Selasa, 09 April 2013

Pangeran Bunga Bangkai



SERIAL MIMBA PURANA
SATRIA LONCENG DEWA
Karya : Bastian Tito

Episode 3

Di depan semak belukar lebat, bersandar ke sebuah batu hitam duduk menjelepokdi tanah satu mahluk yang seumur hidup baru kali itu dilihat Ratu Dhika Gelang Gelang. Jika manusia mana kepalanya. Kalau hantu mengapa tubuhnya utuh seperti seorang manusia. Sebagai pengganti kepala ada sekuntum bunga luar biasa besar berwarna kuning berbintik coklat. Pada bagian tengah bunga mencuat kuncup berwarna hijau setinggi tiga jengkal. Bunga aneh ini menebar bau busuknya bangkai yang membuat Ratu Dhika Gelang Gelang hampir tidak sanggup menahan muntah. "Bunga Bangkai..." ucap Ratu Dhika Gelang Gelang.

SATU
MAHLUK TANPA KEPALA

Rumah bambu berkolong tinggi beratap ijuk di lereng lembah kecil diselimuti kesunyian. Saat itu rembang petang. Cahaya terik sang surya mulai memudar. Ketika angin bertiup silir dari arah Gunung Merapi tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat dari arah timur lembah. Gerakannya luar biasa cepat dan ringan. Sesaat kemudian kelihatan seorang kakek berpakaian selempang kain putih, berkalung semacam tasbih besar terbuat dari kayu cendana, berdiri di ujung atas tangga rumah panggung, di hadapan sebuah pintu kajang yang tertutup.
"Salam sejahtera bagi penghuni rumah. Sri Sikaparwathi, apakah kau ada di dalam?"
Orang tua tadi memberi salam. Dia menunggu jawaban sambil memandang berkeliling, mengelus kumis dan janggut putih sementara rambut panjang menjela bahu melambai-lambai tertiup angin. Ketika tidak ada jawaban dari dalam rumah, si kakek lantas mengulang salamnya untuk kedua kali.
"Sri Sikaparwathi, salam sejahtera untukmu. Apakah kau ada di dalam rumah?"
Tiba-tiba dari dalam rumah bambu yang pintunya tertutup terdengar suara batuk-batuk. Lalu menyusul ucapan perempuan. Perlahan sekali hingga nyaris tidak kedengaran.
"Orang yang ada di luar. Jika kau adalah utusan Dewa untuk mencabut nyawaku, silahkan lakukan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik."
Paras orang tua di depan pintu serta merta berubah.  Jantung berdetak, perasaan langsung tidak enak.
"Sikaparwathi? Benar suaramu yang aku dengar? Mengapa lain sekali? Mengapa kau berkata seperti itu?"
Tidak menunggu jawaban, orang tua itu mendobrak pintu kajang lalu menghambur masuk ke dalam rumah. Di bagian dalam,  rumah bambu itu hanya memiliki satu ruangan. Di tengah ruangan ada sebuah tempat tidur terbuat dari bambu beralaskan rumput kering. Orang tua yang barusan masuk ini tak percaya akan apa yang disaksikannya. Di atas tempat tidur terbujur sosok seorang nenek berjubah warna Jingga yang keadaan hampir sama rata dengan alas jerami kering. Tubuh kurus kering, wajah pucat keriput. Sepasang mata yang cekung nyalang menatap ke atas, ke arah atap.
"Dewa Agung! Sika, apa yang terjadi dengan dirimu?"
Orang tua berselempang kain putih sampai berteriak karena terkejutnya melihat keadaan nenek di atas tempat tidur itu. Jari-jari tangannya memegang keras bambu pinggiran tempat tidur dan dalam menahan gelora perasaan jari-jari itu tidak sengaja meremas hingga kraaakk!
Bambu pinggiran tempat tidur remuk di dua tempat. Sepasang mata cekung perempuan di atas tempat tidur bergerak sedikit, berusaha melirik ke arah orang tua yang tegak di sampingnya. Bibir yang kering bergerak sedikit, mengeluarkan suara batuk baru berucap.
"Tubuhmu terlihat tidak jelas, wajahmu tampak samar. Tapi telingaku mengenali suaramu. Bukankah kau Gede Kabayana sahabatku dari Klungkung Bali...?" 
"Dewa Jagat Batara! Aku bersyukur kau masih mengenali diriku. Sikaparwathi sahabatku, katakan apa yang terjadi dengan dirimu. Sepintas lalu aku melihat sakitmu bukan sakit wajar."
Perempuan tua di atas tempat tidur bambu kembali batuk-batuk. Kali ini ada lelehan darah mengucur di sela bibirnya. Dengan cepat orang tua yang dipanggil dengan nama Gede Kabayana menyeka noda darah itu mempergunakan ujung selempang kain putih pakaiannya.
"Kabayana, aku memang bukan sakit wajar. Aku menderita seperti ini karena ada orang jahat menggandakan tubuh dan rohku lalu dibawa pergi untuk dipakai berbuat jahat."
