujud asli kura-kura itu berada. Entah masih hidup atau sudah menemui ajal."
"Sikaparwathi, aku sahabatmu. Aku akan..."
Si nenek potong ucapan Gede Kabayana. "Sahabatku Gede Kabayana, kalau apa yang hendak kau sampaikan sudah semua, tinggalkan tempat ini. Biarkan aku sendirian. Aku ingin menghadap Para Dewa di Swargaloka dengan tenang dan sendirian..."
"Tidak bisa! Aku memohon dengan sejuta doa pada Para Dewa agar kau disembuhkan!"
Gede Kabayana pegang tasbih kayu cendana dengan tangan kiri.Ujung dua jari tangan kanan lalu ditekankan ke batok kepala pada arah ubun-ubun Sikaparwathi, pelipis kiri kanan, pertengahan dada lalu pada dua telapak kaki. Setiap dua ujung jari itu menyentuh bagian tubuh yang ditekan maka mengepul asap kelabu menebar harumnya bau kayu cendana.
"Tidurlah sahabatku, tidurlah. Para Dewa akan menolongmu. Para Dewa menyayangimu. Para Dewa akan menyembuhkanmu!"
Selesai kata-kata itu diucapkan Gede Kabayana maka sepasang mata Sri Sikaparwathi yang sejak tadi nyalang nyaris tak berkesip kini merapat terpejam. Nenek ini benar-benar memasuki alam tidur.
***
BEGITU sepasang mata Sri Sikaparwathi terpejam Gede Kabayana segera duduk bersila di lantai rumah bambu dalam sikap siap untuk melakukan samadi. Memohon petunjuk dari Yang Kuasa. Hanya sesaat setelah orang tua ini memulai samadinya, di luar udara tiba-tiba berubah gelap. Guntur menggelegar, kilat menyambung seolah hendak membelah langit. Tak lama kemudian hujan lebat turun mengguyur kawasan lembah. Pada saat itulah ketika udara dingin merambas masuk ke dalam rumah bambu, ketika deru hujan dan tiupan angin kencang menutup pendengaran, sesosok mahluk aneh
muncul dalam keadaan basah kuyup di ambang pintu rumah bambu. Saat itu juga udara di tempat itu dilanda bau luar biasa busuk. Mahluk yang datang bertubuh manusia utuh mengenakan pakaian biru ringkas. Namun mahluk ini tidak memiliki kepala sama sekati. Bahunya tertutup kelopak lebar berbentuk bunga besar berwarna kuning berbintik coklat. Dari bunga inilah keluar dan menebar bau busuk seperti busuknya bangkai. Pada bagian yang seharusnya ada kepala hanya terdapat satu kuncup hijau setinggi tiga jengkal. Di tangan kiri mahluk ini mengepit sebuah benda hijau yang ternyata adalah seekor kura-kura. Dengan hati-hati mahluk busuk
berkepala bunga berbau bangkai ini letakan  kura-kura hijau di samping sosok Sri Sikaparwathi yang terbaring nyenyak di atas tempat tidur bambu. Sambil mengusap
punggung kura-kura hijau mahluk ini anehnya bisa mengeluarkan suara seperti manusia.
"Yang Kuasa telah menyelamatkan dirimu. Walau tubuh gandamu pernah hancur lulu di tangan pertapa Sedayu Galiwardhana namun ujud aslimu tiada menerima cidera. Karena kau tidak menyandang dosa maka Para Dewa mempertemukan diriku denganmu. Aku membawamu ke tempat ini. Tidurlah bersama nenek pengasuhmu. Bila kelak kalian terbangun, carilah kebenaran. Mudah-mudahan amal kecilku ini akan memberi kemudahan bagiku untuk menemukan orang yang aku cari..."
Entah dari mana datangnya, lalat mulai muncul di tempat itu, hinggap di atas kepala mahluk aneh yang merupakan sumber bau busuknya bangkai. Perlahan-lahan bunga kuning berbintik coklat dan berkuncup hijau di atas bahu mahluk aneh
berputar ke arah Gede Kabayana. Lalu kembali terdengar suaranya berkata.
"Orang tua, aku tidak ingin mengganggu samadimu walau aku punya firasat, kau adalah salah seorang yang bisa memberi petunjuk dimana dan siapa adanya orang yang aku cari. Aku harus pergi. Yang Maha kuasa memberkahi kita semua..."
Mahluk aneh memutar tubuh. Sesaat  kemudian sosoknya telah melesat keluar pintu rumah bambu, melayang laksana terbang dibawah curahan hujan lebat dan lenyap dari pemandangan.
***
DUA
SRI MAHARAJA KE DELAPAN
DIRIWAYATKAN dalam kisah terdahulu berjudul" Arwah Candi Miring" bagaimana Sri sikaparwathi palsu jejadian bersama kura-kura hijau Raden Cahyo Kumolo yang juga mahluk yang digandakan untuk kesekian kali dan berada di bawah kendalinya,
berusaha menyusup masuk ke dalam Sumur Api untuk menculik Ananthawuri yang tengah mengandung besar. Bila mana dia berhasil menculik anak perawan desa Sorogedug yang hamil secara gaib maka berarti dia akan dapat menguasai dua orang bayi yang akan dilahirkan dan diramal bakal menjadi dua Kesatria sakti mandraguna di Bhumi Mataram. Namun di sebuah lobang batu yang menuju ke dasar Sumur Api mereka di hadang oleh Naga Akhirat Raden Culo Dua. Walau si nenek dan kura-kuranya berhasil menyelamatkan diri namun mereka terlempar keluar dari sumur gaib dan terdampar di satu rimba belantara. Sambil duduk menjelepok di tanah dan bersandar pada sebatang pohon dalam kecewa sakit hatinya, Sri Sikaparwathi jejadian mengusap-usap kura-kura hijau yang  bertengger di atas kepala.
"Raden, kita masih belum beruntung. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kita pasti akan mendapatkan dua bayi itu. Suara tangisan bayi yang aku dengar di dasar Sumur Api adalah suara tipuan untuk memecah perhatian dan memperlambat gerakan kita. Aku yakin anak perawan desa itu masih belum melahirkan. Kita akan mencari jalan untuk mendapatkannya. Dua bayi itu harus kita dapati!"
Kura-kura hijau di atas kepala si nenek gerak-gerakan kepala beberapa kali seolah mengerti apa yang dikatakan sang tuan. Tiba-tiba dari atas pohon besar meluncur seekor tikus hutan berwarna hitam pekat. Sri Sikaparwathi baru tahu kehadiran binatang itu ketika si tikus telah masuk ke balik jubah, merayap di dada, turun ke perut, terus turun lagi ke bagian terlarang diantara dua pangkal kaki dan mendekam di sana tidak bergerak-gerak. Pekik si nenek bukan olah-olah. Tubuhnya terlompat sampai kepalanya menghantam cabang pohon sementara kura-kura di atas kepala saking kaget terpental jatuh ke tanah.
"Celaka! Celaka diriku!” Sri Sikaparwathi berteriak berulang kali sambil menjingkrak-jingkrak kalang kabut.Tapi tikus nakal masih saja mendekam di tempat semula. Tidak sabar dan tidak tahan rasa geli serta jijik, nenek ini singsingkan jubahnya tinggi-tinggi. Tangan  kanan diturunkan lalu disusupkan ke atas. Sekail diremas tikus pohon mencicit keras lalu mati dengan tubuh hancur luluh. Si nenek kibas-kibaskan tangan kanannya yang bergelimang darah. Sekujur tubuh merinding. Muka pucat pasi seperti tidak berdarah lagi. Bersamaan dengan itu perlahan-lahan tubuhnya menjadi lemas. Ada satu hal yang membuatnya sangat takut.
"Tubuhku terasa lemas. Aku seperti tidak punya tulang belulang. Aku tidak punya kekuatan, tiada daya. Mungkin kesaktianku juga sudah lenyap...Binatang celaka itu!"
Sementara itu kura-kura hijau yang tadi terlempar dari atas kepalanya kini mendakam tak bergerak di akar pohon. Binatang ini juga tampak lemas tiada daya, nyaris tidak mampu bergerak. Dalam keadaan 

Hal 18-19 Hilang

agaknya binatang ini juga telah kehilangan kekuatan dan kesaktian!
Tidak lagi mempedulikan kura-kura hijau itu, si nenek memutuskan untuk kabur seorang diri. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, didahului satu lengking jeritan keras dua tangan di kembang.
"Yang di bumi naik ke langit! Yang di langit turun ke bumi!" Sri Sikaparwathi berteriak. Sri Maharaja Ke Delapan!Tolong diriku!"
Saat itu juga terjadilah satu hal  yang hebat!
Dari langit satu benda memancarkan cahaya tiga warna melesat ke arah Sri Sikaparwathi. Di saat yang sama tubuh si nenek melesat ke udara seolah ada yang
menarik.
"Mahlukjahat! Kau mau lari kemana?
Riwayatmu cukup sampai disini!"
"Braakkk!"
Kepala botak bertanduk yang ada di tanah melesat ke atas di susul sosok besar mengenakan jubah biru. Dada tersingkap dan dua tangan tertutup bulu lebat. Begitu tinggi dan besarnya mahluk ini hingga kepalanya hampir mencapai pucuk pohon besar yang ada di sebelahnya. Sekali tangan kanan yang besar bergerak, leher Sikaparwathi sudah berada dalam cengkeramannya.
"Lepaskan! Jangan!" teriak
Sikaparwathi berusaha
keras loloskan diri namun tidak punya
kemampuan. "Arwah Ketua! Aku tidak punya
silang sengketa denganmu! Mengapa hendak
membunuhku?"
Mahluk raksasa bertanduk merah
menyeringai. Dia ternyata adalah Arwah
Ketua dari Candi Miring di bukit gersang!
"Berapa manusia tidak berdosa yang
telah kau bunuh sejak kau muncul sebagai
mahlukjahat!"
"Mereka tidak ada sangkut paut dengan
dirimu!"
"Bisa saja kau berkata begitu.Tapi 
mereka adalah orang-orang Bhumi Mataram
yang telah berbakti pada Kerajaan. Mereka
adalah orang-orang yang punya kewajiban
untuk menjaga dan melindungi masa depan
Kerajaan. Sebaliknya kau malah hendak
menghancurkan Kerajaan!" Arwah Ketua
keluarkan suara menggembor, meniup ke
depan hingga Sri Sikaparwathi merasa
sepasang matanya luar biasa perih laksana
disayat-sayat. Dalam kesakitan si nenek
mengancam.
"Kalau kau tidak melepaskan diriku
maka Sri Maharaja Ke Delapan akan melumat
tubuhmu!"
Arwah Ketua tertawa tergelak.
Mendekatnya cahaya tiga warna seolah
memberi kekuatan pada Sri Sikaparwathi. Si
nenek hantamkan pukulan berantai ke arah
dada Arwah Ketua hingga dada berbulu itu
bergoncang keras dan kelihatan bengkak
matang biru pada bagian yang kena dijotos.
Saat itu pula cahaya tiga warna yang
melesat turun dari langit menderu dahsyat,
menyambar ke arah Arwah Ketua. Di atas
pohon terdengar suara berkerincing.
"Bummm!"
"Blaaar!"
Letusan keras menggelegar ketika tiga
cahaya merah menghantam kepala Arwah Ketua
lalu bertebar lenyap di udara. Mahluk
raksasa ini melesat ke tanah sampai
sedalam pinggang. Kepalanya yang botak
pancarkan cahaya benderang menyilaukan
mata. Tanduk merah di atas kepala berpijar 
lalu leleh! Dari mata, telinga hidung dan
mulut mengucur darah. Leher Sikaparwathi
yang tadi dicekal di tangan kanan
terlepas. Begitu lolos nenek ini cepat
ambil langkah seribu.
"Perempuan celaka! Kucabik batang
lehermu!"
Ada suara perempuan berteriak marah
disusul dengan melesatnya satu bayangan
merah disertai suara mengeong keras. Sri
Sikaparwathi menjerit keras. Seekor kucing
merah tahu-tahu telah bergelayutan
dibahunya. Mulut menganga, deretan gigi
panjang runcing menancap dileher, dua kaki
depan siap merobek tubuh.
"Ratu Dhika Gelang Gelang! Tahan
serangan kucingmu! Aku perlu menanyakan
sesuatu pada mahluk celaka ini! Aku tak
apa-apa! Semoga Dewa mengembalikan
keadaanku seperti semula!"
Arwah Ketua yang mukanya bergelimang
darah usapkan tangan kiri ke atas kepala
dan seluruh wajah sambil mulut merapal
doa. Saat itu juga seluruh cidera yang
dialaminya sembuh. Darah bukan saja
berhenti mengucur tapi juga
lenyap.Tandukdi kepala yang tadi leleh
kini kembali mencuat tegak memancarkan
cahaya meran. VVaiau di luar keadaannya
puli! t seperti semuia namun Arwah Ketua
maklum kalau disebelah dalam dia mengalami
luka yang cukup parah. Ini memaksanya
harus segera kembali ke Candi Miring. Maka
Arwah Ketua cepat menggoyang bahu. 
Tubuhnya yang terpendam di tanah sampai
pinggang serta merta melesat keluar. "Pus
Meong Ragil Abang, kembali ke sini!" Kata-
kata itu diucapkan oleh seorang perempuan
muda bertubuh gemuk subur berkulit hitam
yang berdiri di dekat Arwah Ketua. Dia
berkata sambil tepukkan tangan kiri ke
bahu kanan. Pus Meong Ragil Abang si
kucing besar yang siap membeset leher dan
merobektubuh Sri Sikapartwaihi setelah
mengeong keras dengan cepat melompat ke
atas bahu perempuan gemuk. Perempuan ini
mengenakan kemben merah yang bagian depan
belakang dibelah tinggi. Rambut dikonde di
atas kepala, ditancapi sekuntum bunga
mawar merah yang tak pernah layu karena
diberi semacam jelaga. Wajahnya yang
bundar tertutup dandanan tebal mendok.
Pergelangan tangan dan kaki dihiasi gelang
emas diganduli kencingan. Setiap dia
membuat gerakan, empat gelang itu
keluarkan suara berkerincing.
Sambil mematuk rambut ikal disamping
telinganya, si gemuk berdandan mencorong
ini perhatikan wajahnya dalam sebuah
cermin kecil yang dipegang di tangan kiri.
Seperti yang disebut oleh Arwah Ketua
tadi, perempuan muda ini memang adalah
Ratu Dhika Gelang Gelang yang di Bhumi
Mataram juga dikenal dengan julukan Ratu
Meong.
Mendengar ucapan sang tuan, kucing
besar Ragil Abang segera melompat ke bahu
perempuan gemuk itu. Di saat yang sama 
Arwah Ketua cepat jambak rambut Sri
Sikaparwathi hingga nenek ini tidak sempat
melarikan diri.
Setelah membasahi bibirnya yang
diberi pemerah dengan ujung lidah, Ratu
Dhika Gelang Gelang berbisik pada Arwah
Ketua.
"Rakanda Arwah Ketua, mahluk satu ini
luar biasa berbahaya. Mengapa tidak
dihabisi saat ini juga?"
"Aku memang ingin melakukan hal itu.
Tapi barusan dia menyebut sesuatu. Aku
harus menyelidiki sebelum menghabisinya!"
Tangan Arwah Ketua yang menjambak
rambut si nenek diangkat ke atas hingga
muka mereka saling berhadapan.
"Tadi kau berteriak minta tolong pada
seseorang yang kau sebut Sri Maharaja ke
Delapan. Jelaskan siapa orang itu!"
Walau keadaannya sudah babak belur
tapi Sri Sikaparwathi agaknya kembali
timbul keberanian. Sambil sunggingkan
seringai dia berkata.
"Kalau kau mau membuat janji, aku
akan katakan siapa yang kumaksud dengan
Sri Maharaja Ke Delapan."
"Apa pintamu?!" tanya Arwah Ketua.
"Rakanda, jangan sampai tertipu.
Perempuan tua ini liar seperti srigala,
licin seperti belut!" Kata Ratu Dhika
Gelang Gelang mengingatkan.
"Radinda Ratu, aku tidak tolol,"
jawab Arwah Ketua. Dia perkencang jambakan
rambutnya si nenek. Ayo lekas bicara!" 
"Jika kau bersedia melepaskan diriku
dan kura-kura hijau di akar pohon sana,
baru aku akan mengatakan siapa adanya Sri
Maharaja Ke Delapan."
"Hemmm...begitu?" ujar Arwah Ketua.
"Ya, begitu!" jawab Sikaparwathi yang
merasa berada di atas angin.
Arwah Ketua angguk-anggukkan
kepala.Tiba-tiba tangannya yang menjambak
rambut Sri Sikaparwathi disentakan ke
depan, dihantamkan ke kepala botaknya!
"Praakkk!"
Tak ampun lagi kepala si nenek remuk
nyaris rengkah. Begitu jambakan dilepas
sosok Sikaparwathi terbanting di tanah.
Setelah mengepulkan asap kelabu tubuh
hasil pergandaan gaib ini lenyap dari
pemandangan. Di bawah pohon besar kura-
kura hijau menyusup di dekat akar
keluarkan suara mencuit panjang. Sekali
ulurkan kaki, Arwah Ketua injak binatang
itu hingga hancur dan amblas ke dalam
tanah di susul dengan kepulan asap kelabu.
Arwah Ketua berpaling kepada Ratu
Dhika Gelang Gelang.
"Rakadinda Ratu, aku harus segera
kembali ke Candi miring. Waktuku berada di
dunia luar hampir habis. Aku mohon kau
menyelidiki beberapa perkara. Pertama cari
tahu siapa manusianya yang disebut sebagai
Sri Maharaja Ke Delapan oleh perempuan tua
jejadian itu. Kedua mahluk tadi diketahui
berusaha masuk ke dalam Sumur Api untuk
menculik perawan desa pilihan Para Dewa. 
Aku punya kecurigaan ada satu perkara
besar di balik semua perbuatan Sri
Sikaparwathi. Hal ketiga kau melihat
sendiri tadi ada cahaya tiga warna melesat
turun dari langit. Itu adalah ilmu
kesaktian yang belum pernah ada di Bhumi
Mataram.Selidiki siapa pemilikdan
pengendalinya...."
"Oala Rakanda Arwah Ketua. Banyak
sekali pekerjaan yang kau berikan padaku.
Kau sendiri mau melakukan apa?" tanya Ratu
Dhika Gelang Gelang lalu keluarkan kaca
kecil dan bercermin diri sambil merapikan
letak rambut, mengusap pipi yang medok
tebal tertutup bedak merah. Orang lain
sekalipun berkepandaian tinggi tidak akan
berani seenaknya bicara serta bersikap
seperti itu terhadap Arwah Ketua. Tapi
Ratu Gelang Gelang sudah kenal lama dan
sangat dekat bahkan menganggap Arwah Ketua
sebagai kakaknya bicara ceplas ceplos apa
sukanya.
"Seperti aku katakan tadi, aku akan
kembali ke Candi Miring. Bukan untuk
berlepas tangan tapi untuk menyimak apa
yang saat ini terjadi di Bhumi Mataram.
Juga menyimak serta membantu tugasmu. Lalu
yang paling penting adalah mencari tahu
dimana keberadaan Sri Sikaparwathi yang
asli. Selain itu aku perlu memeriksa
keadaan diriku. Hantaman cahaya tiga warna
tadi tidak mustahil mendatangkan cidera
dalam yang saat ini belum kelihatan..."
"Kalau begitu kata Rakanda Arwah 
Ketua aku menurut saja. Satu hal perlu aku
beritahukan kalau Sedayu Galiwardhana,
orang tua sakti yang bertapa di lereng
Gunung Merbabu telah menemui ajal di
tangan Sikaparwathi..."
"Aku sudah tahu. Aku juga tahu kalau
diriku telah digandakan. Syukur para Dewa
telah melindungiku hingga ketika tubuh dan
rohku yang digandakan meninggalkan tubuh
dan roh asli, aku tidak sampai sengsara
menderita sakit. Namun aku kawatir apakah
Sri Sikaparwathi mampu bertahan. Sejak
belasan tahun dia tidak pernah bertemu
dengan Sedayu Galiwardhana, sahabatku itu
selalu dirundung sakit-sakitan..."
Ratu Dhika Gelang Gelang menatap
sekali lagi kedalam cermin lalu bertanya.
"Bagaimana Rakanda, apakah dandananku
sudah rapi?"
Arwah Ketua pencongkan mulut. "Yang
jelas wajahmu lebih cantikdariku.
Ha...ha...ha. Atau sekali-kali kau ingin
bertukar wajah denganku?" Tidak menunggu
jawaban orang Arwah Ketua usap wajahnya
dengan tangan kiri lalu tangan yang sama
diusapkan ke muka Ratu Dhika Gelang
Gelang. Saat itu juga terjadilah keanehan.
Kepala Arwah Ketua kini berada di atas
tubuh Ratu Dhika Gelang Gelang dan kepala
Ratu Dhika Gelang Gelang kini berada
diatas tubuh Arwah Ketua.
Ratu Dhika langsung mengomel banting-
banting kaki. Arwah Ketua sambil tertawa
mengekeh rubah kembali wajahnya dan wajah 
Ratu Dhika Gelang Gelang seperti semula.
"Rakadinda, tidak sepantasnya aku
bercanda seperti ini. Aku pergi
sekarang..."
"Tunggu, sekarang aku yang tak mau
kelupaan bertanya." Kata Ratu Dhika Gelang
Gelang pula.
"Kau mau bertanya apa?"
"Waktu tikus pohon masuk ke balik
pakaian Sri Sikaparwathi, tua bangka itu
kulihat langsung pucat, lemas dan
ketakutan. Dan kau mengatakan dia telah
tertimpa barang pantangan hingga tidak
punya kekuatan dan kesaktian lagi. Yang
aku ingin tahu pantangan apa yang telah
menimpa perempuan tua itu?"
Arwah ketua tertawa lebar.
"Kalau kau memang ingin tahu baik aku
beri tahu. Ilmu kesaktian yang dimiliki
Sri Sikaparwathi akan luntur bilamana ada
mahluk hidup bersentuhan dengan bagian
bawah perutnya..."
"Bagian perut yang mana?" Ratu Dhika
Gelang Gelang ingin lebih jelas.
"Aku tidak akan menyebutkan. Kau
pikir saja sendiri. Kau juga punya!
Ha...ha..ha."
Ratu Dhika Gelang Gelang ikut
tertawa.
"Kalau memang disitu letak kelemahan
dan pantangan si nenek mengapa tidak kau
saja yang menyentuh tempat terlarang itu!
Kau juga mahluk hidup! Malah akan lebih
cepat perempuan itu menemui ajalnya! 
Begitu saja repot! Tapi eh...Jangan-jangan
tadi kau yang merubah diri menjadi tikus
pohon itu!
Hik...hik...hik!"
Tidak tahan diganggu perempuan gemuk
berdandan medok itu Arwah Ketua berkata.
"Aku pergi sekarang." Dia memutar tubuh
tapi tak jadi. Masih ada satu hal yang
terlupa..."
"Ah, dari dulu kau selalu punya sifat
begitu Rakanda." Kata Ratu Dhika Gelang
Gelang sambil simpan cermin kecil. "Apa
lagi yang hendak kau tanya atau kau
sampaikan..."
"Ini menyangkut hubungan pribadi
mu..." "Aku sudah menduga. Maksud Rakanda
hubunganku dengan pemuda ahli perawat
ukiran candi itu bukan? Pemuda bernama
Sebayang Kaligantha."
"Benar sekali Rakadinda. Cari dan
temui dia. Aku tahu dia memiliki sebuah
jimat sakti. Jika yang memegang jimat
orang baik maka jadilah benda itu benda
baik bermanfaat untuk menolong sesama
manusia. Tapi jika berada di tangan orang
jahat, jangankan manusia Bhumi Mataram ini
bisa dibinasakannya!"
"Baik Rakanda Arwah Ketua. Aku akan
mencari pemuda itu..."
"Kau pasti bisa cepat menemukannya.
Bukankah dia kekasihmu? Atau salah aku
menyebut?" Habis berkata begitu Arwah
Ketua tertawa gelak-gelak. Lalu dia
memutar tubuhnya yang besar, siap hendak 
tinggalkan tempat itu tapi lagi-lagi dia
berbalik.
"Pasti ada yang kau lupakan lagi!"
ucap Ratu Dhika Gelang Gelang. "Kau bisa-
bisa membuat kucingku Ragil Abang
terkencing-kencing!"
"Rakadinda, apa kau tahu kalau dua
orang aneh yang aku beri tahu padamu tempo
hari sudah muncul di Bhumi Mataram?"
"Maksud Rakanda si Tambur Bopeng dan
si Suling Burik?"
Arwah Ketua anggukkan kepala.
"Sudah Rakanda. Aku melihat sendiri.
Mereka muncul sewaktu pertapa Sedayu
Galiwardhana tewas di tangan Sri
Sikaparwathi yang menggandakan diri
menjadi Rakanda. Aku menyaksikan sendiri
mereka membuat makam dan mengubur pertapa
malang itu secara aneh. Suling dan tambur
bisa membuat lobang besar di tanah. Ke
dalam lobang itu mereka memasukkan jenazah
pertapa Sedayu Galiwardhana."
"Aku belum dapat meyakini, di pihak
mana kedua orang aneh itu berada.Tapi jika
melihat mereka mau bersusah payah
menguburkan sang pertapa, agaknya mereka
adalah orang baik-baik. Rakadinda, aku
harus pergi sekarang." (Mengenai dua orang
aneh ini bisa dibaca kembali dalam riwayat
sebelumnya berjudul "Arwah Candi Miring")
Tubuh raksasa Arwah Ketua kepulkan
asap putih lalu amblas masuk ke dalam
tanah dan lenyap tanpa bekas.
***
TIGA
MENCARI SANG PENGENDALI
PADA saat mahluk ganda jejadian Sri
Sikaparwathi  dan kura-kura hijau Cahyo
kumolo menemui ajal, rumah panggung yang
terbuat dari bambu bergoyang keras
berderak-derak. Atap dari ijuk terhempas
terulang kali. Dari atas wuwungan bangunan
ini keluar secarik cahaya tiga warna,
melesat ke langit. Di dalam rumah bambu,
atas tempat tidur sosok Sri Sikaparwathi
asli bergoncang hebat dan mengepulkan asap
hitam. Kura-kura hijau yang ada di
sampingnya keluarkan suara menguik
panjang.
Di samping tempat tidur, masih
bersila di lantai dalam keadaan bersamadi,
tubuh Gede Kabayana tampak bergoncang
lebih hebat dari goncangan yang dialami
Sri Sikaparwathi. Hal ini karena dalam
keadaan seperti itu orang tua ini masih
sanggup kerahkan tenaga dalam dan hawa
sakti untuk melndungi diri. Ternyata
kekuatan yang datang dari luar jauh lebih
tinggi dari kekuatan yang dimilikinya.
Ketika pertahanannya jebol, orang tua ini
jatuh terlentang di lantai rumah. Masih
untung dia tidak menderita cidera apa-apa.
Di atas tempat tidur tiba-tiba Sri
Sikaparwathi tersentak bangun dari
tidurnya, bergerak bangkit dan duduk.
Wajahnya yang pucat tampak mulai berdarah.
Sepasang mata cekung memandang 
berkeliling. Kura-kura di atas tempat
tidur ulurkan kepala. Sepasang matanya
tampak merah bersinar.
"Cahyo Kumolo, kau tidak apa-apa?" Si
nenek usap punggung atas kura-kura hijau.
Binatang ini menguik panjang lalu melesat
ke atas dan bertengger di atas kepala Sri
Sikaparwathi.
"Ah, kau juga mendapat kekuatanmu
kembali.Apa yang terjadi. Mengapa tubuhku
bergoncang hebat. Rumah ini seperti mau
roboh..." Memandang ke samping kanan dia
melihat Gede Kabayana tergeletak di
lantai. Dengan cepat si nenek turun dari
tempat tidur. Dia memeriksa tubuh Gede
Kabayana lalu memijatnya di beberapa
tempat. Sesaat kemudian
sahabat dari Klungkung ini siuman dan
duduk di lantai. Seperti si nenek dia juga
heran dan bertanya-tanya dalam hati apa
yang telah terjadi.
"Gede Kabayana, aku berterima kasih
padamu. Pasti kau yang telah menolong
diriku hingga bisa mengalami keadaan
seperti ini. Aku merasa kekuatan diriku
mulai pulih..."
Gede Kabayana gelengkan kepala.
"Tidak bukan aku yang menolongmu. Samadiku
belum rampung. Tiba-tiba ada satu kekuatan
menggoncang bangunan ini.Termasuk
menggoncang diriku dan tubuhmu! Sesuatu
telah terjadi. Bukan disini.Tapi akibatnya
membawa kesembuhan pada dirimu. Juga pada
kura-kura hijau di atas kepalamu. Ini 
pasti kuasa tangan Para Dewa yang telah
melakukan. Aku hanya bisa menduga. Mahluk
ganda yang menyerupai dirimu dan kura-kura
telah menemui kemusnahan..."
"Kau tahu kira-kira siapa yang
rhelakukan?" tanya Sri Sikaparwathi.
"Sulit sekali menduga apa lagi
memastikan. Cuma satu hal sangat aku
kawatirkan. Gagal dengan diri dan binatang
peliharaanmu, orang jahat yang memegang
kendali ilmu kesaktian itu akan mengulangi
perbuatannya. Melakukan lagi atas diri
orang lain. Apa lagi jika maksud tujuannya
belum kesampaian."
"Kita harus mencari tahu siapa orang
jahat itu, apa maksud tujuannya
menggandakan diriku! Aku yakin mahluk
diriku yang digandakan telah dikendalikan
untuk melakukan kejahatan. Mungkin juga
aku telah melakukan pembunuhan..."Tiba-
tiba Sri Sikaparwathi keluarkan suara
tercekat. Mukanya yang tadi mulai berdarah
kini mendadak pucat dan tangan pegang"
dada. Bahunya bergoyang dan nenek ini
mulai terisak-isak lalu menangis keras.
"Ada apa Sika?" tanya Gede Kabayana
sambil mendekat dan pegangi bahu si nenek.
"Aku ingat mimpiku. Aku merasa yakin
kalau diri gandaku telah membunuh Sedayu
Galiwardhana..."
Gede Kabayana jadi ternganga
mendengar ucapan sahabatnya itu. Kuduknya
merinding dingin.
"Sika. Jika kau sudah sembuh betul 
kita akan menyelidiki kejadian ini.
Goncangan aneh membuat samadiku tidak
khusuk. Aku sempat melihat ada cahaya tiga
warna' keluar dari tubuhmu, melesat keluar
rumah melalui atap tanpa atap mengalami
kerusakan atau terbakar. Itu adalah tanda-
tanda ilmu hitam yang jahat luar biasa..."
Sri Sikaparwathi usap air mata di
pipinya yang cekung.
Gede Kabayana, kita harus berterima
kasih dan bersyukur pada Para Dewa. Walau
menderita sakit sengsara selama dua hari
namun Para Dewa masih melindungi dan
menyelamatkan diriku. Mari kita sama-sama
memanjatkan puji syukur serta berdoa bagi
keselamatan masa datang..."
Kedua orang itu lalu pejamkan mata,
menyampaikan rasa terima kasih serta
berdoa pada Para Dewa memohon keselamatan.
Selesai berdoa Gede Kabayana berkata.
"Sika, apakah kau tidak mencium bau
sesuatu di dalam rumah ini?"
Si nenek menatap wajah sahabatnya itu
lalu menghirup udara dalam-dalam. Wajahnya
berubah.
"Aku mencium seperti ada bau busuk
bangkai. Mungkin bau tubuhku." Si nenek
lalu menciumi tubuh dan pakaiannya
sendiri.
"Bukan, ini bukan bau busuk yang bisa
muncul dari dalam rumah.Tapi datang dari
luar rumah." Kata Gede Kabayana pula.
"Berarti ada seseorang atau mahluk
yang masuk ke sini.Tapi kapan?"Tanya Sri 
Sikaparwathi.
"Mungkin sekali ketika kau tengah
tertidur lelap dan aku sedang bersamadi."
"Kurasa rumah ini sudah tidak aman
lagi. Aku harus mencari tempat kediaman
baru." Kata Sri Sikaparwathi. Dia mengusap
punggung kura-kura hijau di atas kepala.
Tak sengaja kemudian tangannya yang habis
mengusap di letakkan di depan hidung. Si
nenek terkejut. "Punggung Cahyo Kumolo!
Bau busuk!"
“Berarti ada satu mahluk busuk
membawanya ke sini..." kata Gede Kabayana.
"Cahyo Kumolo, berikan tanda padaku
kalau memang ada satu mahluk busuk yang
membawamu ke sini."
Kura-kura di atas kepala keluarkan
suara menguik memberi tanda sebagai
jawaban!
"Kau dengar sendiri," kata si nenek
pada sahabatnya.
"Siapa pun mahluk busuk itu aku rasa
dia tidak punya niat jahat. Karena kalau
dia membekal niat jahat kita berdua pasti
sudah dihabisi." Ucap Gede Kabayana.
"Cahyo Kumolo?!" Sikaparwathi
bertanya lagi pada kura-kura sakti
peliharaannya. Binatang itu untuk kedua
kali menguik panjang. Membenarkan ucapan
Gede Kabayana bahwa mahluk busuk yang
membawanya kembali ke rumah tidak punya
niat jahat.
"Berarti ada tambahan tugas. Kita
harus mencari tahu siapa mahluk busuk bau 
bangkai itu." Kata Sri Sikaparwathi pula
lalu melangkah ke pintu.
Gede Kabayana berdiri. Sambil tegak
disamping sahabatnya orang tua ini
berkata.
"Sika, selain datang untuk memberi
tahu mengenai dimana beradanya Sedayu
Galiwardhana, aku juga membawa satu cerita
yang ingin aku tanyakan kebenarannya."
"Cerita apa?"
"Riwayat Sumur Api. Konon dikabarkan
akan terlahir dua orang bayi yang kelak
akan menjadi dua Kesatria sakti andalan
Kerajaan Bhumi Mataram..."
Sri Sikaparwathi palingkan wajah,
menatap Gede Kabayana beberapa lama lalu
berkata.
"Sebelum kau menjelaskan aku tidak
pernah tahu dimana beradanya Sedayu
Galiwardhana, namun aku pernah menyirap
kabar bahwa Sedayu memiliki sebuah benda
yang ada sangkut pautnya dengan Sumur Api.
Mungkinkah dia dibunuh oleh pengendali
mahluk ganda diriku karena benda
tersebut?"
"Gading bersurat. Benda itukah yang
kau maksudkan Sika?"
Si nenek anggukan kepala.
"Gede Kabayana, saat ini aku merasa
sudah cukup kuat. Bagaimana kalau kita
berdua melakukan penyelidikan mulai
sekarang juga?"
"Tidak perlu menunggu barang satu dua
hari? Kulihat wajahmu masih agak pucat." 
Sri Sikaparwathi tertawa.
"Mudah-mudahan Para Dewa kelak akan
memberikan kesembuhan sempurna padaku
dalam perjalanan."
Kedua orang bersahabat itu lalu
tinggalkan rumah panggung di lereng
lembah.
***
EMPAT
HUKUM KUTUKAN ATAS SANG PANGERAN
MAJELIS Keadilan Kerajaan Tarum-
anagara yang terdiri dari sembilan tokoh
penting dalam sidangnya di Kotaraja pada
pagi hari yang mendung itu mengambil kepu-
tusan menjatuhkan hukuman terhadap
Pangeran Nalapraya. Keputusan yang
dituangkan di atas daun lontar bertuiiskan
huruf Palawa dalam bahasa Sansekerta
dibacakan oleh Ketua Mejelis, Resi Siga
Kalamanda.
Dalam keputusan disebutkan bahwa
Pangeran Nalapraya dijatuhi hukuman
pancung di alun-alun Kerajaan karena
terbukti telah melakukan pembunuhan atas
diri Wiramenggala yang juga adalah ayah
kandungnya sendiri dan merupakan Wakil
Patih Kerajaan. Sebagai seorang Pangeran
adalah tidak pantas dia melakukan
perbuatan keji seperti itu. Kepada
terhukum Majelis Keadilan memberikan
kesempatan untuk menyampaikan pembelaan.
Dalam pembelaan Pangeran Nalapraya
mengatakan bahwa dia tidak mengakui telah 
membunuh ayah kandungnya sendiri. Walau
demikian dia menyatakan penyesalan
terjadinya kematian sang ayah. Namun
karena merasa tidak bersalah maka dia
tidak meminta pengampunan.
"Kenyataan memang ada korban yang
menemui kematian yaitu Wiramenggala yang
adalah ayah kandung saya sendiri. Namun
saya mempunyai kesan, Majelis Keadilan
terlalu memaksakan hukuman mati atas diri
saya karena korban adalah Wakil Patih
Kerajaan. Padahal saksi yaitu ibu saya
sendiri telah menjelaskan bahwa korban
bukan menemui ajal karena saya bunuh,
melainkan karena kecelakaan. Selain itu
Majelis Pengadilan tidak meninjau secara
dalam alasan mengapa korban akhirnya
menemui kematian. Sejakdua tahun terakhir
ayah telah berlaku sangat kejam terhadap
Ibu. Ucapan kotor adalah yang sering
dilontarkan korban merupakan makanan
sehari-hari bagi Ibu. Dari hanya sekedar
ucapan kotor
perlakuan korban meningkat menjadi
tindak kekerasan berupa penamparan bahkan
pemukulan. Hai ini terjadi hampir setiap
hari. Majelis Keadilan dan semua orang
yang ada di sini bisa melihat sendiri
keadaan Ibu saya yang hadir di tempat
ini."