Orang tua di pinggir tempat tidur terkesiap mendengar ucapan si nenek.
"Orang jahat menggandakan tubuh dan rohmu? Demi Dewa Agung! Baru sekali ini aku mendengar hal seperti yang kau katakan! Itu adalah perbuatan luar biasa keji! Tapi apakah ada orang yang begitu sakti di Bhumi Mataram ini hingga mampu melakukan hal itu? Aku tidak percaya. Atau mungkin..." Gede Kabayana gelengkan kepala. Lalu bertanya. "Kau sudah tahu siapa pelakunya dan sudah berapa lama hal itu terjadi?"
"Aku tidak tahu siapa pelakunya. Kejadiannya dua hari lalu."
Kembali Gede Kabayana dibuat terkejut. "Baru dua hari dan keadaanmu  sudah sangat sengsara seperti ini!" "Gede Kabayana...."
"Sudah, kau jangan terlalu banyak bicara dulu. Aku akan menolongmu sebisaku. Jika kau sudah sembuh kita sama-sama mencari siapa pelaku keji itu!"
"Kau sahabatku paling baik. Tapi sebelum kau melakukan sesuatu aku ingin bertanya dulu. Sekian belas tahun kita tidak pernah bertemu. Langkah peruntungan apa yang membawa dirimu terpesat ke lembah tempat kediamanku ini?"
"Sebenarnya aku datang membawa kabar baik. Tapi dalam keadaanmu seperti ini apakah kabar itu masih bisa mendatangkan kegembiraan pada dirimu..."
"Sebelumnya aku pasrah menerima kematian. Sekarang biarlah rasa gembira mungkin menunda kematianku beberapa kejapan mata. Katakan, kabar apa yang hendak kau sampaikan."
"Jauh-jauh aku tinggal di Klungkung. Tiga purnama yang silam aku datang ke tanah Jawa. Dari seorang sahabat aku berhasil mencari tahu dimana selama ini Sedayu Galiwardhana bersembunyi mengasingkan diri. Orang  cari, dia tinggal dan bertapa di salah satu lereng Gunung Merbabu."
Wajah pucat si nenek berubah bercahaya sekilas. Namun sesaat kemudian wajah itu tampak redup dan letih seperti menahan beban yang sangat berat. Mulut yang tadi terbuka perlahan-lahan mengatup  seolah-olah sengaja dikancingkan, pertanda dia tidak mau bicara lagi.
"Sikaparwathi, apakah kau masih mendengarkan kata-kataku?" bertanya Gede Kabayana.
"Aku tidak ingin membicarakan orang itu..."
"Aaahhh..." Gede Kabayana hela nafas dalam. "Menggantang dendam asmara dalam
keadaanmu seperti ini sangat tidak baik, Sika..."
"Aku insan polos. Aku tidak pernah menaruh benci apalagi dendam terhadap siapapun. Dendam asmara katamu..." Secuil senyum hampa menyeruak di bibir yang kering. "Gede Kabayana, aku punya firasat buruk. Saat ini Sedayu Galiwardhana sudah tidak ada lagi..."
"Maksudmu Sika?"
"Dia sudah mati. Mungkin sekali dibunuh oleh manusia jahat yang meminjam tubuh dan rohku."
"Dewa Agung! Aku tidak berani berpikir sampai ke situ. Sikaparwathi, kau sakit tapi pikiranmu tidak kacau?" Gede Kabayana usap kening Sri Sikaparwathi. Terasa panas.
"Dewa Agung memberi petunjuk padaku tadi malam melalui mimpi."
"Sika, kau orang cerdik orang pandai. Jangan percaya pada mimpi."
"Aku juga punya dugaan kalau kura-kura hijau peliharaanku Raden Cahyo Kumolo juga telah di gandakan secara gaib.  Dikendalikan untuk berbuat kejahatan. Sudah dua hari aku tidak melihatnya. Aku tidak tahu dimana ujud asli kura-kura itu berada. Entah masih hidup atau sudah menemui ajal."
"Sikaparwathi, aku sahabatmu. Aku akan..."
Si nenek potong ucapan Gede Kabayana. "Sahabatku Gede Kabayana, kalau apa yang hendak kau sampaikan sudah semua, tinggalkan tempat ini. Biarkan aku sendirian. Aku ingin menghadap Para Dewa di Swargaloka dengan tenang dan sendirian..."
"Tidak bisa! Aku memohon dengan sejuta doa pada Para Dewa agar kau disembuhkan!"
Gede Kabayana pegang tasbih kayu cendana dengan tangan kiri. Ujung dua jari tangan kanan lalu ditekankan ke batok kepala pada arah ubun-ubun Sikaparwathi, pelipis kiri kanan, pertengahan dada lalu pada dua telapak kaki. Setiap dua ujung jari itu menyentuh bagian tubuh yang ditekan maka mengepul asap kelabu menebar harumnya bau kayu cendana.
"Tidurlah sahabatku, tidurlah. Para Dewa akan menolongmu. Para Dewa menyayangimu. Para Dewa akan menyembuhkanmu!"
Selesai kata-kata itu diucapkan Gede Kabayana maka sepasang mata Sri Sikaparwathi yang sejak tadi nyalang nyaris tak berkesip kini merapat terpejam. Nenek ini benar-benar memasuki alam tidur. 

***

BEGITU sepasang mata Sri Sikaparwathi terpejam Gede Kabayana segera duduk bersila di lantai rumah bambu dalam sikap siap untuk melakukan samadi. Memohon petunjuk dari Yang Kuasa. Hanya sesaat setelah orang tua ini memulai semadinya, di luar udara tiba-tiba berubah gelap. Guntur menggelegar, kilat menyambung seolah hendak membelah langit. Tak lama kemudian hujan lebat turun mengguyur kawasan lembah. Pada saat itulah ketika udara dingin merambas masuk ke dalam rumah bambu, ketika deru hujan dan tiupan angin kencang menutup pendengaran, sesosok mahluk aneh muncul dalam keadaan basah kuyup di ambang pintu rumah bambu. Saat itu juga udara di tempat itu dilanda bau luar biasa busuk. Mahluk yang datang bertubuh manusia utuh mengenakan pakaian biru ringkas. Namun mahluk ini tidak memiliki kepala sama sekati. Bahunya tertutup kelopak lebar berbentuk bunga besar berwarna kuning berbintik coklat. Dari bunga inilah keluar dan menebar bau busuk seperti busuknya bangkai. Pada bagian yang seharusnya ada kepala hanya terdapat satu kuncup hijau setinggi tiga jengkal. Di tangan kiri mahluk ini mengepit sebuah benda hijau yang ternyata adalah seekor kura-kura. Dengan hati-hati mahluk busuk berkepala bunga berbau bangkai ini letakan  kura-kura hijau di samping sosok Sri Sikaparwathi yang terbaring nyenyak di atas tempat tidur bambu. Sambil mengusap punggung kura-kura hijau mahluk ini anehnya bisa mengeluarkan suara seperti manusia.
"Yang Kuasa telah menyelamatkan dirimu. Walau tubuh gandamu pernah hancur lulu di tangan pertapa Sedayu Galiwardhana namun ujud aslimu tiada menerima cidera. Karena kau tidak menyandang dosa maka Para Dewa mempertemukan diriku denganmu. Aku membawamu ke tempat ini. Tidurlah bersama nenek pengasuhmu. Bila kelak kalian terbangun, carilah kebenaran. Mudah-mudahan amal kecilku ini akan memberi kemudahan bagiku untuk menemukan orang yang aku cari..."
Entah dari mana datangnya, lalat mulai muncul di tempat itu, hinggap di atas kepala mahluk aneh yang merupakan sumber bau busuknya bangkai. Perlahan-lahan bunga kuning berbintik coklat dan berkuncup hijau di atas bahu mahluk aneh berputar ke arah Gede Kabayana. Lalu kembali terdengar suaranya berkata.
"Orang tua, aku tidak ingin mengganggu semedimu walau aku punya firasat, kau adalah salah seorang yang bisa memberi petunjuk dimana dan siapa adanya orang yang aku cari. Aku harus pergi. Yang Maha kuasa memberkahi kita semua..."
Mahluk aneh memutar tubuh. Sesaat  kemudian sosoknya telah melesat keluar pintu rumah bambu, melayang laksana terbang dibawah curahan hujan lebat dan lenyap dari pemandangan.