Lalu Pangeran Nalapraya menunjuk ke
arah seorang perempuan yang duduk menangis
terisak-isak di sebuah kursi. Wajahnya
sembab bengkak dan ada beberapa luka yang 
masih belum kering.
"Pagi hari satu minggu yang lalu,
korban bukan lagi hanya memukuli ibu tapi
berniat hendak membunuh Ibu dengan sebilah
keris, hanya karena Ibu terlambat
menyiapkan sarapan pagi. Padahal Ibu saat
itu sedang gering, menderita sakit demam
panas. Saya berusaha mencegah namun korban
dengan semena-mena menikam saya..."
Pangeran Nalapraya lalu membuka
lebar-lebar baju birunya di bagian dada.
Pada bagian tubuh itu terlihat jelas luka
bekas tusukan benda tajam sepanjang hampir
setengah jengkal.
"Ketika saya berlumuran darah dan
jatuh terlentang, korban tanpa belas
kasihan sama sekali mendatangi Ibu,
membanting Ibu ke lantai. Selagi Ibu
terkapar tidak berdaya korban bergerak
hendak menusuk ke arah leher. Saya
berusaha menyelamatkan Ibu dengan
menendang korban hingga jatuh terguling.
Pada saat terguling keris yang di pegang
korban sendiri secara tak sengaja menusuk
dada dan menghujam tepat di arah jantung.
Korban akhirnya tewas. Jelas seperti yang
disaksikan sendiri oleh Ibu peristiwa itu
adalah kecelakaan. Namun Majelis Keadilan
menyebutnya sebagai pembunuhan tanpa dapat
mengajukan saksi yang membenarkan tuduhan
tersebut. Karena yang terjadi adalah
kecelakaan maka saya tidak akan mengajukan
pembelaan, juga tidak akan meminta ampun.
Saya di sini hanya menyatakan menyesal 

telah terjadinya peristiwa yang sangat
tidak diharapkan itu. Selanjutnya saya
tidak mengharapkan tanggapan Majelis
Keadilan atas apa yang saya sampaikan ini.
Saya menyatakan siap menerima hukuman
dipancung di alun-alun di depan Istana
sekarang juga! Biarlah ketidak adilan
disaksikan oleh. semua orang di Kerajaan
ini. Dan tangan-tangan mereka yang
berdarah semoga akan dibasuh oleh keadilan
yang datang dari Para Dewa."
Ibu pangeran Nalapraya langsung
menjerit lalu tersandar di tempat duduk
setengah sadar setengah pingsan. Suasana
persidangan menjadi kacau. Orang banyak
yang ada dalam ruangan sidang berteriak-
teriak gaduh. Mereka menghujat, mencaci
maki Majelis Keadilan karena dianggap
telah telah menjatuhkan hukuman semena-
mena. Mereka meminta agar Pangeran
Nalapraya segera dibebaskan.
Sementara gedung sidang menjadi kacau
dan panas, di luar gedung hujan dengan
lebatnya. Deru angin keras tiada henti.
Sesekali kilat menyambar disusul gelegar
suara guntur. Alam seolah ikut meratapi
terjadinya ketidakadilan ini.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba
ruangan sidang diterangi oleh seberkas
cahaya terang yang entah dari mana
datangnya. Cahaya itu menyorot ke arah
sembilan anggota Majelis Keadilan dan
Ketua Majelis Siga Kalamanda. Lalu ada
getaran aneh di lantai, dinding serta 
langit-langit ruangan sidang. Sesaat
kemudian terdengar gema suara yang membuat
banyak orang jadi kecut merinding.
"Selama ini manusia tidak pernah
menerapkan keadilan dengan benar, maka
selama itu pula tangan Para Dewa akan
turun ke bumi. Hukuman pancung atas diri
Pangeran Nalapraya tidak akan menghidupkan
kembali Wakil Patih Kerajaan Wiramenggala.
Malah hanya akan menambah jatuhnya satu
korban lagi. Para Dewa di Swargaloka telah
menetapkan bahwa Pangeran Nalapraya yang
berusia delapan belas tahun hanya pantas
dihukum dengan kutukan selama sepuluh
tahun. Bilamana sebelum masa hukuman kutuk
itu berakhir dia menemukan seorang anak
perawan yang bersedia dinikahinya maka
kutukan akan berakhir. Tiada tuntutan lagi
yang boleh dijatuhkan atas dirinya."
"Roh Agung!" Ada beberapa orang di
dalam ruangan sidang berseru dengan suara
tercekat.
Begitu mendengar suara tanpa
kelihatan ujud orang yang bicara, semua
orang yang ada di ruang sidang tundukkan
kepala. Para anggota Majelis Keadilan
tampak ketakutan. Orang banyak berteriak
dan menunjuk-nunjuk ke arah sepuluh orang
itu. Apa yang terjadi. Sembilan mulut
anggota Majelis Keadilan ditambah sang
Ketua Siga Kalamanda saat itu tampak
pencong ke kiri. Ketika mereka berusaha
bicara yang keluar hanya suara cadel!
Sepuluh orang ini langsung jatuhkan diri 
ke lantai ruangan, tempelkan kening di
lantai berulang kali dan keluarkan ucapan
yang tidak jelas. Agaknya mereka tengah
menyeru Para Dewa mohon pengampunan. Namun
apa yang mereka mohon tidak terjadi malah
orang banyak di ruangan itu terus memaki
dan menyoraki mereka!
Pangeran Nalapraya adalah satu-
satunya orang di ruang sidang yang masih
tetap berdiri tegar. Setelah merunduk
setengah berlutut pemuda gagah ini membuka
mulut dengan suara lembut tapi jelas
sehingga orang mendengar.
"Mahlukyang bicara tanpa kelihatan
ujud. Salam sejahtera untukmu. Tiada
kekuasaan tertinggi selain kuasaNya Para
Dewa. Saya percaya hukum kutuk yang tadi
diucapkan datangnya dari Swargaloka. Saya
ikhlas menerima. Karena itu saya mohon
diberi tahu hukum kutuk apa yang akan
dijatuhkan pada diri saya."
"Pangeran Nalapraya, salam sejahtera
berbalas bagi dirimu. Masuklah ke Hutan
Raja. Saat ini baru saja memasuki musim
penghujan. Kau akan melihat banyak sekali
bunga-bunga mengembang. Carilah bunga
bunga paling besar di dalam Hutan Raja dan
menebar busuknya bau bangkai. Pegang
kuncup hijaunya. Maka seperti itulah ujud
hukuman akan jatuh atas dirimu. Kepalamu
mulai dari leher ke atas akan lenyap dan
berganti menjadi bunga besar berbau
busuknya bangkai! Bilamana kutuk telah
jatuh atas dirimu dan kau telah mengalami 
perubahan, tinggalkan Kerajaan ini,
pergilah ke arah timur hingga akhirnya kau
menemukan sebuah Kerajaan bernama Bhumi
Mataram. Menetaplah di sana sampai Para
Dewa memberi petunjuk lebih lanjut atas
dirimu. Perlu kau ketahui, bilamana Para
Dewa menghendaki, sewaktu-waktu kau
menjalani hukuman, ujud kepalamu bisa
kembali untuk beberapa ketika."
Tidak lagi memperdulikan Majelis
Keadilan, Nalapraya menemui ibunya,
memeluk dan mencium kening perempuan itu
dan berkata "Ibu, maafkan anakmu. Jika
Para Dewa menghendaki kita pasti akan
bertemu."
Sang ibu menjerit keras. Sebelum
jatuh pingsan perempuan ini berteriak.
"Roh Agung. Hyang Jagat Bathara Dewa!
Siapapun yang hadir di tempat ini secara
gaib. Puteraku Nalapraya tidak berdosa!
Aku mohon biar diriku yang menerima hukum
kutukan! Jangan hukum kutukan dijatuhkan
atas dirinya!"
Untuk kedua kalinya perempuan ini
rubuh dan kali ini dia benar-benar
pingsan. Dengan menguatkan hati Pangeran
Nalapraya tinggalkan ruangan sidang.
Setengah berlari dia pergi memasuki Hutan
Raja yang terletak di pinggir selatan
Kotaraja. Beberapa orang mengikuti.
Kebanyakan dari mereka adalah para sahabat
dan tetangga si pemuda. Ketika sampai di
dalam Hutan Raja orang-orang itu tidak
berhasil menemui sang Pangeran. Selain itu 
sebuah bunga besar yang disebut Bunga
Bangkai dan selama ini terlihat tumbuh di
dalam Hutan Raja dekat sebuah kolam, kini
tidak kelihatan lagi. Lenyap tidak
diketahui kemana perginya.
Seekor burung gagak hitam berdiri di
atas sebuah batu besar tak jauh dari
tempat beradanya Bunga Bangkai. Burung ini
tiada henti mematuki batu keras itu hingga
akhirnya berlubang. Dari lubang itu
mengucur keluar air sangat bening. Seolah
air mata yang meratapi nasib peruntungan
malang pemuda bernama Nalapraya.
Sejak hari itu pula Pangeran
Nalapraya tidak pernah terlihat lagi
Di Tarumanegara.
***
LIMA
PERNIKAHAN GAIB
SATU purnama setelah peristiwa
jatuhnya hukum kutukan atas dirinya,
Nalapraya sampai di sebuah desa bernama
Tegal rejo. Karena tidak tahu mau pergi
kemana atau menemui siapa akhirnya pemuda
ini mencari satu tempat yang baik untuk
beristirahat. Nalapraya menemukan sebuah
goa begitu sunyi, juga agaknya jarang
orang mendatangi tempat itu. Ditambah pula
keadaan goa yang bersih dan sejuk serta
tak jauh dari situ ada satu rimba
belantara yang ditumbuhi banyak pohon
bebuahan lalu terdapat pula sebuah telaga
kecil maka pemuda ini memutuskan untuk 
menjadikan goa tersebut sebagai tempat
kediaman sementara hingga dia menemukan
tempat yang lebih baik.
Beberapa hari berada di goa ternyata
Nalapraya merasa kerasan hingga akhirnya
dia menjadikan goa itu sebagai tempat
kediaman selamanya sekaligus menjadi
tempat pertapaan sampai petunjukdari Yang
Maha Kuasa datang.
Memasuki tahun kedua.pertapaannya di
goa Tegalrejo itu, Nalapraya yang
kepalanya masih berujud Bunga Bangkai,
pada suatu malam ketika dia tengah khusuk
bersemedi tiba-tiba ada seberkas cahaya
putih berbentuk bola masuk ke dalam goa
dan turun di atas pangkuannya.
Walau hati bergejolak namun Nalapraya
berusaha bertahan agar tapa samadinya
tidak terhenti. Pada saat itu dia
mendengar suara mengiang di telinganya
kiri kanan.
"Anak perjaka pilihan Para Dewa.
Sudahi tapa samadimu sekarang juga. Buka
dua matamu dan lihat apa yang ada di
pangkuanmu."
Nalapraya coba untuktidak mengambil
perhatian dan tidak mengikuti perintah
suara gaib itu. Namun serta merta sekujur
tubuhnya menjadi panas. Kuncup hijau di
kepalanya mengepulkan asap, bunga kuning
berbintik coklat di atas bahu menciut
mengeriput. Getaran keras menyelimuti
sekujur tubuh. Tidak mampu bertahan
akhirnya si pemuda membuka ke dua matanya. 
"Nalapraya, katakan apa yang kau
lihat berada di pangkuanmu?" Suara
mengiang bertanya.
"Siapa yang bertanya?" Nalapraya
balik bertanya.
"Tidak perlu balik bertanya. Jawab
saja apa yang ditanya."
Si pemuda menatap ke arah pangkuannya
lalu berkata. "Saya melihat cahaya
berbentuk bulat seperti bola."
"Sekarang dengar baik-baik. Cahaya
itu akan menuntunmu ke suatu tempat yang
sangat rahasia. Di tempat ini kau akan
dipertemukan dengan seorang anak perawan
berhati mulia. Di tempat ini kau akan
dinikahkan dengan anak perawan itu. Kau
boleh mengunjunginya sebanyak tujuh kali
berturut-turut dan melakukan sebagai suami
istri. Pada setiap pertemuan Para Dewa
menurunkan berkah padamu hingga ujud
kepalamu kembali ke bentuk asal. Setelah
tujuh kali maka kau tidak akan bertemu
lagi dengan anak perawan itu, kecuali Para
Dewa menghendaki lain. Dari hasil hubungan
kalian kelak istrimu akan melahirkan dua
orang bayi laki-laki. Keduanya akan
menjadi Kesatria sakti mandraguna andalan
Kerajaan Bhumi Mataram. Sekarang
bersiaplah untuk berangkat."
Nalapraya tidak segera bangkit
berdiri tapi keluarkan ucapan.
"Suara gaib, siapapun kau adanya
apakah saya boleh mengajukan pertanyaan?"
"Lakukan cepat. Waktumu tidak banyak" 
"Saya ingin tahu dimana letak tempat
sangat rahasia itu. Apakah tempat itu
memiliki nama?"
"Sayang sekali, Para Dewa tidak akan
memberi tahu nama atau letak tempat yang
kau tanyakan itu."
Nalapraya terdiam sesaat lalu kembali
bertanya.
"Siapakah nama anak perawan yang akan
dinikahkan Dewa dengan saya itu?"
"Hal itupun tidak diperkenankan Para
Dewa untuk kau ketahui." Suara mengiang
berikan jawaban.
"Jika ini benar-benar datang atas
kemauan Para Dewa, maka saya merasa
diperlakukan tidak adil. Saya memilih
meneruskan bertapa di goa ini. Saya harap
siapapun adanya jangan mengganggu diriku
lagi."
"Anak perjaka bernama Nalapraya.
Sadar atau tidak kau telah terikat pada
perjanjian dengan Para Dewa. Kau akan
mendapatkan kesembuhan dari hukum kutukan
bilamana mengikuti apa yang telah
ditetapkan Para Dewa."
"Kalau begitu saya lebih memilih mati
di tempat ini dari pada mengikuti satu
kemauan yang dipaksakan dan sangat tidak
adil. Silahkan Para Dewa mencabut nyawa
saya saat ini juga!" Lalu Nalapraya duduk
bersila, pejamkan mata, dua tangan
dirangkap di atas dada.
"Anak muda, mengapa bersikap bodoh.
Ketidak adilan yang kau katakan itu justru 
mendatangkan rakhmat di masa datang.
Bukankah kau berjanji pada Ibumu akan
menemui perempuan itu. Bagaimana mungkin
kau akan datang padanya dengan ujud
kutukan seperti keadaanmu saat ini?"
"Hukum kutukan ini telah saya terima
dengan pasrah. Mengapa masih ada tindakan
yang saya rasakan sangat tidak adil dan
ingin terus menerus memperalat saya?"
"Nalapraya, justru di dalam ketidak
adilan itu kau kelak akan mendapatkan
keadilan. Bilamana kau tetap menginginkan
kematian maka kelak Bhumi Mataram akan
dilanda kekacauan besar tanpa ada yang
bisa mengendalikan dan memperbaiki."
"Saya orang Tarumanagara. Saya tidak
mempunyai kewajiban apa-apa terhadap Bhumi
Mataram."
"Kau keliru anak muda. Tarumanagara
dan Bhumi Mataram hanyalah sebagian kecil
dari jagat ciptaan Yang Maha Kuasa.
Dimanapun kau berada kau sebenarnya berada
di alam yang sama. Jadi kau
memiliki rasa tanggung jawab serta
bakti yang sama pula. Kita semua adalah
insan yang diciptakan untuk semua dan
semua untuk kita."
Lama Nalapraya dudukterdiam.
Perlahan-lahan dia amudian berdiri. Bola
bercahaya di pangkuannya bergerak naik,
melayang ke arah mulut goa. Tanpa berkata
apa-apa lagi Nalapraya melangkah mengikuti
cahaya bundar itu. Dia tidak menyadari
kalau saat itu dia bukan melangkah biasa 
tapi melesat cepat laksana hembusan angin!
***
MALAM itu di tempat kediamannya di
dasar Sumur Api, yang terletak antara
Prambanan dan Kali Dengkeng, selagi berada
di atas pembaringan antara tertidur dan
jaga Ananthawuri tiba-tiba mencium bau
sangat busuk. Kepalanya langsung pusing
dan perut mual. Anak perawan dari Desa
Sorogedug ini berusaha agar tidak muntah.
Nafasnya mulai terasa lega ketika bau
busuk lenyap dan kini berganti dengan bau
wangi harum semerbak. Saat itu dia
dapatkan diri terbaring bukan di dalam
kamar, namun di alam terbuka. Dari arah
langit kelihatan ada satu cahaya putih,
mendatangi ke arahnya lalu menyelubungi
sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai
ke ujung kaki. Saat itu juga Ananthawuri
merasakan ada kehangatan dalam tubuhnya.
Lalu ada hembusan nafas di permukaan
wajahnya. Si gadis membuka mata lebih
besar. Sesaat kemudian dia baru menyadari
kalau ada satu sosok tubuh di dalam cahaya
putih. Sosoktubuh ini adalah sosok seorang
pemuda berwajah gagah, mengenakan pakaian
serba biru.
"Anak perawan, siapakah namamu?"
Pemuda gagah bertanya.
Ananthawuri membuka mulut hendak
menjawab. Namun tiada suara yang mampu
diucapkannya. Dia hanya bisa mengedipkan
mata dan tersenyum.
"Anak perawan, apakah kau sudah
mengetahui kalau Para Dewa akan menikahkan 
kita?"
Kembali si pemuda berbaju biru yang
bukan lain adalah Nalapraya berkata dan
lagi-lagi Ananthawuri tak kuasa menjawab.
Nalapraya muncul dan dengan kuasa Para
Dewa, muncul dengan kepala utuh
sebagaimana aslinya.
Tiba-tiba ada suara gaib berkata.
"Nalapraya, Para Dewa bukan akan, tapi
baru saja teiah menikahkan kalian secara
gaib. Anak perawan itu sekarang syah
menjadi istrimu. Perlakukan dia sebagai
seorang istri sebagaimana mestinya."
Si pemuda memandang ke langit. Apa
yang dikatakan suara gaib sewaktu di goa
Tegalrejo kini agaknya akan menjadi
kenyataan. Namun dalam diri anak muda
berperilaku baik ini muncul perasaan
bimbang.
"Apakah saya tidak menyalahi aturan
adat dan agama jika saya menggauli anak
perawan ini?"
"Para Dewa telah mengatur semuanya.
Jangan ada perasaan bimbang apa lagi ragu
!” Terdengar jawab suara gaib. "Ini adalah
berkat Para Dewa paling besar untuk dirimu
dan calon istrimu. Kalian berdua telah
menjadi insan-insan terpilih."
Nalapraya menatap wajah cantik
Ananthawuri beberapa ketika lalu bertanya.
"Anak perawan, apakah kau bersedia
dan ikhlas dinikahkan Para Dewa dengan
diriku?"
Jawaban tak terdengar meluncur dari 
mulut Ananthawuri.
"Mulutmu bergerak tapi suaramu sejak
tadi tidak terdengar," kata Nalapraya
pula. "Berikan tanda jika kau suka menikah
denganku. Jika kau ikhlas mau menjadi
istriku."