***

DUA
SRI MAHARAJA KE DELAPAN

DIRIWAYATKAN dalam kisah terdahulu berjudul" Arwah Candi Miring" bagaimana Sri sikaparwathi palsu jejadian bersama kura-kura hijau Raden Cahyo Kumolo yang juga mahluk yang digandakan untuk kesekian kali dan berada di bawah kendalinya, berusaha menyusup masuk ke dalam Sumur Api untuk menculik Ananthawuri yang tengah mengandung besar. Bila mana dia berhasil menculik anak perawan desa Sorogedug yang hamil secara gaib maka berarti dia akan dapat menguasai dua orang bayi yang akan dilahirkan dan diramal bakal menjadi dua Kesatria sakti mandraguna di Bhumi Mataram. Namun di sebuah lobang batu yang menuju ke dasar Sumur Api mereka di hadang oleh Naga Akhirat Raden Culo Dua. Walau si nenek dan kura-kuranya berhasil menyelamatkan diri namun mereka terlempar keluar dari sumur gaib dan terdampar di satu rimba belantara. Sambil duduk menjelepok di tanah dan bersandar pada sebatang pohon dalam kecewa sakit hatinya, Sri Sikaparwathi jejadian mengusap-usap kura-kura hijau yang  bertengger di atas kepala.
"Raden, kita masih belum beruntung. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kita pasti akan mendapatkan dua bayi itu. Suara tangisan bayi yang aku dengar di dasar Sumur Api adalah suara tipuan untuk memecah perhatian dan memperlambat gerakan kita. Aku yakin anak perawan desa itu masih belum melahirkan. Kita akan mencari jalan untuk mendapatkannya. Dua bayi itu harus kita dapati!"
Kura-kura hijau di atas kepala si nenek gerak-gerakan kepala beberapa kali seolah mengerti apa yang dikatakan sang tuan. Tiba-tiba dari atas pohon besar meluncur seekor tikus hutan berwarna hitam pekat. Sri Sikaparwathi baru tahu kehadiran binatang itu ketika si tikus telah masuk ke balik jubah, merayap di dada, turun ke perut, terus turun lagi ke bagian terlarang diantara dua pangkal kaki dan mendekam di sana tidak bergerak-gerak. Pekik si nenek bukan olah-olah. Tubuhnya terlompat sampai kepalanya menghantam cabang pohon sementara kura-kura di atas kepala saking kagetnya terpental jatuh ke tanah.
"Celaka! Celaka diriku!” Sri Sikaparwathi berteriak berulang kali sambil menjingkrak-jingkrak kalang kabut. Tapi tikus nakal masih saja mendekam di tempat semula. Tidak sabar dan tidak tahan rasa geli serta jijik, nenek ini singsingkan jubahnya tinggi-tinggi. Tangan  kanan diturunkan lalu disusupkan ke atas. Sekail diremas tikus pohon mencicit keras lalu mati dengan tubuh hancur luluh. Si nenek kibas-kibaskan tangan kanannya yang bergelimang darah. Sekujur tubuh merinding. Muka pucat pasi seperti tidak berdarah lagi. Bersamaan dengan itu perlahan-lahan tubuhnya menjadi lemas. Ada satu hal yang membuatnya sangat takut.
"Tubuhku terasa lemas. Aku seperti tidak punya tulang belulang. Aku tidak punya kekuatan, tiada daya. Mungkin kesaktianku juga sudah lenyap...Binatang celaka itu!"
Sementara itu kura-kura hijau yang tadi terlempar dari atas kepalanya kini mendekam tak bergerak di akar pohon. Binatang ini juga tampak lemas tiada daya, nyaris tidak mampu bergerak. Agaknya binatang ini juga telah kehilangan kekuatan dan kesaktian!
Tidak lagi mempedulikan kura-kura hijau itu, si nenek memutuskan untuk kabur seorang diri. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, didahului satu lengking jeritan keras dua tangan di kembang.
"Yang di bumi naik ke langit! Yang di langit turun ke bumi!" Sri Sikaparwathi berteriak. Sri Maharaja Ke Delapan!Tolong diriku!"
Saat itu juga terjadilah satu hal  yang hebat!
Dari langit satu benda memancarkan cahaya tiga warna melesat ke arah Sri Sikaparwathi. Di saat yang sama tubuh si nenek melesat ke udara seolah ada yang menarik.
"Mahluk jahat! Kau mau lari kemana?
Riwayatmu cukup sampai disini!"
"Braakkk!"
Kepala botak bertanduk yang ada di tanah melesat ke atas di susul sosok besar mengenakan jubah biru. Dada tersingkap dan dua tangan tertutup bulu lebat. Begitu tinggi dan besarnya mahluk ini hingga kepalanya hampir mencapai pucuk pohon besar yang ada di sebelahnya. Sekali tangan kanan yang besar bergerak, leher Sikaparwathi sudah berada dalam cengkeramannya.
"Lepaskan! Jangan!" teriak Sikaparwathi berusaha keras loloskan diri namun tidak punya kemampuan. "Arwah Ketua! Aku tidak punya silang sengketa denganmu! Mengapa hendak membunuhku?"
Mahluk raksasa bertanduk merah menyeringai. Dia ternyata adalah Arwah Ketua dari Candi Miring di bukit gersang!
"Berapa manusia tidak berdosa yang telah kau bunuh sejak kau muncul sebagai mahluk jahat!"
"Mereka tidak ada sangkut paut dengan dirimu!"
"Bisa saja kau berkata begitu. Tapi mereka adalah orang-orang Bhumi Mataram yang telah berbakti pada Kerajaan. Mereka adalah orang-orang yang punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi masa depan Kerajaan. Sebaliknya kau malah hendak menghancurkan Kerajaan!" Arwah Ketua keluarkan suara menggembor, meniup ke depan hingga Sri Sikaparwathi merasa sepasang matanya luar biasa perih laksana disayat-sayat. Dalam kesakitan si nenek mengancam.
"Kalau kau tidak melepaskan diriku maka Sri Maharaja Ke Delapan akan melumat tubuhmu!"
Arwah Ketua tertawa tergelak. Mendekatnya cahaya tiga warna seolah memberi kekuatan pada Sri Sikaparwathi. Si nenek hantamkan pukulan berantai ke arah dada Arwah Ketua hingga dada berbulu itu bergoncang keras dan kelihatan bengkak matang biru pada bagian yang kena dijotos. Saat itu pula cahaya tiga warna yang melesat turun dari langit menderu dahsyat, menyambar ke arah Arwah Ketua. Di atas pohon terdengar suara berkerincing.
"Bummm!"
"Blaaar!"