Ananthawuri tersenyum. Kedipkan mata
lalu anggukkan kepala. Ketika si pemuda
memeluk tubuhnya dia balas merangkul. Dia
telah lama menunggu hal ini terjadi. Sejak
mahluk Roh Agung memberi tahu. Malam itu
terjadilah hubungan suami
istri antara kedua insan tersebut.
Ternyata atas kehendak Para Dewa Nalapraya
tidak cuma datang malam itu. Dia muncul
tujuh malam berturut-turut.
Pada malam ke tujuh Nalapraya berkata
pada Ananthawuri.
"Kekasihku istriku. Atas kehendak
Para Dewa malam ini adalah malam terakhir
aku mengunjungimu. Setelah itu semua
kembali berpulang pada Yang Maha Kuasa.
Mungkin kita akan bertemu lagi, mungkin
juga tidak untuk selama-lamanya. Jika
kelak dari hubungan kita selama tujuh
malam kau mengandung dan melahirkan dua
anak lelaki, pelihara mereka baik-baik.
Berikan nama Mimba Purana pada anak kita
yang bungsu dan Dirga Purana pada putera
kita yang sulung. Berdoalah setiap malam
tiba agar sewaktu-waktu kita bisa
berkumpul kembali. Satu hal perlu aku beri
tahu. Walau kita telah berhubungan dan
kelak kau akan melahirkan, namun menurut 
suara gaib yang sering kudengar, kau akan
tetap merupakan seorang gadis, seorang
anak perawan. Karena Para Dewa telah
memilih dirimu dan menyayangi dirimu."
Mendengar kata-kata Nalapraya,
Ananthawuri kucurkan air mata. Mulutnya
bergerak. Banyak kata-kata yang
diucapkan.Tetapi seperti yang sudah-sudah
suaranya tidak pernah keluar dan
terdengar. Nalapraya memeluk Ananthawuri
erat-erat, mencium pipi dan keningnya
berulang kali. Si gadis kemudian keluarkan
sehelai sapu tangan warna merah muda.
"Brettt!"
Ananthawuri robek sapu tangan itu
tepat di bagian tengah. Potongan pertama
diserahkan pada Nalapraya, potongan kedua
disimpan di balik pakaian hijau yang
dikenakannya.
"Kekasihku, istriku tercinta. Aku
mengerti...aku mengerti apa maksudmu."
Nalapraya mengambil robekan sapu tangan,
menciumnya berulang kali, menyimpan di
balik pakaian lalu dia kembali memeluk
Ananthawuri. Cukup lama kedua insan itu
saling berangkulan dengan saling
mengucurkan air mata sampai akhirnya
Ananthawuri menyadari bahwa saat itu sosok
sang suami tidak ada lagi dalam
pelukannya.
***
SEPERTI yang diriwayatkan dalam kisah
sebelumnya dalam judul "Perawan Sumur Api"
apa yang telah terjadi dengan dirinya
diceritakan Ananthawuri pada Sukantili 
sang ibunda yang juga diam di dasar Sumur
Api. Hanya saja kepada sang ibu anak
perawan ini mengatakan bahwa dia tidak
mengalami secara sungguhan, tapi mengalami
dalam mimpi. Dan semua apa yang terjadi
tidak dituturkan secara lengkap. Karena
bagaimanapun juga si gadis merasa malu.
Hari ke delapan sang pemuda memang
tidak datang lagi. Demikian juga hari-hari
berikutnya. Ananthawuri menunggu dengan
penuh sabar dan penuh harapan. Hingga pada
suatu hari akhirnya anak perawan itu
menemui ibunya, memberi tahu bahwa dia
telah terlambat haid.
"Saya merasa ada kelainan pada tubuh
saya." "Kelainan bagaimana anakku?" tanya
sang Ibu. "Dada saya bu Tadi pagi saya
memperhatikan dan meraba. Dada saya
membesar dan lebih kencang dari biasanya.
Pinggul saya terasa melebar. Ibu, jangan-
jangan saya..."
Sukantili memeluk anaknya. Seminggu
kemudian Sukantili melihat ada kelainan
pada perut anaknya. Sang Ibu tidak bisa
menduga lain. Anak perawannya memang
benar-benar telah mengandung.
"Anakku, kalau bukan kehendak dan
kuasa Yang Maha Kuasa, bagaimana mungkin
hal ini bisa terjadi." Sukantili lalu
memeluk anak gadisnya. Saat itu tiba-tiba
berhembus tiupan angin disertai suara
berdesir seolah-olah ada seorang berjubah
panjang melintas di samping ibu dan anak
itu. Lalu terdengar suara tanpa ujud. 
Dua insan yang tengah bersatu hati 
Di dunia ini tidak ada yang abadi
Namun kehendak Yang Maha Kuasa adalah
pasti 
Ananthawuri, takdir Yang Maha Kuasa
telah terjadi 
Kau hamil tapi dirimu tetap suci
Setelah sembilan bulan sepuluh hari
Kau akan melahirkan
Namun kau tetap sebagai seorang
perawan 
Karena keturunanmu sudah ditetapkan
Menjadi Kesatria Bhumi Mataram
***
ENAM
SEBAYANG KALIGANTHA
TELAH lebih dua hari Ratu Dhika
Gelang Gelang mendatangi hampir seluruh
candi di dalam dan di luar batas Kerajaan
Bhumi Mataram. Namun orang yang dicari
yaitu pemuda kekasihnya yang bernama Se-
bayang Kaligantha tidak kunjung ditemukan.
Dengan perasaan kawatir Ratu Dhika
mendatangi rumah kediaman si pemuda di
sebuah desa kecil di kaki persimpangan
Kali Elo dan Kali Progo. Ternyata rumah si
pemuda kosong.
"Pus Meong Ragil Abang," kata
perempuan gemuk berkulit hitam itu pada
kucing merah peliharaannya. "Aku tidak
tahu lagi kita mau mencari ke mana. Namun
aku kawatir telah terjadi sesuatu dengan
Sebayang Kaligantha. Sekarang aku perlu 
bantuanmu. Pergunakan kemampuan
penciumanmu. Coba kau lacak dimana
keberadaan pemuda itu."
Ratu Dhika lalu masuk kembali ke
dalam rumah. Turunkan kucing besar merah.
Binatang ini mengelilingi bagian dalam
rumah sambil mengendus tiada henti. Lalu
keluar dan melanjutkan mencium jejak-jejak
di tanah yang telah mulai pupus.Tak lama
kemudian didahului suara mengeong panjang
Ragil Abang melompat ke kiri dan
selanjutnya lari ke arah timur.
Mengikuti sekitar sepeminuman teh
ternyata kucing merah lari ke arah hutan
jati yang sudah gersang, terus ke satu
bukit kapur yang jarang didatangi manusia.
Di atas bukit kapur ini ada satu runtuhan
candi. Ragil Abang mengeong keras di depan
tangga candi yang sudah hancur.
"Oala...Pertanda buruk! Pertanda
buruk!" kata Ratu Dhika Gelang Gelang.
Lalu sekali melesat perempuan gemuk ini
melesat melewati tembok candi. Sampai di
bagian dalam candi, Ratu Dhika Gelang
Gelang memekik keras.
Di atas satu gundukan batu rata
terbujur tertelentang sosok seorang
pemuda. Dua mata terpejam. Tubuh yang
sebelumnya kekar berotot tampak lunglai
tiada daya. Jangankan bergerak, bemafaspun
agaknya dilakukan dengan susah payah. Pipi
dan rongga matanya cekung membiru. Karena
hanya mengenakan celana maka di dadanya
yang telanjang terlihat jelas satu robekan 
luka yang masih menganga sepanjang satu
jengkal. Dua kaki dan dua tangan
terpentang diikat dengan rantai besi
sebesar betis. Ujung rantai besi dipendam
ke dalam gundukan batu.
"Sebayang! Jahanam mana yang
menyiksamu seperti ini! Akan kubunuh! Akan
kuhabisi!" Teriak Ratu Dhika Gelang
Gelang.Tangan kanan diangkat ke
atas.Tangan itu serta merta pancarkan
cahaya merah. Begitu dihantamkan empat
kali berturut-turut, empat rantai besi
yang mengikat dua tangan dan dua kaki si
pemuda tak ampun lagi hancur berkeping-
keping.
Ratu Dhika Gelang Gelang cepat
turunkan sosok pemuda dari atas gundukan
batu rata, dibaringkan di lantai candi,
kepala dipangku. Sebelum kembali
mengajukan pertanyaan perempuan ini cepat
kerahkan hawa sakti dan tenaga dalam,
dimasukkan ke dalam tubuh si pemuda
melalui ubun-ubun dan pusar. Dada yang
luka diusap dengan telapaktangan kiri.
Sepasang mata si pemuda terbuka sedikit.
Begitu terbuka dia langsung menjerit.
Wajahnya yang tidak berdarah menunjukkan
rasa takut amat sangat. Ratu
Dhika tepuk-tepuk wajah pemuda itu.
"Sebayang, tenang! Tidak ada yang
perlu kau takutkan. Lihat ini aku. Ratu
Dhika Gelang Gelang, kekasihmu!"
Dua mata membuka lebih lebar. Si
pemuda mengenali. Mulutnya berucap lirih. 
"Ratu, syukur kau datang. Satu hari
saja terlambat pasti aku sudah jadi
mayat..."
"Katakan apa yang terjadi dengan
dirimu. Ada koyakan luka di dadamu.
Seseorang telah mencuri sesuatu dari dalam
tubuhmu!"
"Kau betul Ratu. Lima hari lalu ada
tiga orang muncul di rumahku. Yang dua
hanya sebagai pengiring. Yang satu orang
pelakunya. Aku di bawa ke tempat ini.
Dadaku dirobek. Orang itu mengambil jimat
Mutiara Mahakam dari dalam rongga dadaku."
"Kurang ajar! Kau tahu, kau mengenali
siapa manusianya?!" tanya Ratu Dhika
Gelang Gelang.
"Aku mengenali. Tapi agaknya dia
bukan tokoh yang menjadi otak perbuatan
keji itu. Dia hanya seorang yang disuruh
diperalat..."
"Tidak perduli siapa dia. Yang
penting lekas kau katakan siapa nama orang
itu!"
"Dia orang dari selatan,
Namanya....."
"Bett....bettt!"
Belum sempat Sebayang Kaligantha
menyelesaikan ucapan memberi tahu nama si
penjebol dadal pencuri jimat Mutiara
Mahakam, tiba-tiba dua buah I benda hitam
melesat di udara. Benda pertama cepat I
dihantam Ratu Dhika Gelang Gelang dengan
pukulan tangan kosong tangan kiri hingga
mental dani menancap di dinding lapuk 
candi. Benda kedua tak mampu disingkirkan.
Benda ini dengan telaki menancap tembus ke
dalam tenggorokan Sebayang Kaligantha.
Darah muncrat. Dari mulut si pemuda keluar
suara menggorok pendek lalu kepalanya
terkulai. Mata nyalang tak berkesip.
Tubuhnya mulai dari leher sampai kepala
serta dari leher sampai separuh dada
tampak membiru pertanda ada racun jahat
yang mengidap.
"Ragil Abang! Kejar pembunuh jahanam
itu!" teriak Ratu Dhika Gelang Gelang pada
kucing merah. Dia memeriksa keadaan
Sebayang Kaligantha sebentar. Setelah
memastikan bahwa pemuda itu tidak bernyawa
lagi, perempuan ini menggerung keras.
Puas menangis mayat yang masih hangat
itu dibaringkan di lantai candi. Sepasang
mata yang terbuka disapu dengan tangan
agar tertutup. Setelah lebih dulu menotok
leher Sebayang Kaligantha, Ratu Dhika
mencabut benda yang menancap di
tenggorokan kekasihnya. Ternyata sebuah
besi pipih bulat yang pinggirannya
bergerigi dan berwarna biru karena
dilapisi racun jahat. Ratu Dhika Gelang
Gelang masukkan senjata rahasia itu ke
balik pakaiannya lalu melompat ke arah
melesatnya kucing merah. Setelah mengejar
cukup lama dia tidak mampu menyusul atau
menemui si kucing merah. Ratu Dhika Gelang
Gelang hentikan pengejaran. Dua tangan
diangkat ke atas lalu digoyang-goyang
hingga dua gelang yang digelantungi 
kerincingan mengeluarkan suara keras.
Dengan berbuat begitu perempuan ini
berharap kucingnya akan mendengar dan
datang ke arahnya. Namun sampai dua tangan
terasa letih binatang itu tidak kunjung
muncul.
"Sesuatu telah terjadi dengan Ragil
Abang! Jangan-jangan dia sudah menemui
ajal pula. Dibunuh manusia jahat pembunuh
Sebayang Kaligantha!"
***
DI LANGIT sang surya mulai
menggelincir ke ufuk tenggelamnya di
sebelah barat. Ratu Dhika Gelang Gelang
cemas sekali dan juga jengkel. Sampai saat
itu dia belum mendapatkan jejak si kucing
merah. Apa lagi jejak pembunuh Sebayang
Kaligantha. Apa saja yang menghalangi
jalannya seperti batu, semak belukar
bahkan pohon habis dilabraknya dengan
tendangan hingga mencelat hancur.
Tiba-tiba perempuan yang sebenarnya
adalah puteri ke tiga dari Sri Maharaja
Rakai Pikatan Dyah Saladu yang pernah
memerintah Kerajaan Bhumi Mataram,
hentikan langkah. Kepala diputar,
memandang berkeliling. Dia tidak melihat
sesuatu tapi dia bisa mencium.
"Bau busuk. Busuk bangkai. Apa ada
mayat binatang atau manusia sekitar sini?"
Ratu Dhika berucap seorang diri. Dia
menghirup udara dalam-dalam. Hampir muntah
taktahan oleh bau busuk yang menyengat
memasuki jalan pernafasan sampai di rongga
dadanya. Namun dengan cara begitu dia 
berhasil mengetahui dimana beradanya
sumber bau busuk.
Begitu dia melompat ke balik
serumpunan semak belukar, perempuan ini
berteriak girang.
"Pus Meong Ragil Abang!"Ternyata
kucing merah itu masih hidup. Namun
bersamaan dengan itu Ratu Dhika Gelang
Gelang tersurut mundur sampai tiga
langkah.
***
TUJUH
PEMBUNUH DARI SELATAN
DI DEPAN semak belukar lebat, ber
sandar ke sebuah batu hitam besar duduk
men-jelepok di tanah satu mahluk yang
seumur hidup baru kali itu dilihat Ratu
Dhika Gelang Gelang. Jika manusia mana
kepalanya. Kalau hantu mengapa tubuhnya
utuh seperti seorang manusia? Dan Ragil
Abang si kucing merah duduk jinak di
pangkuan mahluk aneh itu tengah diusap-
usap kepalanya!
Orang yang dudukdi tanah bersandar ke
batu itu mengenakan baju dan celana biru.
Bahu baju sebelah kiri dalam keadaan
robek.Tubuhnya mulai dari leher ke atas
tidak memiliki kepala. Sebagai pengganti
kepala ada sekuntum bunga luar biasa
besar, berwarna kuning berbintikcoklat.
Bunga ini dilapisi lendir. Pada bagian
tengah bunga mencuat kuncup berwarna hijau
setinggi tiga jengkal. Bunga aneh ini 
menebar bau busuknya bangkai yang membuat
Ratu Dhika Gelang Gelang
hampirtidaksanggup menahan muntah.
"Bunga Bangkai...." Ucap Ratu Dhika
Gelang Gelang. Lalu perempuan ini
berteriak. "Ragil Abang! Apa yang kau
perbuat di situ! Lekas kesini!"
Kucing merah di atas pangkuan mahluk
aneh lalu melompat dan lari ke arah Ratu
Dhika Gelang Gelang, langsung naik ke atas
bahunya.
"Pemilik kucing merah telah datang.
Aku gembira. Salam sejahtera untukmu..."
Ratu Dhika Gelang Gelang terbelalak.
Mahluk yang punya kepala berbentuk Bunga
Bangkai itu ternyata bisa bicara!
"Mahluk aneh! Kau ini hantu atau
manusia?!" Membentak Ratu Dhika Gelang
Gelang.
"Aku adalah sebagaimana kau melihat
diriku saat ini," jawab mahluk yang
ditanya yaitu Nalapraya alias Pangeran
Bunga Bangkai.
"Kau apakan kucingku?!"
"Tidak aku apa-apakan. Dia kucing
baik. Aku tadi hanya mengelus-elusnya.
Ternyata kucingmu itu punya kepandaian
tinggi. Tadi dia tengah mengejar
seseorang.
"Seseorang siapa?!" Tanya Ratu Dhika
Gelang Gelang. "Mana orangnya?!"
"Aku tidak tahu siapa orang itu.Tapi
saat ini dia adi atas sana. Sudah-jadi
mayat!" Pangeran Bcnga Bangkai menunjuk ke 
atas pchon besar di belakang fatu Dhika
Gelang Gelang. Ketika perempuan ini
erputar dan mendongak ke atas, dia melihat
seorang tua bsrkumis dan berjanggut putih,
berpakaian serba hitam, tergelimpang
melintang di atas cabang pohon. Ratu Dhika
berpikir-pikir kalau kucingnya yang
membunuh orang itu mengapa korban berada
di atas cabang pohon? Lalu mengapa tidak
ada tanda-tanda luka bekas cakaran atau
gigitan. Pertanyaan selanjutnya, apakah
orang itu yang telah membunuh Sebayang
Kaligantha?
Dari dalam saku pakaiannya mahluk
tanpa kepala berpakaian serba biru
keluarkan sebuah benda. Kejut Ratu Dhika
Gelang Gelang bukan kepalang ketika dia
melihat benda apa yang ada di tangan
mahluk aneh bau bangkai itu. Benda
tersebut adalah benda pipih bulat
bergerigi dan berwarna biru seperti yang
dipergunakan orang untuk membunuh Sebayang
Kaligantha. Untuk memastikan dia tidak
keliru Ratu Dhika Gelang Gelang keluarkan
benda yang disimpannya di balik pakaian,
yang sebelumnya membunuh dan menancap di
leher kekasihnya. Sama!
"Jahanam keparat! Jadi kau
pembunuhnya!" teriak Ratu Dhika Gelang
Gelang. Wuttt! Dia lemparkan besi pipih
bulat bergerigi dan mengandung racun itu
ke arah mahluk berkepala Bunga Bangkai.
"Hyang Bathara Jagat! Tidak ada
permusuhan mengapa kau menyerang dengan 
benda beracun! Siapa yang aku bunuh?!"
Nalapraya berseru sambil cepat melompat ke
samping.
"Kau membunuh Sebayang Kaligantha!"
"Siapa itu Sebayang Kaligantha? Aku
tidak kenal!" teriak Nalapraya.
Saat itu besi bulat bergerigi yang
dilemparkan ke arahnya walau bisa
dielakkan namun masih sempat menyambar
pucuk hijau yang menjadi kepalanya hingga
tergores dan mengepulkan asap, membuat bau
bangkai busuk semakin menjadi-jadi.
"Bagus! Mahluk iblis! Kau punya ilmu
juga rupanya! Keluarkan semua ilmu
kepandaianmu! Kalau kau tidak mampus dalam
tiga jurus lebih baik aku bunuh diri!"
Tangan kanan Ratu Dhika Gelang Gelang
berkelebat ke depan. Bukan untuk
melepaskan pukulan sakti tapi tangan itu
justru berubah panjang. Lima jari yang
kini membentuk cakar besi lancip melesat
ke dada Nalapraya. Siap untuk menjebol
dada dan menghancurkan jantung! Inilah
serangan bernama Cakar Besi Penghancur
Berhala!
"Hai! Apa salahku kau menyerang
seganas mi?!" Kembali Pengeran Bunga
Bangkai berteriak sambil melompat mundur.
Breettt!Tak urung dua ujung jari lancip
yang sudah berubah menyerupai besi hitam
legam masih sempat merobek dada pakaian
birunya.
Melihat serangannya lagi-lagi tidak
mampu mengenai sasaran Ratu Dhika Gelang 
Gelang menjadi Kalap. Didahului teriakan
dahsyat perempuan ini kembali menyerbu.
Dua tangan di pentangkan ke depan. Sepuluh
kerincingan yang tergantung di gelang emas
keluarkan suara nyaring. Bersamaan dengan
itu sepuluh sinar kuning menyambar.
Pada saat itulah tiba-tiba Ragil
Abang si kucing merah yang berada di bahu
kanan Ratu Dhika tegakkan ekor, mengeong
keras lalu melompat dan mendekam di bahu
kiri Nalapraya. Binatang ini kembali
mengeong sambil lidahnya menjilat-jilat
bahu Pangeran Bunga Bangkai.
"Ragil Abang! Apa yang kau lakukan!
Lekas menyingkir atau kau akan mati
sekalian!"Teriak Ratu Dhika dalam
amarahnya yang meledak karena terpaksa
batalkan serangan maut.
"Kucingmu mau menunjukkan bahwa dia
bersahabat dengan diriku. Jika kami
bersahabat maka berarti kau juga adalah
sahabatku!"
"Hantu kesasar! Enak saja kau
bicara!" Hardik Ratu Dhika Gelang Gelang
begitu mendengar kata-kata Nalapraya Namun
kalau tadi dia sangat marah melihat
perbuatan Ragil Abang yang melompat ke
bahu mahluktanpa kepala itu, kini
amarahnya mengendur sedikit dan ini
membuat dia mau berpikir lebih jernih.
"Ragil Abang memang menunjukkan sikap ber-
sahabat dengan mahluk aneh kesasar itu.
Mengapa?" Ratu Dhika ingat pada mayat yang
melintang di cabang pohon. Perempuan ini 
angkat tangan kanannya. Diarahkan pada
mayat di atas pohon. Lalu dia kerahkan
ilmu bernama Selaksa Angin Menghisap Roh.
Begitu tangannya bergerak sedikit maka
mayat 'di atas pohon tertarik keras ke
bawah dan jatuh bergedebukdi tanah. Dengan
cepat Ratu Dhika Gelang Gelang memeriksa
pakaian orang itu. Dalam sebuah kantong
kain berwarna hitam dia menemukan lima
buah besi bulat pipih bergerigi berwarna
biru.
"Kurang ajar!" Rutuk Ratu Dhika.
"Tapi...." Perempuan ini angkat kepala,
memandang melotot pada Nalapraya. "Mahluk
aneh, katakan dengan jujur. Bagaimana kau
juga memiliki benda pembunuh seperti ini?!
Jangan-jangan kau menipuku. Bukan mustahil
kau adalah kawan dari kakek ini!"
"Aku tidak memiliki benda pembunuh
itu. Yang aku keluarkan dan aku
perlihatkan padamu tadi adalah senjata
rahasia yang dipergunakan kakek itu untuk
menyerang kucing milikmu. Ketika aku
berusaha menolong kucingmu, kakek yang aku
tidak kenal itu berbalik menyerangku. Aku
bermaksud hanya melumpuhkannya.Tapi dia
malah semakin ganas. Aku terpaksa
menendangnya hingga mencelat mental ke
atas cabang pohon. Ketika terkapar di atas
cabang sana, sebuah benda jatuh dari balik
pakaiannya. Ternyata senjata rahasia
berbentuk besi bulat biru dan bergerigi
itu. Si kakek menemui kematian diatas
pohon. Mungkin ada isi perutnya yang 
pecah. Aku menyesal, aku merasa berdosa.
Seumur hidup baru hari ini aku membunuh
orang..."
Mendengar ucapan Nalapraya Ratu Dhika
Gelang Gelang tak urung jadi menganga
tercengang. Kucing merah di atas bahu
Nalapraya mengeong panjang lalu melompat
kembali ke bahu tuannya.
"Kalau begitu aku telah kesalahan
mengira," kata Ratu Dhika Gelang Gelang
pula. "Aku tengah mengejar seorang yang
telah membunuh kekasihku dengan senjata
berbentuk besi bulat bergerigi berwarna
biru seperti ini. Aku yakin kakek ini
pelakunya. Apa kau mengenal tua bangka
jahanam ini?" Sambil bertanya sambil
kakinya bergerak menendang. Sosok mayat
yang ditendang mencelat mental dengan
pinggang hancur!
Nalapraya gelengkan kepala.
"Aku harus mengurus jenazah Sebayang
Kaligantha. Tapi ada beberapa hal perlu
aku tanyakan padamu..."
"Soal jenazah kekasihmu itu, kau tak
usah merisaukan. Para Dewa telah
mengurusnya baik-baik."
Ratu Dhika Gelang Gelang kerenyitkan
kening. Sepasang alis mata hitam kereng
mencuat ke atas.
"Enaknya kau berkata begitu..."
"Aku tidak berdusta. Ada serombongan
orang yang kebetulan lewat. Mereka
menemukan jenazah kekasihmu. Mereka turun
tangan membakar jenazah itu..." 
"Aku tidak percaya ucapanmu. Kau
berada di sini. Bagaimana kau bisa tahu.
Apa kau bisa melihat? Matapun kau tak
punya!"
"Sudahlah, nanti kau kembali saja
pergi ke tempat dimana kekasihmu menemui
kematian. Kau akan membuktikan sendiri
apakah aku ini bohong atau bagaimana."
Ratu Dhika Gelang Gelang pandangi
manusia berkepala Bunga Bangkai itu
beberapa lama. Dalam hati dia mulai
menduga-duga. Jangan-jangan mahluk ini
adalah Dewa yang menjelma turun ke bumi.
Maka selanjutnya perempuan ini bicara
hati-hati.
"Sahabatku yang aku tak tahu namanya,
pertanyaan apa yang hendak kau sampaikan
padaku?" Bertanya Nalapraya.
"Seumur hidup baru kali ini aku
melihat-mahluk sepertimu. Tubuh manusia,
bisa bicara tapi kepala berupa Bunga
Bangkai!"
"Aku insan yang malang. Kutukan Dewa
jatuh atas diriku sebagai hukuman."
"Kalau dia dikutuk berarti dia bukan
utusan atau penjelmaan Dewa..." pikir Ratu
Dhika Gelang Gelang. "Hukuman apa? Kenapa
kau sampai dikutuk begini rupa?" Sang Ratu
kemudian bertanya.
"Aku takbisa menceritakan padamu..."
"Kau tinggal sekitar sini?" tanya
Ratu Dhika.
"Di sebuah goa tak jauh dari sini.
Aku tinggal dan bertapa di sana." 
"Kau tengah memperdalam ilmu
kesaktian atau tengah berusaha menebus
dosa agar ujudmu kembali ke bentuk semu
la?"
Nalapraya tidak menjawab.
"Kau punya nama?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu."
"Kau mahluk aneh. Lalu dari mana asal
usulmu?"
"Aku bukan orang Bhumi Mataram. Aku
berasal dari Kerajaan Tarumanagara."
"Kalau begitu agaknya kau tengah
mencari atau ingin mendapatkan sesuatu..."
"Saat ini aku hanya ingin pengampunan
dari Para Dewa. Agar kutukan ku
bisadiakhiri lebih cepat..."
Ratu Dhika Gelang Gelang tertawa.
"Tidak, aku tidak percaya. Kau bertapa
bukan hanya karena itu. Ada satu dorongan
lain yang lebih kuat yang membuat kau
datang jauh-jauh dari Tarumanagara. Kalau
kau mau bersikap jujur padaku mungkin aku
bisa menolong. Bukankah aku harus
berterima kasih padamu karena kau telah
menanam budi menyelamatkan kucing
merahku?"
Pangeran Bunga Bangkai keluarkan
suara tertawa.
"Sahabatku, berbuat baik menanam budi
dengan mengharapkan pamrih bukanlah satu
kebajikan tapi merupnknn kebijakan untuk
mendapatkan sesuatu. Yang Maha Kuasa tidak
suka pada orang-orang seperti itu."
Ratu Dhika Gelang Gelang kembali 
terkesiap mendengar ucapan orang.
Nalapraya kemudian berkata lagi.
"Sahabat, dugaanmu memang benar. Kau
mungkin bisa menolong jika kau ikhlas
melakukan dan bukan aku yang meminta. Aku
tengah mencari seseorang..." Kata
Nalapraya pula.
"Siapa?"
"Aku tengah mencari istriku."
Ratu Dhika Gelang Gelang terkejut.
"Astaganaga! Kau tengah mencari
istrimu katamu? Hik...hik! Tidak sangka
kau punya seorang istri."
"Aku tidak bisa menceritakan
bagaimana kejadiannya aku sampai punya
istri. Semua sudah kehendak danTakdirYang
Maha Kuasa. Semua serba gaib."
"Gaib?!"
Pengeran Bunga Bangkai mengangguk.
"Apakah istrimu minggat atau diculik
orang, atau kabur bersama kekasih
barunya?"
"Tidak satupun dugaanmu yang
benar..." 
"Lalu?"
"Kami berpisah setelah berkumpul
selama satu minggu. Di satu tempat yang
aku tidak tahu dimana..."
"Ceritamu semakin aneh. Bagaimana
ciri-ciri istrimu? Apakah dia juga
sepertimu. Berkepala bunga busuk begini
rupa?"
"Istriku manusia biasa sepertimu.
Tingginya hampir sama denganmu. Tapi 
kulitnya putih bersih tidak hitam
sepertimu. Wajahnya cantik, tidak diberi
dandanan mencolok sepertimu. Rambut hitam
sepinggang..."
Ratu Dhika tersenyum.
"Di Bhumi Mataram ini ada puluhan
perempuan seperti itu..."
"Itulah yang menyulitkan diriku dalam
mencarinya. Apa lagi aku juga tidak tahu
namanya."
Dua bola mata Ratu Dhika Gelang
Gelang terbeliak. "Kau bercanda!"
Nalapraya alias Pangeran Bunga
Bangkai gelengkan kepala.
"Apa katamu? Mana ada orang tidak
tahu nama istrinya sendiri! Kucingku saja
punya nama."
"Aku yakin istriku punya nama. Tapi
aku tidak pernah tahu siapa namanya."
Dari pucuk hijau di atas tubuh
Nalapraya terdengar tarikan nafas panjang.
"Sebelum berpisah istriku memberikan
sehelai sapu tangan yang dipotong dua.
Satu potongan diberikan padaku, satu
potongan lagi ada padanya." Dari balik
pakaiannya Pangeran Bunga Bangkai kemudian
keluarkan robekan sapu tangan merah muda
yang diberikan Ananthawuri pada malam
terakhir sebelum mereka berpisah lalu
diserahkan pada Ratu Dhika. Perempuan ini
ambil potongan sapu tangan yang diberikan,
diperhatikan dan dibolak balik lalu
berkata.
"Sahabatku malang yang kehilangan 
istri. Aku tidak tahu.Tapi orang atau
perempuan yang memiliki sapu tangan merah
muda seperti ini sangat banyak di Bhumi
Mataram. Aku sendiri punya lebih dan satu!
Lalu dari balik kemben merah yang
dikenakannya dia keluarkan lima helai sapu
tangan merah muda!
Setelah memasukkan lima sapu tangan
ke balik pakaian, Ratu Dhika kembali
meneliti potongan sapu tangan merah muda.
"Di sini sama sekali tidak ada
sulaman atau tanda-tanda lain yang
menyatakan siapa pemiliknya. Kurasa sangat
sulit menjajagi dan mencari istrimu
melalui potongan sapu tangan merah muda
ini."
"Cobalah kau cium. Mungkin kau bisa
mendapat petunjuk," kata Nalapraya pula.
Ratu Dhika tempelkan sapu tangan
merah muda ke hidungnya lalu menghirup
dalam-dalam. Dia mencium harum bunga
melati.
"Aku mencium bau bunga melati. Segar
sekali," kata Ratu Dhika kemudian. "Sudah
berapa lama sapu tangan ini kau simpan?"
"Lebih dari delapan purnama."
"Adalah aneh kalau bau bunga yang ada
masih melekat."
"Tubuh istriku seperti itu. Wangi
seharum bunga melati." Memberi tahu
Nalapraya.
Ratu Dhika tatap mahluk tanpa kepala
itu dengan pandangan sayu sedih kemudian
berkata. 

"Aku akan berbuat sebisaku. Mudah-
mudahan aku bisa menolong."
"Terima kasih. Lakukanlah dengan
ikhlas. Sesuatu yang dilakukan dengan
ikhlas merupakan sebagian ibadah dan sudah
merupakan sebagian keberhasilan."
"Ya...ya..." jawab Ratu Dhika
beruiang ulang sambil anggukkan kepala dan
penuh kagum atas ucapan orang. Lalu dia
bertanya. "Kau mau kemana sekarang?"
"Aku akan kembali ke pertapaan di
Tegalrejo." "Ada lagi yang mungkin akan
kau sampaikan padaku?"
"Rasanya tidakada.Tapi....Memang ada
satu hal. Istriku itu. Konon dia tengah
mengandung. Mungkin akan segera
melahirkan."
"Oala.....Dewa Maha Agung." Ucap Ratu
Dhika Gelang Gelang sambi tampungkan dua
tangan ke atas dan mulut berkomat kamit
seperti tengah memanjatkan doa. Ketika
perempuan ini angkat kepala, sosok
Pangeran Bunga Bangkai tak ada lagi di
hadapannya.
"Hyang Jagat Batara." Ucap Ratu
Dhika." Mahluk seperti itu bisa punya
istri. Dan sang istri mau melahirkan.
Hyang Jagat Dewa! Bagaimana kelak ujud
bayi itu? Yang Maha Kuasa Dewa berbuat se-
kehendakNya. Wahai Para Dewa. Aku
tidaktahu siapa sebenarnya mahluk tadi.
Tapi aku mohon pada Para Dewa, kasihani
dia dan tolong dia." Lalu sambil mengusap
Ragil Abang dia tinggalkan pula tempat Itu 
menuju bukit kapur dimana terletak
bangunan candi runtuh tempat Sebayang
Kaligantha menemui ajal dibunuh dengan
senjata rahasia beracun.
***
DELAPAN
SANG RATU DAN SANG PENGERAN
TAK LAMA setelah Ratu Dhika Gelang
Gelang meninggalkan candi runtuh di bukit
kapur serombongan pemuda yang berburu rusa
dan kelinci di hutan jati sampai di candi
itu. Mereka yang berjumlah delapan orang
ini bermaksud istirahat sebelum kembali
pulang setelah mendapatkan hasil buruan
berupa tiga ekor rusa dan hampir selusin
kelinci.
Begitu masuk ke dalam candi kaget
para pemburu muda ini bukan alang
kepalang. Di lantai candi mereka melihat
sesosoktubuh terbujur dengan leher koyak
dan sebagian tubuh bergelimang darah.
Beberapa di antara pemuda itu lebih kaget
lagi karena mengenali, sosok yang sudah
jadi mayat itu bukan lain adalah Sebayang
Kaligantha sahabat mereka.
Para pemuda itu lalu berunding, apa
yang akan mereka lakukan dengan jenazah
Sebayang Kaligantha. Jika dibawa pulang
kerumahnya di desa dekat Kaliprogo
perjalanan cukup jauh. Selain itu Sebayang
Kaligantha adalah pemuda yang hidup
sebatang kara, tidak punya orang tua
ataupun saudara dan sanak keluarga. 
Akhirnya diputuskan untuk membakar jenazah
Sebayang Kaligantha. Apa lagi diantara
mereka ada seorang yang cukup punya
pengetahuan di bidang keagamaan hingga
jenazah pemuda itu bisa diurus sesuai
dengan agama yang dianutnya. Maka
dikumpulkanlah kayu bakar sebanyak
mungkin, ditumpukdi pelataran candi.
Hanya sesaat setelah kayu dibakar dan
api mulai berkobartiba-tiba sosok Sebayang
Kaligantha bergerak ke atas. Semua orang
yang ada di tempat itu bukan saja menjadi
kaget tapi juga ketakutan. Mereka yang
tengah membaca doa, berucap terbata-bata
akhirnya tak sanggup lagi melanjutkan doa.
Ketika jenazah yang naik ke atas
berada sekitar dua jengkal dari atas
tumpukan kayu api yang menyala mendadak
ada cahaya tiga warna memancar keluar dari
tubuh Sebayang Kaligantha. Ketika cahaya
tiga warna itu melesat ke langit, jenazah
Sebayang Kaligantha juga melesat seolah
mengikuti. Di satu ketinggian cahaya tiga
warna lenyap, tubuh Sebayang Kaligantha
menebar seperti meledak lalu berubah
menjadi asap hitam dan akhirnya lenyap
dari pandangan mata semua orang yang ada
di candi!
"Dewa Jagat Bathara! Apa yang
terjadi?!" Seorang pemuda sahabat yang
sangat dekat dengan Sebayang Kaligantha
berseru keras.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan
berteriak. "Aku juga ingin tahu apa yang 
terjadi?!" Lalu terdengar suara
bergemerincing disusul suara kucing
mengeong! Di lain kejap seorang perempuan
gemuk berkulit hitam, mengenakan kemben
merah dan berdandanan seronok berdiri di
hadapan delapan pemuda. Ratu Dhika Gelang
Gelang!
Mengenali siapa yang datang yaitu
perempuan muda berkepandaian tinggi yang
mereka ketahui adalah kekasih Sebayang
Kaligantha delapan pemuda jadi timbul
keberanian lalu menceritakan apa yang
terjadi mulai dari awal sewaktu mereka
menemukan mayat pemuda sahabat mereka itu
dalam keadaan leher hampir putus, tubuh
biru bersimbah darah.
"Aku berada di sini sewaktu Sebayang
menemui ajal. Dibokong seseorang secara
keji.Yang aku ingin tahu apa yang terjadi
setelah kalian menemukan mayatnya." Kata
Ratu Dhika Gelang Gelang pula.
Seorang dari delapan pemuda memberi
penjelasan.