Letusan keras menggelegar ketika tiga cahaya merah menghantam kepala Arwah Ketua lalu bertebar lenyap di udara. Mahluk raksasa ini melesat ke tanah sampai sedalam pinggang. Kepalanya yang botak pancarkan cahaya benderang menyilaukan mata. Tanduk merah di atas kepala berpijar lalu leleh! Dari mata, telinga hidung dan mulut mengucur darah. Leher Sikaparwathi yang tadi dicekal di tangan kanan terlepas. Begitu lolos nenek ini cepat ambil langkah seribu.
"Perempuan celaka! Kucabik batang lehermu!"
Ada suara perempuan berteriak marah disusul dengan melesatnya satu bayangan merah disertai suara mengeong keras. Sri Sikaparwathi menjerit keras. Seekor kucing merah tahu-tahu telah bergelayutan dibahunya. Mulut menganga, deretan gigi panjang runcing menancap dileher, dua kaki depan siap merobek tubuh.
"Ratu Dhika Gelang Gelang! Tahan serangan kucingmu! Aku perlu menanyakan sesuatu pada mahluk celaka ini! Aku tak apa-apa! Semoga Dewa mengembalikan keadaanku seperti semula!"
Arwah Ketua yang mukanya bergelimang darah usapkan tangan kiri ke atas kepala dan seluruh wajah sambil mulut merapal doa. Saat itu juga seluruh cidera yang dialaminya sembuh. Darah bukan saja berhenti mengucur tapi juga lenyap.Tanduk di kepala yang tadi leleh kini kembali mencuat tegak memancarkan cahaya merah. Walau di luar keadaannya pulih seperti semula namun Arwah Ketua maklum kalau disebelah dalam dia mengalami luka yang cukup parah. Ini memaksanya harus segera kembali ke Candi Miring. Maka Arwah Ketua cepat menggoyang bahu. 
Tubuhnya yang terpendam di tanah sampai pinggang serta merta melesat keluar. "Pus Meong Ragil Abang, kembali ke sini!" Kata-kata itu diucapkan oleh seorang perempuan muda bertubuh gemuk subur berkulit hitam yang berdiri di dekat Arwah Ketua. Dia berkata sambil tepukkan tangan kiri ke bahu kanan. Pus Meong Ragil Abang si kucing besar yang siap membeset leher dan merobek tubuh Sri Sikaparwathi setelah mengeong keras dengan cepat melompat ke atas bahu perempuan gemuk. Perempuan ini mengenakan kemben merah yang bagian depan belakang dibelah tinggi. Rambut dikonde di atas kepala, ditancapi sekuntum bunga mawar merah yang tak pernah layu karena diberi semacam jelaga. Wajahnya yang bundar tertutup dandanan tebal menor.
Pergelangan tangan dan kaki dihiasi gelang emas diganduli kerincingan. Setiap dia membuat gerakan, empat gelang itu keluarkan suara berkerincing. Sambil mematuk rambut ikal disamping telinganya, si gemuk berdandan mencorong ini perhatikan wajahnya dalam sebuah cermin kecil yang dipegang di tangan kiri.
Seperti yang disebut oleh Arwah Ketua tadi, perempuan muda ini memang adalah Ratu Dhika Gelang Gelang yang di Bhumi Mataram juga dikenal dengan julukan Ratu Meong.
Mendengar ucapan sang tuan, kucing besar Ragil Abang segera melompat ke bahu perempuan gemuk itu. Di saat yang sama  Arwah Ketua cepat jambak rambut Sri Sikaparwathi hingga nenek ini tidak sempat melarikan diri. Setelah membasahi bibirnya yang diberi pemerah dengan ujung lidah, Ratu Dhika Gelang Gelang berbisik pada Arwah Ketua.
"Rakanda Arwah Ketua, mahluk satu ini luar biasa berbahaya. Mengapa tidak dihabisi saat ini juga?"
"Aku memang ingin melakukan hal itu. Tapi barusan dia menyebut sesuatu. Aku harus menyelidiki sebelum menghabisinya!"
Tangan Arwah Ketua yang menjambak rambut si nenek diangkat ke atas hingga muka mereka saling berhadapan.
"Tadi kau berteriak minta tolong pada seseorang yang kau sebut Sri Maharaja ke Delapan. Jelaskan siapa orang itu!"
Walau keadaannya sudah babak belur tapi Sri Sikaparwathi agaknya kembali timbul keberanian. Sambil sunggingkan seringai dia berkata.
"Kalau kau mau membuat janji, aku akan katakan siapa yang kumaksud dengan Sri Maharaja Ke Delapan."
"Apa pintamu?!" tanya Arwah Ketua.
"Rakanda, jangan sampai tertipu. Perempuan tua ini liar seperti srigala, licin seperti belut!" Kata Ratu Dhika Gelang Gelang mengingatkan.
"Radinda Ratu, aku tidak tolol," jawab Arwah Ketua. Dia perkencang jambakan rambutnya si nenek. Ayo lekas bicara!" 
"Jika kau bersedia melepaskan diriku dan kura-kura hijau di akar pohon sana, baru aku akan mengatakan siapa adanya Sri Maharaja Ke Delapan."
"Hemmm...begitu?" ujar Arwah Ketua.
"Ya, begitu!" jawab Sikaparwathi yang merasa berada di atas angin.
Arwah Ketua angguk-anggukkan kepala. Tiba-tiba tangannya yang menjambak rambut Sri Sikaparwathi disentakan ke depan, dihantamkan ke kepala botaknya!
"Praakkk!"
Tak ampun lagi kepala si nenek remuk nyaris rengkah. Begitu jambakan dilepas sosok Sikaparwathi terbanting di tanah. Setelah mengepulkan asap kelabu tubuh hasil pergandaan gaib ini lenyap dari pemandangan. Di bawah pohon besar kura-kura hijau menyusup di dekat akar keluarkan suara mencuit panjang. Sekali ulurkan kaki, Arwah Ketua injak binatang itu hingga hancur dan amblas ke dalam tanah di susul dengan kepulan asap kelabu. Arwah Ketua berpaling kepada Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Rakadinda Ratu, aku harus segera kembali ke Candi miring. Waktuku berada di dunia luar hampir habis. Aku mohon kau menyelidiki beberapa perkara. Pertama cari tahu siapa manusianya yang disebut sebagai Sri Maharaja Ke Delapan oleh perempuan tua jejadian itu. Kedua mahluk tadi diketahui berusaha masuk ke dalam Sumur Api untuk menculik perawan desa pilihan Para Dewa.  Aku punya kecurigaan ada satu perkara besar di balik semua perbuatan Sri Sikaparwathi. Hal ketiga kau melihat sendiri tadi ada cahaya tiga warna melesat turun dari langit. Itu adalah ilmu kesaktian yang belum pernah ada di Bhumi Mataram. Selidiki siapa pemilik dan pengendalinya...."
"Oala Rakanda Arwah Ketua. Banyak sekali pekerjaan yang kau berikan padaku. Kau sendiri mau melakukan apa?" tanya Ratu Dhika Gelang Gelang lalu keluarkan kaca kecil dan bercermin diri sambil merapikan letak rambut, mengusap pipi yang medok tebal tertutup bedak merah. Orang lain sekalipun berkepandaian tinggi tidak akan berani seenaknya bicara serta bersikap seperti itu terhadap Arwah Ketua. Tapi Ratu Gelang Gelang sudah kenal lama dan sangat dekat bahkan menganggap Arwah Ketua sebagai kakaknya bicara ceplas ceplos apa sukanya.
"Seperti aku katakan tadi, aku akan kembali ke Candi Miring. Bukan untuk berlepas tangan tapi untuk menyimak apa yang saat ini terjadi di Bhumi Mataram. Juga menyimak serta membantu tugasmu. Lalu yang paling penting adalah mencari tahu dimana keberadaan Sri Sikaparwathi yang asli. Selain itu aku perlu memeriksa keadaan diriku. Hantaman cahaya tiga warna tadi tidak mustahil mendatangkan cidera dalam yang saat ini belum kelihatan..."
"Kalau begitu kata Rakanda Arwah  Ketua aku menurut saja. Satu hal perlu aku beritahukan kalau Sedayu Galiwardhana, orang tua sakti yang bertapa di lereng Gunung Merbabu telah menemui ajal di tangan Sikaparwathi..."
"Aku sudah tahu. Aku juga tahu kalau diriku telah digandakan. Syukur para Dewa telah melindungiku hingga ketika tubuh dan rohku yang digandakan meninggalkan tubuh dan roh asli, aku tidak sampai sengsara menderita sakit. Namun aku kawatir apakah Sri Sikaparwathi mampu bertahan. Sejak belasan tahun dia tidak pernah bertemu dengan Sedayu Galiwardhana, sahabatku itu selalu dirundung sakit-sakitan..."
Ratu Dhika Gelang Gelang menatap sekali lagi kedalam cermin lalu bertanya.
"Bagaimana Rakanda, apakah dandananku sudah rapi?"
Arwah Ketua pencongkan mulut. "Yang jelas wajahmu lebih cantik dariku. Ha...ha...ha. Atau sekali-kali kau ingin bertukar wajah denganku?" Tidak menunggu jawaban orang Arwah Ketua usap wajahnya dengan tangan kiri lalu tangan yang sama diusapkan ke muka Ratu Dhika Gelang
Gelang. Saat itu juga terjadilah keanehan. Kepala Arwah Ketua kini berada di atas tubuh Ratu Dhika Gelang Gelang dan kepala Ratu Dhika Gelang Gelang kini berada diatas tubuh Arwah Ketua.
Ratu Dhika langsung mengomel banting-banting kaki. Arwah Ketua sambil tertawa mengekeh rubah kembali wajahnya dan wajah  Ratu Dhika Gelang Gelang seperti semula.
"Rakadinda, tidak sepantasnya aku bercanda seperti ini. Aku pergi sekarang..."
"Tunggu, sekarang aku yang tak mau kelupaan bertanya." Kata Ratu Dhika Gelang Gelang pula.
"Kau mau bertanya apa?"
"Waktu tikus pohon masuk ke balik pakaian Sri Sikaparwathi, tua bangka itu kulihat langsung pucat, lemas dan ketakutan. Dan kau mengatakan dia telah tertimpa barang pantangan hingga tidak punya kekuatan dan kesaktian lagi. Yang aku ingin tahu pantangan apa yang telah menimpa perempuan tua itu?"
Arwah ketua tertawa lebar.
"Kalau kau memang ingin tahu baik aku beri tahu. Ilmu kesaktian yang dimiliki Sri Sikaparwathi akan luntur bilamana ada mahluk hidup bersentuhan dengan bagian bawah perutnya..."
"Bagian perut yang mana?" Ratu Dhika Gelang Gelang ingin lebih jelas.
"Aku tidak akan menyebutkan. Kau pikir saja sendiri. Kau juga punya! Ha...ha..ha."
Ratu Dhika Gelang Gelang ikut tertawa.
"Kalau memang disitu letak kelemahan dan pantangan si nenek mengapa tidak kau saja yang menyentuh tempat terlarang itu!
Kau juga mahluk hidup! Malah akan lebih cepat perempuan itu menemui ajalnya! 
Begitu saja repot! Tapi eh...Jangan-jangan tadi kau yang merubah diri menjadi tikus pohon itu!
Hik...hik...hik!"
Tidak tahan diganggu perempuan gemuk berdandan medok itu Arwah Ketua berkata.
"Aku pergi sekarang." Dia memutar tubuh tapi tak jadi. Masih ada satu hal yang terlupa..."
"Ah, dari dulu kau selalu punya sifat begitu Rakanda." Kata Ratu Dhika Gelang Gelang sambil simpan cermin kecil. "Apa lagi yang hendak kau tanya atau kau sampaikan..."
"Ini menyangkut hubungan pribadi mu..." "Aku sudah menduga. Maksud Rakanda hubunganku dengan pemuda ahli perawat ukiran candi itu bukan? Pemuda bernama Sebayang Kaligantha."
"Benar sekali Rakadinda. Cari dan temui dia. Aku tahu dia memiliki sebuah jimat sakti. Jika yang memegang jimat orang baik maka jadilah benda itu benda baik bermanfaat untuk menolong sesama manusia. Tapi jika berada di tangan orang jahat, jangankan manusia Bhumi Mataram ini
bisa dibinasakannya!"
"Baik Rakanda Arwah Ketua. Aku akan mencari pemuda itu..."
"Kau pasti bisa cepat menemukannya. Bukankah dia kekasihmu? Atau salah aku menyebut?" Habis berkata begitu Arwah Ketua tertawa gelak-gelak. Lalu dia memutar tubuhnya yang besar, siap hendak tinggalkan tempat itu tapi lagi-lagi dia berbalik.
"Pasti ada yang kau lupakan lagi!" ucap Ratu Dhika Gelang Gelang. "Kau bisa-bisa membuat kucingku Ragil Abang terkencing-kencing!"
"Rakadinda, apa kau tahu kalau dua orang aneh yang aku beri tahu padamu tempo hari sudah muncul di Bhumi Mataram?"
"Maksud Rakanda si Tambur Bopeng dan si Suling Burik?"
Arwah Ketua anggukkan kepala.
"Sudah Rakanda. Aku melihat sendiri. Mereka muncul sewaktu pertapa Sedayu Galiwardhana tewas di tangan Sri Sikaparwathi yang menggandakan diri menjadi Rakanda. Aku menyaksikan sendiri mereka membuat makam dan mengubur pertapa malang itu secara aneh. Suling dan tambur bisa membuat lobang besar di tanah. Ke dalam lobang itu mereka memasukkan jenazah
pertapa Sedayu Galiwardhana."
"Aku belum dapat meyakini, di pihak mana kedua orang aneh itu berada. Tapi jika melihat mereka mau bersusah payah menguburkan sang pertapa, agaknya mereka adalah orang baik-baik. Rakadinda, aku harus pergi sekarang." (Mengenai dua orang aneh ini bisa dibaca kembali dalam riwayat sebelumnya berjudul "Arwah Candi Miring")
Tubuh raksasa Arwah Ketua kepulkan asap putih lalu amblas masuk ke dalam tanah dan lenyap tanpa bekas.