"Kami mengumpulkan kayu api untuk
menyempurnakan jenazah Sebayang menuju
alam baka. Ketika api mulai menyala tiba-
tiba tubuh Sebayang naik ke atas. Lalu
kami lihat ada cahaya tiga warna, hitam,
biru dan merah memancar keluar dari tubuh
Sebayang. Cahaya itu melesat ke langit.
Tubuh Sebayang mengikuti. Di atas sana
tubuh Sebayang seperti meledak. Berubah
menjadi kepulan asap lalu lenyap."
"Cahaya tiga warna. Hitam, merah dan 
biru." Mengulang Ratu Dhika Gelang Gelang.
Dia ingat peristiwa sewaktu bersama Arwah
Ketua diserang cahaya tiga warna dalam
menghadapi Sri Sikaparwathi jejadian. Ratu
Dhika menatap ke langit."Tidak mustahil
Sebayang Kaligantha sudah menjadi korban
penggandaan pula. Mudah-mudahan pemuda itu
masih hidup. Mungkin dalam keadaan
sengsara bahkan bisa saja dalam keadaan
sekarat. Aku harus mencari tahu dimana
tubuh aslinya berada." Lalu Ratu Dhika
ingat pada manusia aneh berkepala Bunga
Bangkai. 
"Jangan-jangan dia manusia
pengendalinya. Bisa juga dia mata-mata
pihak selatan. Aku mendengat kabar orang
selatan telah mempersiapkan satu pasukan
besar untuk menyerbu Bhumi Mataram. Apa
yang harus aku lakukan?" Sang Ratu
berpikir sejenak. 
"Aku
harus mencari manusia Bunga Bangkai
itu. Dia memberi keterangan setengah-
setengah. Dia mengatakan kejadian ada
orang yang turun tangan menolong membakar
jenazah Sebayang.Tapi dia tidak mencerita-
kan perihal cahaya tiga warna. Jika
kutanya dia tidak mau memberi keterangan
jelas biar aku bunuh saja!"
Setelah mengucapkan terima kasih pada
delapan pemuda dan meminta mereka agar
segera kembali pulang ke desa Ratu Dhika
Gelang Gelang segera menuju desa Tegal
rejo. Menjelang tengah malam dia sampai di 
lereng bukit dimana terletak goa tempat
kediaman dalam keadaan kosong.Takada
tanda-tanda ada orang yang tinggal di
dalam goa itu. Tidak ada ranjang tidur,
juga tidak ada sepotong perabotanpun. Hal
ini membuat Ratu Dhika Gelang Gelang
merasa bahwa dia benar-benar telah ditipu
orang. Dalam marahnya Ratu Dhika Gelang
Gelang kerahkan tenaga dalam ke tangan
kanan hingga tangan itu berpijar
merah.Tidak bertemu orang yang dicari,
menghancurkan goa itu sudah cukup membuat
hatinya puas.
Tiba-tiba kucing merah di bahu Ratu
Dhika Gelang Gelang merunduk dan mengeong
keras. Gerakan Ratu Dhika agak tersendat
namun akhirnya pukulan sakti di tangan
kanan dilepaskan juga ke dalam gua.
Pukulan bernama Langit Robek Bumi
Terbongkar!
Sinar merah berkiblat.
Di saat yang sama dinding sebelah
dalam goa tiba-tiba bergerak membuka. Dari
balik dinding muncul keluar sosok Pangeran
Bunga Bangkai. Begitu melihat sinar merah
melabrak ke arahnya Pangeran ini berteriak
kaget dan cepat bertindak mundur.
"Sahabat! Mengapa...."
Ucapan Pangeran Bunga Bangkai hanya
sampai di situ karena sinar merah telah
lebih dulu menghantam tubuhnya sebelah
depan. Dia masih sempat melihat ada
selarik sinar putih tipis turun dari atas
atap goa seperti membuat tabir 
perlindungan bagi dirinya. Namun begitu
sinar merah menghantam tak ampun Pangeran
Bunga Bangkai terpental. Bagian dalam goa
hancur berkeping-keping. Ragil Abang
kembali mengeong keras sementara Ratu
Dhika Gelang Gelang terpental keluar dari
goa yang sudah runtuh hancur, jatuh
setengah berlutut dengan sekujur tubuh
bergetar dan muka pucat.
"Apa yang terjadi. Apa yang
sesungguhnya terjadi. Di balik dinding goa
itu ternyata....Dewa Agung, apakah
aku....Tapi aku bersyukur kalau si penipu
jahat itu telah menemui ajal!"
Tiba-tiba ada kilatan cahaya putih
disusul suara bergema.
"Kematian adalah bagian setiap
manusia di dunia fana agar bisa sampai ke
alam baka. Namun kematian manusia tidak
ditentukan oleh manusia lainnya. Rah,
Dhika Gelang Gelang. Kau telah bertindak
diluar batas kewajaran. Kau telah
mencelakai seseorang yang telah menjadi
pilihan Para Dewa untuk ikut menyelamatkan
Bhumi Mataram dari angkara murka...."
"Si..siapa yang bicara?" Ratu Dhika
tergagap] pucat. "Roh Agung?" 
"Ratu Dhika....." 
"Tunggu! Siapa sebenarnya manusia
berkepala Bunga Bangkai itu!"
"Ratu Dhika, kau tidak pantas
memotong ucapanku. Pasang telinga dan
dengarkan baik-baik. Atau kutukan atas
diri orang itu akan berpindah pada 
dirimu!”
Mendengar kata-kata tanpa ujud itu
Ratu Dhika Gelang Gelang kini sadar kalau
dia bukan berhadapan dengan sembarang
mahluk gaib.
"Hyang Jagat Batara Agung, saya yang
hina ini mohon maafmu. Saya mengaku salah.
Telah melepas tangan tanpa menyelidiki
lebih dulu. Saya siap menerima hukuman."
"Sekali ini kesalahanmu diampunkan
Para Dewa. Namun mulai hari ini kau
ditugaskan menjadi penjaga Sumur Api.
Bilamana ada yang sampai menerobos masuk
ke dalam Sumur Api sekalipun seekor semut!
Maka hukuman yang lebih berat akan jatuh
atas dirimu!"
Ratu Dhika Gelang Gelang jatuhkan
diri bersujud ke tanah. Setengah meratap
dia berkata.
"Dewa Jagat Bathara Agung. Saya yang
hina ini mohon ampunMu. Banyak tugas yang
harus saya laksanakan. Saya harus mencari
dimana beradanya Sebayang Kaligantha..."
"Ratu Dhika, bila kau masih terus
berkeras menolak hukuman maka saatnya kau
berubah diri!"
Saat itu juga bagian atas kepala Ratu
Dhika Gelang Gelang berubah menjadi kuncup
hijau sementara bagian di bawah leher
mengembang membentuk kelopak bunga lebar
berlendir berwarna kuning berbintik
coklat. Bersamaan dengan itu tubuhnya
sebelah atas mulai mengeluarkan bau busuk!
Ratu Dhika menjerit keras. 
"Ampun seribu ampun! Wahai Para Dewa
di Swargaloka, saya meratap meminta
keampunan. Saya berjanji akan mematuhi apa
yang telah ditetapkan. Saya akan menjadi
penjaga Sumur Api. Jangankan untuk satu
purnama. Untuk seribu purnamapun akan saya
lakukan!" Ratu Dhika benturkan keningnya
berulang kali ke tanah sampai luka sambil
air mata bercucuran.
"Selama bertugas menjaga Sumur Api
kau tidak diperkenankan meninggalkan
tempat itu lebih dari seratus langkah!
Bilamana Para Dewa berkehendak lain maka
Para Dewa akan memberi keampunan atas
dirimu. Kau harus berangkat menuju Sumur
Api saat ini juga!"
"Akan saya lakukan. Akan saya lakukan
wahai Para Dewa."
Ratu Dhika Gelang Gelang segera
berdiri sambil mengepit Ragil Abang si
kucing merah lalu dengan langkah
terhuyung-huyung, masih menangis terisak
dia tinggalkan tempat itu. Sambil berjalan
tidaklupa dia mengambil kaca lalu
bercermin memperhatikan wajah.
"Ah, mengapa wajahku jadi buruk.
Keningku luka dan benjut! Mengapa hidungku
seperti melebar dan pesek! Mahluk Bunga
Bangkai, apakah kau masih hidup atau sudah
mati karena pukulanku tadi? Mahluk Bunga
Bangkai maafkan diriku! Jika seandainya
kau masih hidup, tolong...tolong temui
diriku di Sumur Api. Aku akan bersujud
minta maaf dan ampunan padamu. Aku tak 
bisa mencari menemuimu. Aku hanya boleh
meninggalkan Sumur Api paling jauh seratus
langkah! Tobat.....!"
Mendadak Ratu Dhika Gelang Gelang
hentikan langkah. Di kejauhan dia
mendengar suara tambur ditabuh dan suara
seruling ditiup.
"Itu pasti dua manusia aneh Si Tambur
Bopeng dan Si Suling Kurus. Ada apa
keduanya berkeliaran di sekitar sini.
Arwah Ketua menyuruh aku mengawasi dua
orang itu. Bagaimana ini?" Setelah
berpikir sebentar akhirnya perempuan ini
memutar langkah, berjalan ke arah suara
tambur dan seruling. Namun baru menindak
tiga langkah tiba-tiba suara mengiang
mendera telinganya.
"Ratu Dhika Gelang Gelang, tugasmu
adalah segera pergi ke Sumur Api. Mengapa
lebih memperdulikan si penabuh tambur dan
si peniup seruling?!"
Ditegur seperti itu Ratu Dhika
menjadi kecut dan cepat-cepat berjalan
kembali ke arah semula. Namun dalam hati
dia mengomel.
"Kalau mahluk gaib sudah terlalu
banyak mencampuri urusan dunia di Bhumi
Mataram ini oala! Lebih baik rasanya aku
berhenti saja jadi orang!"
"Kalau kau memang mau berhenti jadi
orang, mengapa tidak membenturkan kepalamu
ke gunung batu?!" Tiba-tiba ada suara
menyahuti disusul tawa cekikikan.
Ratu Dhika Gelang Gelang tersentak 
kaget. Dia memandang berkeliling.
"Siapa yang barusan bicara? Kalau
manusia masakan bisa mendengar ucapan
hatiku?" Merasakan tengkuknya mendadak
jadi dingin, perempuan ini segera
mempercepat langkahnya.
***
SEMBILAN
TAMBUR BOPENG DAN SULING BURIK
SUARA tambur dan seruling terdengar
semakin santar. Tak lama kemudian
kelihatan dua orang berdiri di depan goa
yang runtuh akibat pukulan Langit Robek
Bumi Terbongkar yang tadi dilepaskan Ratu
Dhika Gelang Gelang. Orang yang memegang
tambur bertubuh gemuk pendek bermuka
bopeng. Kawannya yang meniup seruling
berbadan tinggi kurus, muka penuh bintik-
bintik putih.
Si gemuk bopeng hentikan menabuh
tambur. Dia berpaling pada si kurus burik
yang juga telah berhenti meniup seruling.
"Apakah kita terlambat?" tanya si
gemuk bopeng.
"Jangan-jangan orang yang hendak kita
temui sudah menemui ajal dibawah timbunan
reruntuhan goa."
"Siapa yang punya pekerjaan? Heran,
Bhumi Mataram akhir-akhir ini telah
dijejali banyak orang-orang jahat.Tambur
Bopeng, mari cepat kita periksa. Kalau
benar dia sudah menemui ajal celaka kita.
Celaka Kerajaan ini!" 
"Suling Burik! Yang Kuasa Maha Agung!
Memohon padaNya untuk keselamatan orang
yang kita cari!" Lalu tam..tam..tam. Si
gemuk pendek bermuka bopeng mulai menabuh
tambur kembali. Sahabatnya si Suling Burik
segera pula meniup seruling. Suara
seruling melengking keras dan sesekali
menurun berhiba-hiba. Tabuhan tambur
terkadang keras lalu berubah pelan.
Sementara suling ditiup dan tambur ditabuh
terjadilah hal yang sulit dipercaya. Satu
persatu runtuhan puing-puing yang
bertimbunan di goa bekas kediaman dan
pertapaan Pangeran Bunga Bangkai terangkat
ke atas, melayang ke udara lalu jatuh
menumpuk di lereng pedataran yang menurun.
Ketika tumpukan puing batu telah
terangkat semua, kelihatan satu sosok
berkepala aneh duduk dalam sikap
bersamadi. Sekujur tubuh dari atas sampai
ke bawah tertutup debu reruntuhan goa.
Si Tambur Bopeng tabuh tamburnya
keras-keras lalu berhenti. Mata memandang
melotot ke depan. Disebelahnya Si Suling
Burik tiup serulingnya kuat-kuat lalu
berhenti dan seperti temannya menatap ke
depan. Begitu tabuhan tambur dan tiupan
seruling berhenti, sosok tanpa kepala di
depan sana bergerak. Sekali dia goyangkan
tubuh maka debu beterbangan dan kini lebih
jelas kelihatan sosoknya. Berpakaian biru,
tanpa kepala. Yang ada di bagian kepala
adalah kuncup hijau setinggi tiga jengkal
dan kuntum bunga besar kuning berbintik 
coklat berlendir! Saat itu juga bau busuk
menghampar di tempat itu.
"Kita sudah menemukan! Dia masih
hidup! Terima kasih Dewa! Terima kasih
Yang Maha Kuasa!" Berseru Si Tambur
Bopeng.
"Aku turut bersyukur. Tapi setelah
tertimpa dan tertimbun batu goa yang luar
biasa beratnya, apakah otaknya tidak
cidera dan masih waras?!" Si Suling Burik
keluarkan ucapan.
"Selama dia masih mampu menebar bau
busuk, berarti dia tidak kurang suatu
apa." Jawab Tambur Bopeng.
"Kalau begitu mari kita periksa!"
Sambil menabuh tambur dan meniup seruling
dua orang aneh itu melangkah mendekati
sosok tanpa kepala yang bukan lain adalah
Pangeran Bunga Bangkai alias Nalapraya,
Pangeran Kerajaan Taru-managara yang
tengah menjalani kutukan dari Para
Dewa karena dituduh telah membunuh
ayah kandungnya sendiri.
Mendengar suara tambur dan seruling
sejaktadi serta melihat ada dua orang
mendatangi Nalapraya segera berdiri.
"Salam sejahtera bagimu wahai orang
yang baru keluar dari timbunan reruntuhan
goa. Kami datang untuk satu urusan sangat
penting." Yang berucap adalah Si Tambur
Bopeng.
"Salam berbalas disertai ucapan
terima kasih karena sahabat berdua telah
menolong aku keluar dari timbunan batu 
goa. Apakah aku mengenal sahabat berdua?"
"Dalam hal tolong menolong apakah
harus diutamakan soal kenal atau tidak?
Kami merasa bahagia telah berbuat
kebajikan karena dipercaya Para Dewa untuk
menolong Pangeran."
Nalapraya terkejut karena ada orang
takdi kenalnya mengetahui siapa dirinya.
Menyebut Pangeran. Untuk jelasnya dia
lantas bertanya.
"Puji syukur semoga sahabat berdua
akan mendapat pahala serta rakhmat besar
dari Dewa Agung Yang Maha Kuasa. Sahabat
tadi memanggil saya dengan sebutan
Pangeran. Apakah...."
"Sstttt.... Jangan bicara terlalu
keras." Kata si Suling Burik. "Tanah dan
batu serta pohon di tempat ini mungkin
saja punya telinga. Apakah kami mengada-
ada? Bukankah sahabat seorang Pangeran
muda berasal dari Kerajaan Tarumanagara di
wilayah barat? Bernama Nalapraya?"
Nalapraya tercengang.
"Dari mana sahabat berdua mengetahui
siapa diriku?"
"Orang di Bhumi Mataram ini mungkin
tidak ada yang tahu. Tapi kami sudah tahu
riwayat Pangeran. Malah sejak dua belas
purnama lalu kami telah menunggu
kedatangan Pengeran di Bhumi Mataram ini."
Kembali Pangeran Bunga Bangkai dibuat
tercengang oleh ucapan orang. "Aku sungguh
tertarik. Sahabat berdua sudah tahu siapa
diriku. Sebaliknya aku belum tahu siapa 
kalian."
Si Tambur Bopeng pukul tamburnya
berdentam-dentam lalu membungkuk dan
berkata.
"Aku yang gemuk pendek dan bermuka
bopeng ini biasa dipanggil si Tambur
Bopeng."
Si Tinggi kurus tiup serulingnya
melengking-lengking lalu menjura seraya
berkata. "Aku yang kurus tinggi jelek ini
bernama Suling Burik."
"Nama kalian berdua sungguh
bagus...." Memuji Nalapraya." Sekarang
katakan urusan sangat penting apakah yang
tadi para sahabat maksudkan?"
Si Tambur Bopeng membungkuk. Lalu
menjawab.
"Kami datang sebagai utusan. Untuk
menyampaikan pinangan."
Kali ini Pangeran Bunga Bangkai
benar-benar dibuat tercengang dan ter
kejut. Kalau saja kepala dan wajahnya ada,
pasti akan kelihatan bagaimana raut muka
sang Pangeran.
"Kalian berdua adalah utusan. Untuk
menyampaikan pinangan. Utusan siapa? Lalu
siapa yang hendak kalian pinang? Diriku?!"
Si Suling Burik membungkuk.
"Mengenai kami ini utusan siapa mohon
dimaafkan karena saat ini belum dapat kami
beritahukan. Tapi mengenai siapa yang akan
kami pinang, saat ini juga dapat kami
beritahukan. Yang jelas yang hendak kami
pinang bukan Pangeran." 
"Lalu siapa?" tanya Nalapraya.
"Putera Pangeran," menjawab Tambur
Bopeng.
Kepala aneh Pangeran Bunga Bangkai
menatap ke arah Tambur Bopeng lalu
berputar ke jurusan Suling Burik.
"Kalian ini bicara apa? Aku sama
sekali tidak punya putera. Tidak punya
anak." Lalu Pangeran tanpa kepala ini
keluarkan tawa bergelak.
Si Tambur Bopeng dan Suling Burik
ikutan tertawa.
"Sahabatku Pangeran Nalapraya. Saat
ini Pangeran memang belum punya putera.
Tapi dalam waktu tidak terlalu lama lagi
bukankah Pangeran akan segera memiliki dua
orang bayi laki-laki? Nah kami akan
meminang salah seorang dari putera
Pangeran itu. Putera yang mana nanti baru
ketahuan setelah tujuh tahun berjalan."
Lama Pangeran Bunga Bangkai terdiam.
"Kalian ini siapa? Bagaimana bisa
tahu banyak mengenai riwayat diriku?"
"Pangeran, siapa kami beginilah
ujudnya. Mengenai diri dan riwayat
Pangeran agaknya bukan cuma kami yang tahu
di Bhumi Mataram ini. Namun mengenai
pinangan memang baru kami yang punya niat
baik. Saat ini jika tidak dikatakan
terlalu memaksa dan berlaku lancang,
apakah kami bisa mendapatkan penjelasan
bahwa Pangeran menerima pinangan yang kami
sampaikan?"