***

TIGA
MENCARI SANG PENGENDALI

PADA saat mahluk ganda jejadian Sri Sikaparwathi  dan kura-kura hijau Cahyo kumolo menemui ajal, rumah panggung yang terbuat dari bambu bergoyang keras berderak-derak. Atap dari ijuk terhempas berulang kali. Dari atas wuwungan bangunan ini keluar secarik cahaya tiga warna, melesat ke langit. Di dalam rumah bambu, diatas tempat tidur sosok Sri Sikaparwathi asli bergoncang hebat dan mengepulkan asap hitam. Kura-kura hijau yang ada di sampingnya keluarkan suara menguik panjang.
Di samping tempat tidur, masih bersila di lantai dalam keadaan bersamadi, tubuh Gede Kabayana tampak bergoncang lebih hebat dari goncangan yang dialami Sri Sikaparwathi. Hal ini karena dalam keadaan seperti itu orang tua ini masih sanggup kerahkan tenaga dalam dan hawa sakti untuk melindungi diri. Ternyata kekuatan yang datang dari luar jauh lebih tinggi dari kekuatan yang dimilikinya.
Ketika pertahanannya jebol, orang tua ini jatuh terlentang di lantai rumah. Masih untung dia tidak menderita cidera apa-apa. Di atas tempat tidur tiba-tiba Sri Sikaparwathi tersentak bangun dari tidurnya, bergerak bangkit dan duduk. Wajahnya yang pucat tampak mulai berdarah. Sepasang mata cekung memandang  berkeliling. Kura-kura di atas tempat tidur ulurkan kepala. Sepasang matanya tampak merah bersinar.
"Cahyo Kumolo, kau tidak apa-apa?" Si nenek usap punggung atas kura-kura hijau. Binatang ini menguik panjang lalu melesat ke atas dan bertengger di atas kepala Sri Sikaparwathi.
"Ah, kau juga mendapat kekuatanmu kembali. Apa yang terjadi. Mengapa tubuhku bergoncang hebat. Rumah ini seperti mau roboh..." Memandang ke samping kanan dia melihat Gede Kabayana tergeletak di lantai. Dengan cepat si nenek turun dari tempat tidur. Dia memeriksa tubuh Gede Kabayana lalu memijatnya di beberapa tempat. Sesaat kemudian sahabat dari Klungkung ini siuman dan duduk di lantai. Seperti si nenek dia juga heran dan bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi.
"Gede Kabayana, aku berterima kasih padamu. Pasti kau yang telah menolong diriku hingga bisa mengalami keadaan seperti ini. Aku merasa kekuatan diriku mulai pulih..."
Gede Kabayana gelengkan kepala.
"Tidak bukan aku yang menolongmu. Samadiku belum rampung. Tiba-tiba ada satu kekuatan menggoncang bangunan ini. Termasuk menggoncang diriku dan tubuhmu! Sesuatu telah terjadi. Bukan disini. Tapi akibatnya membawa kesembuhan pada dirimu. Juga pada kura-kura hijau di atas kepalamu. Ini  pasti kuasa tangan Para Dewa yang telah melakukan. Aku hanya bisa menduga. Mahluk ganda yang menyerupai dirimu dan kura-kura telah menemui kemusnahan..."
"Kau tahu kira-kira siapa yang melakukan?" tanya Sri Sikaparwathi.
"Sulit sekali menduga apa lagi memastikan. Cuma satu hal sangat aku kawatirkan. Gagal dengan diri dan binatang peliharaanmu, orang jahat yang memegang kendali ilmu kesaktian itu akan mengulangi perbuatannya. Melakukan lagi atas diri orang lain. Apa lagi jika maksud tujuannya belum kesampaian."
"Kita harus mencari tahu siapa orang jahat itu, apa maksud tujuannya menggandakan diriku! Aku yakin mahluk diriku yang digandakan telah dikendalikan untuk melakukan kejahatan. Mungkin juga aku telah melakukan pembunuhan..."
Tiba-tiba Sri Sikaparwathi keluarkan suara tercekat. Mukanya yang tadi mulai berdarah kini mendadak pucat dan tangan pegang dada. Bahunya bergoyang dan nenek ini mulai terisak-isak lalu menangis keras.
"Ada apa Sika?" tanya Gede Kabayana sambil mendekat dan pegangi bahu si nenek.
"Aku ingat mimpiku. Aku merasa yakin kalau diri gandaku telah membunuh Sedayu Galiwardhana..."
Gede Kabayana jadi ternganga mendengar ucapan sahabatnya itu. Kuduknya merinding dingin.
"Sika. Jika kau sudah sembuh betul kita akan menyelidiki kejadian ini. Goncangan aneh membuat samadiku tidak khusuk. Aku sempat melihat ada cahaya tiga warna keluar dari tubuhmu, melesat keluar rumah melalui atap tanpa atap mengalami kerusakan atau terbakar. Itu adalah tanda-tanda ilmu hitam yang jahat luar biasa..."
Sri Sikaparwathi usap air mata di pipinya yang cekung.
“Gede Kabayana, kita harus berterima kasih dan bersyukur pada Para Dewa. Walau menderita sakit sengsara selama dua hari namun Para Dewa masih melindungi dan menyelamatkan diriku. Mari kita sama-sama memanjatkan puji syukur serta berdoa bagi keselamatan masa datang..."
Kedua orang itu lalu pejamkan mata, menyampaikan rasa terima kasih serta berdoa pada Para Dewa memohon keselamatan. Selesai berdoa Gede Kabayana berkata.
"Sika, apakah kau tidak mencium bau sesuatu di dalam rumah ini?"
Si nenek menatap wajah sahabatnya itu lalu menghirup udara dalam-dalam. Wajahnya berubah.
"Aku mencium seperti ada bau busuk bangkai. Mungkin bau tubuhku." Si nenek lalu menciumi tubuh dan pakaiannya sendiri.
"Bukan, ini bukan bau busuk yang bisa muncul dari dalam rumah. Tapi datang dari luar rumah." Kata Gede Kabayana pula.
"Berarti ada seseorang atau mahluk yang masuk ke sini. Tapi kapan?" Tanya Sri Sikaparwathi.
"Mungkin sekali ketika kau tengah tertidur lelap dan aku sedang bersamadi."
"Kurasa rumah ini sudah tidak aman lagi. Aku harus mencari tempat kediaman baru." Kata Sri Sikaparwathi. Dia mengusap punggung kura-kura hijau di atas kepala. Tak sengaja kemudian tangannya yang habis mengusap di letakkan di depan hidung. Si nenek terkejut.
"Punggung Cahyo Kumolo! Bau busuk!"
“Berarti ada satu mahluk busuk membawanya ke sini..." kata Gede Kabayana.
"Cahyo Kumolo, berikan tanda padaku kalau memang ada satu mahluk busuk yang membawamu ke sini."
Kura-kura di atas kepala keluarkan suara menguik memberi tanda sebagai jawaban!
"Kau dengar sendiri," kata si nenek pada sahabatnya.
"Siapa pun mahluk busuk itu aku rasa dia tidak punya niat jahat. Karena kalau dia membekal niat jahat kita berdua pasti sudah dihabisi." Ucap Gede Kabayana.
"Cahyo Kumolo?!" Sikaparwathi bertanya lagi pada kura-kura sakti peliharaannya. Binatang itu untuk kedua kali menguik panjang. Membenarkan ucapan Gede Kabayana bahwa mahluk busuk yang membawanya kembali ke rumah tidak punya niat jahat.
"Berarti ada tambahan tugas. Kita harus mencari tahu siapa mahluk busuk bau bangkai itu." Kata Sri Sikaparwathi pula lalu melangkah ke pintu. Gede Kabayana berdiri. Sambil tegak disamping sahabatnya orang tua ini berkata.
"Sika, selain datang untuk memberi tahu mengenai dimana beradanya Sedayu Galiwardhana, aku juga membawa satu cerita yang ingin aku tanyakan kebenarannya."
"Cerita apa?"
"Riwayat Sumur Api. Konon dikabarkan akan terlahir dua orang bayi yang kelak akan menjadi dua Kesatria sakti andalan Kerajaan Bhumi Mataram..."
Sri Sikaparwathi palingkan wajah, menatap Gede Kabayana beberapa lama lalu berkata.
"Sebelum kau menjelaskan aku tidak pernah tahu dimana beradanya Sedayu Galiwardhana, namun aku pernah menyirap kabar bahwa Sedayu memiliki sebuah benda yang ada sangkut pautnya dengan Sumur Api. Mungkinkah dia dibunuh oleh pengendali mahluk ganda diriku karena benda tersebut?"
"Gading bersurat. Benda itukah yang kau maksudkan Sika?"
Si nenek anggukan kepala.
"Gede Kabayana, saat ini aku merasa sudah cukup kuat. Bagaimana kalau kita berdua melakukan penyelidikan mulai sekarang juga?"
"Tidak perlu menunggu barang satu dua hari? Kulihat wajahmu masih agak pucat." 
Sri Sikaparwathi tertawa.
"Mudah-mudahan Para Dewa kelak akan memberikan kesembuhan sempurna padaku dalam perjalanan."
Kedua orang bersahabat itu lalu tinggalkan rumah panggung di lereng lembah.