"Jika aku menjawab pertanyaan kalian, 
berarti aku sudah gila. Anak saja belum
punya, aku juga tidak tahu siapa yang mau
meminang anakku! Dua sahabat, lebih baik
kita bicara perihal lain. Atau kalau tidak
kalian berdua silahkan meninggalkan tempat
ini. Aku tetap menghormati kalian, ber
terima kasih dan tidak melupakan
pertolongan kalian berdua."
"Kalau Pangeran tidak bersedia
membicarakan soal pinangan itu lebih
lanjut tidak jadi apa. Yang penting
Pangeran sudah tahu bahwa kami telah
mengajukan pinangan. Jadi jangan putera
Pangeran kelak diberikan pada orang lain.
Soal kami diminta pergi, itu hak Pangeran.
Namun ketahuilah mulai saat ini kami telah
menjadi pengawal-pengawal Pangeran. Kemana
Pangeran pergi kesitu kami ikut. Bilamana
nanti putera Pangeran yang kami pinang
telah besar maka kami akan melanjutkan
tugas menjadi pengawalnya."
"Sahabat berdua. Aku hidup dalam
kutukan Para Dewa.Tapi aku percaya Para
Dewa masih melindungi diriku. Karena itu
aku tidak memerlukan pengawalan kalian
berdua..." .
"Kami mengerti, tapi kami berdua
tidak akan beranjak dari tempat ini barang
sejengkalpun. Kami mohon maaf kalau telah
berlaku lancang. Mungkin bisa membuat
Pangeran menjadi jengkel atau marah. Namun
kami hanya menjalankan tugas. Sekalipun
kami berdua dibunuh, kami tidak mungkin
pergi meninggalkan Pangeran." 
"Sahabat berdua. Jika kalian ingin
berbakti, masih banyak orang lain yang
pantas tempat kalian berbakti. Pergilah ke
Kotaraja. Kalian berdua pasti menemukan
pekerjaan yang pantas."
Tambur Bopeng dan Suling Buriktidak
menjawab. Kedua orang ini dudukkan diri di
tanah. Dua tangan disatukan dan dijunjung
di atas kepala. Tubuh tidak bergerak
sedikitpun. Mata dipejam.
Melihat apa yang dilakukan kedua
orang itu Pangeran Bunga Bangkai jadi
berpikir. "Kalau mereka bukan menipuku,
mungkin aku bisa minta bantuan keduanya
untuk mencari istriku..."
"Dua sahabat, bangunlah. Mengapa
menyembah seperti itu. Jika kalian berdua
memang punya niat baik, aku bersedia
membawamu kemana aku pergi."
Mendengar ucapan Pangeran Bunga
Bangkai Tambur Bopeng dan Suling Burik
serta merta buka mata masing-masing lalu
melompat bangun!
"Terimakasih Pangeran, terimakasih."
Tambur Bopeng dan Suling Burik berbarengan
sambi! membungkuk berulang kali.
"Tam...tam...tam!"
Tambur Bopeng pukul tamburnya dengan
tangan kiri.
Suling Burik tidak mau kalah. Dia
segera tiup serulingnya.
Sambil memukul tambur dan meniup
seruling keduanya melangkah memutari
Pangeran Bunga Bangkai. Satu kali dari 

bawah tambur, si Tambur Bopeng keluarkan
gulungan kain putih lalu diberikan pada
Pangeran Nalapraya.
"Pangeran, jika kau bisa melihat kau
pasti bisa
"Apa ini?" tanya Pangeran Bunga
Bangkai.
"Salinan dari tulisan yang ada pada
Empat Gading Bersurat." Jawab Tambur
Bopeng.
"Gading Bersurat?" Pangeran Bunga
Bangkai buka gulungan kain.
"Bacalah, mungkin ada manfaatnya
untuk Pangeran ketahui. Kami berdua yakin
ada hubungannya dengan diri Pangeran..."
Pangeran Bunga Bangkai buka gulungan
kain dimana terdapat serangkai tulisan
cukup panjang dalam huruf Palawa. Dengan
agak berdebar pemuda ini mulai membaca.

Gading Bersurat Pertama
Di masa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala memegang tahta. Di Bhumi Mataram dua anak lelaki akan lahir ke dunia. Terlahir dari seorang Ibu yang pada saat melahirkan berusia tujuh belas tahun. Perempuan yang telah dipilih Para Dewa. Berasal dari sebuah desa kecil di selatan Prambanan. Ibu yang akan tetap perawan sepanjang masa. Kelak dua anak akan menjadi Kesatria mengabdi pada Kerajaan Mataram. Siapa berjodoh akan menangguk rakhmat. Siapa tidak berjodoh jangan menebar umpat dan hujat. Berita disebar ke utara, selatan, timur dan barat. Untuk kemaslahatan seluruh umat.

Gading Bersurat Kedua
Siapa yang bersahabat dengan dua anak  Akan mendapat rakhmat dari Para Dewa Siapa yang menjadi guru serta pelindung dua anak  Akan mendapat rakhmat Para Dewa sepanjang masa Siapa yang bisa menguasai dua anak Akan menguasai Bhumi Mataram  Namun niat jahat akan mendapat balasan  Karenanya tempuhlah selalu jalan yang lurus Jalan yang penuh rakhmat .

Gading Bersurat Ketiga
Jika ingin tahu lama kehamilan Dari perawan desa yang dipilih Para Dewa Menjadi ibu dari bayi Yang kelak akan menjadi Kesatria Mataram  Letakkan gading di atas Sumur Api Ukur bagian gading yang menjadi hitam. Maka akan diketahui lama kehamilan.

Gading Bersurat Ke Empat
Malam bulan purnama empat belas hari Konon itulah saat lahirnya dua bayi Orang baik dan orang jahat. Manusia nyata dan mahluk gaib. Akan berkumpul untuk mendapatkan bayi Sumur Api akan menjadi Sumur Darah Mohon perlindungan hanya pada Yang Maha Kuasa  Semoga Bhumi Mataram terlepas dari bencana.

Setelah membaca tulisan di atas kain
putih, Pangeran Bunga Bangkai merenung
berpikir. Saat itu yang bertahta di
Kerajaan Bhumi Mataram adalah Sri Maharaja
Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Berarti dua
bayi dimaksud akan lahir sekarang ini di
masa pemerintahannya.
Dada Pangeran Bunga Bangkai berdebar,
jantung berdetak kencang dan darah
mengalir cepat. "Dua bayi dilahirkan,
apakah....Jika ini memang ada sangkut paut
dengan diriku seperti yang dikatakan dua
sahabat aneh, berarti yang akan lahir itu
adalah anak-anakku...."
"Dua sahabat, dari mana kalian
dapatkan kain bertulis ini?" Pangeran
Bunga Bangkai bertanya.
"Dari orang yang mengutus kami,"
jawab Tambur Bopeng.
"Kalian masih belum mau memberi tahu
siapa sang pengutus itu?"
Tambur Bopeng menggeleng. Pangeran
Bunga Bangkai putar kepalanya ke arah
Suling Burik. Orang ini gelengkan kepala.
Pangeran Bunga Bangkai kembali
merenung. 
"Malam bulan purnama empat belas
hari. Malam tadi aku lihat di langit bulan
besar muncul belum bulat benar. Baru malam
ke dua belas."
"Dua sahabat, apakah kalian tahu
bagaimana ciri-ciri perawan desa yang
katanya akan melahirkan dua bayi lelaki
itu?"
"Tidak satupun dari kami yang tahu.
Kami tidak pernah melihat." Jawab Tambur
Bopeng.
"Namun pernah ada cerita tentang
lenyapnya seorang perawan desa bersama
ibunya di selatan Prambanan. Hanya sayang
kami juga tidak tahu siapa mereka. Kalau
Pangeran mau menyelidiki kami bisa
mengantar ke desa itu. Agak jauh di arah
timur. Dari penduduk mungkin kita bisa
mencari keterangan." Menjelaskan Suling
Burik.
"Apakah kalian berdua tahu dimana
letak Sumur Api yang tertulis pada kain
putih itu?" Kembali Pangeran Bunga Bangkai
ajukan pertanyaan.
"Kami belum pernah kesana. Tapi kami
tahu dimana kira-kira letaknya. Jika
dicari pasti bertemu." Menjawab Suling
Burik.
"Kalau begitu kita berangkat ke sana
sekarang juga." Kata Pangeran Bunga
Bangkai pula.
***
SEPULUH
MALAM BERDARAH DI SUMUR API
KESUNYIAN mencekam sekitar Sumur Api.
Cahaya api yang membesit keluar dari dasar
sumur tidak mampu menerangi sampai ke
pinggiran rimba belantara hingga bayang-
bayang hitam pekat tampak bertebaran
dimana-mana. Langit yang semalam cerah
malam ini justru tampak redup. Bulan
purnama empat belas hari yang diharapkan
muncul seolah sembunyi dibalik ketebalan
awan.
Sesekali jauh di dalam rimba
terdengar suara raungan anjing hutan,
mengejutkan burung-burung yang hampir
terlelap tidur. Binatang ini kepakkan
sayap lalu menghambur terbang mencari
tempat yang lebih dirasakan aman.
Dalam sebuah kali kecil tak jauh dari
Sumur Api, beberapa orang mendekam dalam
gelap, seolah menyatu dengan tebing kali.
Di atas pohon-pohon besar, hampir tidak
kelihatan, tersamar dalam kegelapan,
mendekam pula beberapa orang yang setiap
saat selalu memandang memperhatikan ke
arah Sumur Api.
Di balik sederetan semak belukar dan
dua gundukan batu juga tampak beberapa
orang bersembunyi, diam tak bergerak
laksana patung. Lalu ketika ada suara
kucing mengeong disertai bunyi
bergemerincing, semua orang yang ada di
tempat itu jadi tercekat. Mata dipentang 
menatap ke arah Sumur Api. Melihat siapa
yang muncul semua jadi terkesiap.
Bagaimana mungkin.Tadi tidak terlihat
orang itu dekat sumur. Kini tahu-tahu dia
sudah berdiri di sana!
"Ratu Meong......" beberapa orang
berucap perlahan, bibir bergetar dada
berdebar.
"Ratu Dhika Gelang Gelang..."Beberapa
orang lain menyebut nama perempuan itu.
Dua orang yang mendekam di tebing
kali saling berbisik.
"Tidak disangka perempuan satu ini
juga punya urusan di Sumur Api. Kita harus
segera bicara dengan teman-teman agar
cepat menyingkirkannya. Kalau tidak urusan
bisa jadi tidak karuan."
"Aku tidak seberapa kawatir dengan
perempuan itu. Yang aku takutkan adalah
kalau sampai mahluk bernama Arwah Ketua
datang ke tempat ini. Terakhir sekali aku
dengar dia memusnahkan mahluk jejadian Sri
Sikaparwathi."
Yang ada di tepi Sumur Api memang
Ratu Dhika Gelang Gelang. Di bahu kirinya
berbaring kucing merah Ragil Abang.
Perempuan berkemben yang dibelah bagian
bawah depan belakang ini berdiri memegang
cermin. Sambi! merapikan dandanan serta
rambutnya dia berkata.
"Ragil Abang, apakah sudah kau hitung
berapa manusia kesasar yang datang ke
tempat ini?!"
Kucing merah di bahu kiri Ratu Dhika 
Gelang Gelang menjawab dengan ngeongan
panjang. Perempuan itu kemudian tertawa
cekikikan.
"Sembilan orang katamu! Hik...hik...
hik! Banyak sekali! Perlu apa malam-malam
mereka ke sini. Malah ada yang datang dari
kemarin pagi! Hik...hik!"
Ratu Dhika melangkah ke dekat Sumur
Api. Dia memandang ke langit hitam gelap
lalu berkata lantang.
"Sembilan mahluk tolol! Kalau kalian
hendak menunggu munculnya bulan purnama
empat belas hari maka itu adalah satu
kesia-siaan! Bulan purnama tidak akan
muncul malam ini! Apapun urusan kalian di
tempat ini datanglah satu bulan lagi
sampai bulan purnama yang akan datang!"
Tak ada yang menjawab. Sembilan orang
yang mendekam di tempat gelap diam membisu
tapi mata menengadah ke langit. Mereka
memang tidak melihat bulan purnama empat
belas hari. Awan gelap masih bertebaran di
langit.
Di atas satu pohon besar seorang tua
berjanggut putih panjang yang mendekam
sambil melilitkan janggutnya ke cabang
pohon berpaling pada seorang nenek kepala
botak beralis rimbun yang duduk manja di
sebelahnya merangkul pinggangnya. Sambil
ciumi kepala botak si nenek dia berbisik.
"Kekasihku Kunti Jenggala, aku tahu
betul di langit sana bulan purnama telah
muncul. Tapi ada seseorang berkepandaian
tinggi mengarak awan hitam menutupi 
rembulan."
"Ametung Warangtilis, Ratu Dhika
Gelang Gelang manusia sungguhan. Kepan-
daian mengarak awan hanya dimiliki oleh
mahluk gaib jejadian atau mahluk alam
roh." Menjawab sang kekasih sambil balas
mengusap janggut si kakek.
"Kau bisa menduga siapa mahluknya?"
tanya kakek bernama Ametung Warangtilis.
"Di Bhumi Mataram hanya satu mahluk
yang bisa melakukan. Siapa lagi kalau
bukan Arwah Ketua, dedengkot raja diraja
mahluk alam kematian! Sejak tadi tidak ada
satu orang tokohpun yang berada di sini
berani jual tampang unjukkan diri. Jika
Ratu Dhika Gelang Gelang melakukan hal itu
maka berarti dia punya seseorang yang
diandalkan. Pasti dia mengandalkan Arwah
Ketua!"
"Lalu apakah kau merasa takut
kekasihku?" Si kakek bertanya lalu
menjilat kepala botak si nenek.
Di dekat Sumur Api Ratu Dhika
goyangkan dua tangannya hingga gelang yang
diganduli kerincingan berbunyi keras.
"Sembilan mahluk yang ada di tempat
ini! Apa kalian manusia sungguhan atau
mahluk jejadian! Dengar apa yang aku
katakan! Aku Ratu Dhika Gelang Gelang,
kerabat Sri Maharaja yang bertahta di
Bhumi Mataram, mempunyai kewenangan untuk
mengatakan bahwa kalian semua tidak ada
kepentingan di tempat ini! Karena itu aku
meminta kalian semua untuk segera pergi! 
Siapa yang berani menolak bangkainya akan
menggeletak di tempat ini atau rohnya akan
berserabutan kelangit!"
Tidak ada suara jawaban. Namun dari
arah kali terdengar suara seperti orang
menggerutu. Ratu Dhika Gelang Gelang
melangkah lebih dekat ke Sumur Api.
Tangan kirinya yang memegang cermin
diletakkan di dekat bibir batu sumur.
Cahaya nyala api di dasar sumur menerangi
cermin. Ketika cermin itu digoyang maka
cahaya merah terang memantul ke depan.
Ratu Dhika membuat gerakan sembilan kali
ke sembilan arah. Setiap gerakan cermin
yang diarahkan jatuh tepat secara
bergantian pada sembilan wajah orang-orang
yang mendekam di tempat gelap.
"Hik...hik...hik. Kau benar Ragil
Abang! Mereka semua berjumlah delapan
orang! Beberapa diantaranyacukup aku
kenal! Biaraku bicara lagi. Aku mulai
dengan yang aku kena! lebih dulu!"
Ratu Dhika Gelang Gelang goyangkan
lagi cerminnya lalu diam tidak digerakkan.
Pantulan cahaya terang nyala api dari
dasar sumur jatuh pada satu wajah seram
yang mendekam di belakang gundukan batu
besar. Orang ini lelaki garang berambut
tebal hitam, memelihara berewok, janggut
dan kumis tebal. Mata kiri berwarna merah,
mata kanan berwarna kuning. Dua gigi di
sudut bibir sebelah atas mencuat
berbentukcaling berwarna merah. Pantulan
cahaya merah dari cermin membuat 
tampangnya tambah menyeramkan.
"KamaraTunggalbisma alias Hantu Mata
Iblis! Kita sudah lama saling kenal. Atas
nama persahabatan aku minta kau menjadi
orang yang pertama untuk segera
meninggalkan kawasan Sumur Api ini.
Syukur-syukur kalau kau mau mengajak
delapan orang lainnya untuk ikut
bersamamu. Kalian tidak akan melihat bulan
purnama malam ini! Apapun urusan dan
kepentingan kalian di tempat ini adalah
satu kesia-siaan!"
Lelaki di balik gundukan batu
menggeram pendek. Lalu meniup ke depan.
Cahaya merah yang sejak tadi menyoroti
wajahnya buyar. Tangan kiri Ratu Dhika
Gelang Gelang yang memegang cermin
bergetar. Perempuan gemuk ini cepat
kerahkan tenaga dalam hingga getaran di
tangannya menjadi lenyap.
Setelah lebih dulu tertawa Ratu Dhika
Gelang Gelang Berkata.
"Aku sangat mengagumi ilmu
kepandaianmu, Kamara Tunggalbisma. Sayang
kalau ilmu meniup langka yang kau miliki
itu lenyap dan dilupakan orang begitu
saja. Aku mohon, tinggalkan tempat ini."
"Ratu Dhika!" Sunra jawaban Kamara
Tunggalbisma menggelegar. "Aku pergi ke
mana aku suka! Aku diam dimana aku senang!
Bhumi Mataram adalah milik semua orang.
Dia boleh berada dimana saja sesuai
kehendaknya, termasuk diriku yang ingin
berada di kawasan Sumur Api ini. Kalau kau 
meminta aku pergi maka kau juga akan aku
minta angkat kaki dari sini."
"Begitu?!" Ratu Dhika Gelang Gelang
berucap sambil menyeringai. Alis kereng
mencuat ke atas. Perempuan ini lalu
tertawa panjang. "Kalau kita memang sama-
sama ingin pergi maka aku persilahkan kau
pergi duluan!"
Ratu Dhika tutup ucapannya dengan
menggerakkan tangan kiri yang sudah
dialiri tenaga dalam tinggi.
"Wusss!"
Dari dalam cermin yang melesat kini
bukan cuma pantulan cahaya nyala api tapi
api sungguhan. Kamara Tunggalbisma
berteriak kaget tak mengira. Dia cepat
menyingkir. Namun terlambat.Tubuhnya
terbanting ke tanah.Tergelimpang tak
bergerak lagi. Di mukanya yang seram kini
tampak lobang besar menggidikkan! Udara di
tempat itu serta merta dipenuhi bau daging
yang terpanggang!
Kesunyian yang menggantung dipecah
oleh suara Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Kasihan....Kasihan sekali! Siapa
lagi yang perlu aku kasihani?!"
"Ratu Dhika Gelang Gelang! Kita
memiliki kepentingan sama! Mengapa
menyele-saikan persoalan dengan
kematian?!"
 Tiba-tiba ada yang bicara lantang.
"Siapa yang bicara?! Aku ingin
melihat tampangnya!"
Saat itu juga dari atas pohon 
melayang turun sepasang kakek nenek yang
bukan lain adalah Ametung Warangtilis dan
kekasihnya Kunti Jenggala.
"Ah, sepasang tua bangka bercinta!"
Ratu Dhika berseru lalu tertawa gelak-
gelak. "Sudah lama aku mendengar nama
besar kalian. Baru kali ini bisa bertatap
muka. Sungguh satu kehormatan besar!"
Si kakek Ametung Warangtilis diam
saja namun sepasang matanya memperhatikan
sang Ratu dengan pandangan mata liar. Di
sebelahnya si nenek berkomat kamit. Ratu
Dhika membentak.
"Kalian bilang kita punya kepentingan
sama! Kepentingan apa?!"
Ametung Warangtilis berjingkat
sedikit lalu miringkan kepala. Lidah
dijulurkan untuk menjilat kepala botak si
nenek yang membuat Ratu Dhika menjadi
jijik.
"Tua bangka edan! Kalau mau bercinta
jangan dihadapanku! Pergi ke comberan
sana!"
Ametung Warangtilis menyeringai
sambil julur-julurkan lidah.
"Comberan memang bukan tempat sedap.
Tapi lebih enak dari pada kuburan atau
timbunan kayu pembakar jenazah! Ha...ha...
ha!"
Si nenek ikutan tertawa lalu berkata.
"Ratu Dhika! Jika kau berjanji
menyerahkan dua bayi yang bakal lahir
malam ini, aku dan kekasihku bersedia
mengakhiri urusan sampai di sini!" 
"Ah, jadi itu maksud kalian datang ke
Sumur Api. Berarti kepentingan kita tidak
sama! Kau mau dua bayi. Aku sebaliknya
melindungi mereka! Selagi malam belum
larut pergilah dari sini!"
"Jika begitu jawabmu, maka kami akan
membawamu sama-sama masuk ke dalam sumur
api!" Kata si nenek bernama Kunti
Jenggala.
"Kalau kalian memang punya kemampuan
aku sudi-sudi saja ikut!" jawab Ratu
Dhika.
Sepasang kakek nenek angkat dua
tangan lurus-lurus ke atas. Saat itu juga
dari ujung jari-jari mereka mengepul asap
putih menghampar hawa luar biasa dingin.
Asap putih kemudian dengan cepat bergulung
ke bawah menyelubungi tubuh mulai dari
kepala sampai ujung kaki.
"Ilmu Salju Merapi!" teriak Ratu
Dhika Gelang Gelang terkejut. Dia
mengenali dan mengetahui kehebatan ilmu
tersebut. Walau belum tentu sepasang kakek
nenek itu mampu mengambil dua bayi yang
malam itu memang akan lahir di dasar Sumur
Api, namun kalau keduanya bisa menerobos
masuk ke dalam sumur paling tidak
kekacauan besar akan terjadi.
"Ragil Abang! Hadapi si kakek! Aku
akan menahan si nenek!" teriak Ratu Dhika.
Kucing merah di atas bahu kiri
mengeong keras lalu melompat ke arah
Ametung Warangtilis. Tubuh berselubung si
kakek segera berkelebat menghadapi 
serangan kucing merah. Kejap itu juga
cahaya putih menderu membungkus kaku tubuh
Ragil Abang. Kucing ini seperti memiliki
tenaga dalam mengandung hawa panas,
menggeliat jungkir balik di udara lalu
kembali menyerang lawan dengan dua kaki
depan terpentang, kuku siap mencabik-
cabik.
Kunti Jenggala lepaskan dua pukulan
tangan kosong. Selagi Ratu Dhika Gelang
Gelang membuat gerakan mengelak nenek ini
memburu dengan tendangan serta dua pukulan
tangan kosong. Tendangan meleset, dua
pukulan tangan kosong saling beradu dengan
dua lengan Ratu Dhika Gelang Gelang. Si
nenek mencelat ke udara. Ketika lawan
mengejar, perempuan tua ini goyangkan
sekujur tubuhnya. Seluruh benda putih
menyerupai salju yang menutupi dirinya
berhamburan dan dengan cepat menyelubungi
tubuh Ratu Dhika. Selagi perempuan gemuk
ini tertegun kaku Kunti Jenggala langsung
menghajar dengan pukulan-pukulan keras
hingga Ratu Dhika terjengkang. Dua pukulan
dengan telak melanda dadanya membuat Ratu
Dhika semburkan darah. Sadar akan bahaya
yang dihadapi Ratu Dhika cepat kerahkan
hawa panas hingga sebagian tubuhnya yang
kaku kini bisa digerakkan.
Kunti Jenggala tertawa bergelak.
Sekali lompat saja dia sudah melayang di
atas tubuh Ratu Dhika, siap untuk
menghancurkan kepala lawan dengan hunjaman
tumit kaki kanan! 
Sambil bergulingan selamatkan diri
Ratu Dhika kerahkan hawa panas ke tangan
kanan. Begitu tangannya mampu digerakkan
dengan cepat dia melepas pukulan sakti
Langit Roboh Bumi Terbongkar. Pukulan
sakti inilah yang sebelumnya
dikeluarkannya waktu menghancurkan goa
tempat pertapaan Pangeran Bunga Bangkai.
Kalau batu goa yang begitu tebal saja
hancur berantakan dapat dibayangkan apa
yang akan terjadi dengan tubuh seorang
nenek seperti Kunti Jenggala!
Tak ampun lagi tubuh si nenek
mencelat sampai dua tombak ke udara. Ktika
tubuh itu melayang turun keadaannya
tercerai berai menjadi dua puluh tujuh
potongan!
Lapisan benda putih menyerupai salju
yang menyelubungi Ratu Dhika meleleh cair
begitu si nenek Kunti Jenggala menemui
ajal. Ratu Dhika tengah berusaha berdiri
sambi! pegangi dada ketika sebuah benda
jatuh di depannya.
"Bluukk!"
Ketika melihat benda yang jatuh Ratu
Dhika menggerung keras dan jatuhkan diri
menubruk. Benda itu ternyata adalah Ragil
Abang. Kucing besar ini menemui ajal kena
dihantam pukulan dahsyat Ametung
Warangtilis. Si kakek sendiri tewas dengan
dua belas koyakan luka mengerikan di muka,
leher dan dada.
Kalap melihat kematian kucing
peliharaannya, Ratu Dhika Gelang Gelang 
menjerit-jerit lalu tendang tubuh Ametung
Warangtilis. Karena tendangan yang
dilancarkan dengan mengandalkan aji
kesaktian Langit Roboh Bumi Terbongkar,
maka seperti yang dialami si nenek, tubuh
kakek inipun hancur bercerai berai!
"Kubunuh semua! Kubunuh semua!"Teriak
Ratu Dhika Gelang Gelang masih kalap.
Tiba-tiba enam orang berkelebat dari
tempat gelap, langsung mengurung Ratu
Dhika Gelang Gelang. Mereka adalah sisa
dari sembilan orang yang sejak tadi
mendekam di tempat gelap, menunggu kesem-
patan. Melihat kehebatan dan keganasan
ilmu perempuan itu mereka merasa sangsi
untuk bertarung sendiri-sendiri. Setelah
secara diam-diam saling mengatur siasat,
mereka lalu menyerbu bersama-sama.
"Bagus! Kalian sudah keluar semua!
Ayo serang! Biar aku buat mampus kalian
berbarengan!"
Ratu Dhika Gelang Gelang hentakkan
dua kaki, angkat tangan ke udara. Dua
puluh kerincing menderu keras. Dua puluh
larik sinar kuning memancar menyilaukan.
Siap menebar maut. Tapi enam orang yang
mengurung tidak tunjukkan perasaan jerih.
Didahului teriakan keras mereka menyerbu.
Mereka sadar kalau di antara mereka akan
jadi korban. Namun mereka juga mengharap
bilamana Ratu Dhika Gelang Gelang tewas
maka mereka bisa menerobos masuk ke dasar
Sumur Api. Akibatnya setiap orang membekal
niat keji. Siapa saja diantara mereka 
kelak yang masih hidup akan dibunuh agar
bisa mendapatkan dua orang bayi. Walau
mereka belum melihat bulan purnama empat
belas hari namun mereka yakin bulan itu
ada di atas langit sana yang saat itu
masih tertutup tebaran awan gelap.
Tiba-tiba tam...tam...tam! Suara
tambur ditabuh. Disusul suara tiupan
suling. Tanah bergetar. Udara bergaung.
Awan tebal yang sejak tadi menutupi langit
secara aneh perlahan-lahan menebar buyar.
Langit tampak terang ketika rembulan empat
belas hari sedikit demi sedikit muncul
menampakkan diri.
***
SEBELAS
LAHIRNYA DUA BAYI KERAMAT
DI DALAM ruangan tidur di dasar Sumur
Api. Ananthawuri terbaring di ranjang
besar. Perawan desa Sorogedug yang sedang
hamil besar ini berada dalam keadaan
setengah tidur setengah terjaga. Dia tidak
tahu apakah dia bermimpi atau melihat
kejadian yang sebenarnya ketika di langit
di luar Sumur Api bulan purnama empat
belas hari akhirnya muncul, di dalam
ruangan satu cahaya putih kemilau turun
dari langit-langit kamar menyelubungi
dirinya. Sekujur tubuhnya terasa sejuk dan
nyaman. Bersamaan dengan itu bau harum
segar menebar. Perlahan-lahan kedua
matanya terasa berat lalu terpejam dan
tertidur sangat lelap. 
Suara aneh yang tidak pernah
didengarnya sebelumnya membangunkan anak
perawan pilihan Para Dewa dari tidurnya.
Ananthawuri nyalang mata, mengucak-ngucak
beberapa kali sementara telinganya terus
mendengar suara aneh itu. Suara genta
lonceng!
Ananthawuri bergerak bangun. Karena
kebiasaan dua tangan langsung mengelus
perut. Ananthawuri ' terkejut ketika
merasakan bahwa perutnya yang selama ini
besar karena mengandung kini telah rata.
Tiba-tiba dia mendengar suara lain. Suara
tangis bayi!
Dewa Agung Jagat Bhatara! Di atas
tempat tidur di sampingnya berbaring dua
bayi laki-laki merah montok, melejang-
lejang kaki, menggerak-gerakkan tangan dan
menangis sama-sama keras. Sulit dibedakan
bayi satu dengan lainnya karena kedua bayi
itu seperti kembar.
"Anakku? Apakah mereka benar anak-
anakku? Bayi-bayi yang aku lahirkan
seperti pernah diberitahu Roh Agung? Tapi
bagaimana mungkin? Aku tidak merasa
seperti melahirkan. Aku hanya tidur dan
tahu-tahu mereka sudah ada di sini. Kalau
mereka bukan anak-anakku lalu...?"
Ananthawuri kembali mengusap perutnya yang
telah kempes.
Bagaimanapun dalam diri anak perawan
dari Desa Sorogedug itu ada perasaan
ikatan bathin bahwa dua bayi itu memang 
adalah darah daging yang dilahirkannya.
Perasaan kasih sayang yang muncul dalam
dirinya membuat dia membelai kepala ke dua
bayi itu. Ketika membelai itulah dia
melihat bahwa bayi yang di sebelah kanan
ada anting-anting emas di telinga kirinya
sedang bayi yang di sebelah kiri ada
anting-anting yang sama tapi pada telinga
kanan.
"Dewa Agung, sembilan bulan lebih
saya menunggu. Sekarang inilah anugerah
Mu. Saya merasa sangat berbahagia. Terima
kasih Dewa, terima kasih Yang Maha Kuasa
Maha Pengasih...." Ananthawuri lalu
merunduk mencium kening bayi itu satu
persatu. Ketika dia mencium kening bayi
yang memiliki anting-anting emas pada
telinga kanan, tiba-tiba dua cahaya putih
sejuk muncul menyelubungi dua bayi.
Bersamaan dengan itu terdengar suara yang
tidak asing lagi. Suara Roh Agung.
"Ananthawuri anak perawan pilihan
Para Dewa 
Berkat anugerah Para Dewa yang paling
indah telah
menjadi bagian dirimu
Mereka bayi-bayi yang baru kau
lahirkan secara gaib bukanlah bayi-bayi
biasa
Mereka dua bayi keramat berwajah
mirip
Namun mereka tidak kembar
Mereka akan tumbuh tidak seperti bayi
biasa 
Satu purnama bagi mereka sama dengan
dua belas purnama
Jangan heran bilamana dalam usia
tujuh bulan mereka akan sama besarnya
dengan anak-anak seusia tujuh tahun
Bilamana mereka dewasa kelak 
Mereka akan menjadi dua orang
Kesatria Yang akan berbakti pada
Bhumi Mataram 
Mereka sama dengan sehelai kain putih
Mereka bisa tetap putih tapi juga bisa
berubah hitam
Sesuai dengan apa yang mereka terima
dari luar 
Karenanya pelihara dan jaga mereka
baik-baik 
Mohon selalu petunjuk dan
perlindungan Para Dewa
Agar mereka berada dijalan yang benar
dan lurus 
Seperti yang pernah dikatakan suamimu
Pada hari terakhir pertemuan kalian
Berikan nama Dirga Purana pada bayi
yang ada anting-anting di telinga kiri
Dialah anakmu yang sulung 
Berikan nama Mimba Purana 
Pada bayi yang memiliki anting-anting
di telinga kanan
Dialah anakmu yang bungsu 
Semoga berkat Para Dewa menjadi
bagian kalian bertiga.
Aku pergi sekarang."
"Roh Agung, tunggu dulu. Bolehkah 
saya bertanya?" Ananthawuri yang sejak
tadi berdiam diri mendengarkan ucapan
suara tanpa ujud memberanikan diri membuka
mulut.
"Apa yang ingin kau tanyakan anak
perawan pilihan Para Dewa?"
"Siapakah nama suami saya? Nama ayah
dari dua anak saya?"
"Suamimu seorang Pangeran. Hanya itu
yang bisa aku beritahu."
"Seorang Pangeran? Lalu apakah dia
tidak punya nama?"
"Hanya itu yang bisa aku katakan."
Suara tanpa ujud mengulangi ucapannya.
"Roh Agung, apakah saya bisa bertemu
dengan dia? Dimana saya harus mencari
suami saya? Apakah anak-anak saya bisa
bertemu dengan ayahnya?"
"Pertemuan adalah salah satu kehendak
Yang Maha Kuasa. Memohonlah padaNya. Niat
baikmu pasti akan dikabulkan. Untuk itu
kau perlu bersabar..."
"Satu hal lagi wahai Roh Agung. Sejak
tadi saya mendengar bunyi suara lonceng.
Saya tidak tahu dari mana datangnya. Mohon
petunjuk Roh Agung, apakah artinya suara
lonceng itu, dari mana datangnya?"
"Suara lonceng yang kau dengar datang
dari Swargaloka tempat kediaman Para
Dewa." Menjelaskan suara tanpa ujud. "Itu
adalah satu pertanda bahwa kelak salah
seorang dari puteramu akan menerima satu
ilmu kesaktian melebihi dari saudaranya
yang lain. Ilmu itu bersumber pada Lonceng 
Gaib terbuat dari emas milik Para Dewa..."
"Berarti Para Dewa membeda-bedakan
diantara dua putera saya?"
"Para Dewa tidak pernah membeda-
bedakan. Bahkan berkat dan rahmat
diberikan bukan cuma pada manusia tapi
juga pada tetumbuhan dan hewan. Jika kau
mau merenungi lebih dalam justru disitulah
makna yang sangat hakiki dari kehidupan
dimana terkait hubungan antara manusia
dengan Yang Maha Kuasa Maha Pencipta.
Manusia memiliki suratan nasib dan takdir
masing-masing."
"Dari kedua putera saya wahai Roh
Agung, yang mana yang akan mendapat
kelebihan ilmu itu?"
"Aku tidak tahu karena itu adalah
kuasa dan kehendak Para Dewa. Namun jika
mereka sudah dewasa kelak kau akan
mengetahui sendiri. Waktuku sudah habis.
Selamat tinggal..."
"Terima kasih Roh Agung. Saya selalu
mohon petunjukmu," kata Ananthawuri sambil
membungkuk dalam-dalam.
***
KEMBALI ke Sumur Api.
Ketika Ratu Dhika Gelang Gelang
dengan galak menghadapi enam musuh yang
datang menyerang secara serentak, suara
tambur dan tiupan seruling memenuhi tempat
itu. Tanah bergetar, udara bergaung dan
api di dalam sumur bergejolak, menyambar
tinggi melewati bibir sumur.
Tiba-tiba ada yang berseru.
"Sahabatku Ratu Dhika, kau dalam 
keadaan terluka di dalam. Biar aku dan dua
teman menghadapi para penyerang keji
pembawa niat jahat!"
Meski belum melihat orang yang bicara
namun Ratu Dhika mengenali suara. Maka dia
segera menyahuti.
"Aku tidak perlu bantuan. Kaupun
belum tentu berhati lurus dan membawa niat
jujur!"
Enam larik serangan laksana topan
prahara menyambar ke arah Ratu Dhika
Gelang Gelang. Empat dari serangan itu
memancarkan cahaya menggidikkan. Ratu
Dhika Gelang Gelang goyangkan dua tangan
dan hentakkan dua kaki. Saat itu juga dua
puluh sinar kuning menyambar keluar dari
kerincingan emas, menyambut serangan enam
lawan tak kalah ganasnya. Namun sebelum
semua ilmu kesaktian itu saling bentrok di
udara tiba-tiba terjadi keanehan.
Satu persatu enam orang yang
menyerang Ratu Dhika tubuh mereka
terangkat ke atas lalu seperti ada tangan
yang tidak kelihatan tubuh-tubuh itu
dibanting-kan ke tanah, ke arah gundukan
batu dan ada juga yang dilempar ke batang
pohon besar. Jerit pekik memenuhi udara.
Enam tubuh berkaparan.Tiga dalam keadaan
kepala hancur. Dua orang mengalami patah
leher dan satu dengan dada remuk. Semuanya
tidak bernyawa lagi!

TAMAT
Meskipun Ratu Dhika Gelang Gelang yang dalam keadaan terluka dalam mendapat pertolongan dari dua orang aneh, apakahdia masih mampu menyelamatkan Sumur Apidari serombongan tokoh pendatang baru yangjuga ingin menerobos masuk ke dasar Sumur Api pada malam bulan purnama yang sama?
Mengapa Arwah Ketua tidak munculuntuk membantu?
Siapa yang telah mencuri jimatMutiara Mahakam dan apakah Sebayang Kaligantha pemuda kekasih Ratu Dhika yangmemiliki jimat itu masih hidup?
Siapa sebenarnya manusia penggandagaib yang memiliki ilmu kesaktian begitu tinggi?
Lalu siapa sang peminang salahseorang bayi keramat yang mengutus si Tambur Bopeng dan si Suling Burik?

Lalu siapa pula:
(Judul kisah berikutnya)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon untuk menuliskan komentar setelah Anda membaca halaman ini..