***

EMPAT
HUKUM KUTUKAN ATAS SANG PANGERAN

MAJELIS Keadilan Kerajaan Tarumanagara yang terdiri dari sembilan tokoh penting dalam sidangnya di Kotaraja pada pagi hari yang mendung itu mengambil keputusan menjatuhkan hukuman terhadap Pangeran Nalapraya. Keputusan yang dituangkan di atas daun lontar bertuliskan huruf Palawa dalam bahasa Sansekerta dibacakan oleh Ketua Mejelis, Resi Siga Kalamanda.
Dalam keputusan disebutkan bahwa Pangeran Nalapraya dijatuhi hukuman pancung di alun-alun Kerajaan karena terbukti telah melakukan pembunuhan atas diri Wiramenggala yang juga adalah ayah kandungnya sendiri dan merupakan Wakil Patih Kerajaan. Sebagai seorang Pangeran adalah tidak pantas dia melakukan perbuatan keji seperti itu. Kepada terhukum Majelis Keadilan memberikan kesempatan untuk menyampaikan pembelaan. Dalam pembelaan Pangeran Nalapraya mengatakan bahwa dia tidak mengakui telah  membunuh ayah kandungnya sendiri. Walau demikian dia menyatakan penyesalan terjadinya kematian sang ayah. Namun karena merasa tidak bersalah maka dia tidak meminta pengampunan.
"Kenyataan memang ada korban yang menemui kematian yaitu Wiramenggala yang adalah ayah kandung saya sendiri. Namun saya mempunyai kesan, Majelis Keadilan terlalu memaksakan hukuman mati atas diri saya karena korban adalah Wakil Patih Kerajaan. Padahal saksi yaitu ibu saya sendiri telah menjelaskan bahwa korban bukan menemui ajal karena saya bunuh, melainkan karena kecelakaan. Selain itu Majelis Pengadilan tidak meninjau secara dalam alasan mengapa korban akhirnya menemui kematian. Sejak dua tahun terakhir ayah telah berlaku sangat kejam terhadap Ibu. Ucapan kotor adalah yang sering dilontarkan korban merupakan makanan sehari-hari bagi Ibu. Dari hanya sekedar ucapan kotor perlakuan korban meningkat menjadi tindak kekerasan berupa penamparan bahkan pemukulan. Hai ini terjadi hampir setiap hari. Majelis Keadilan dan semua orang yang ada di sini bisa melihat sendiri keadaan Ibu saya yang hadir di tempat ini."
Lalu Pangeran Nalapraya menunjuk ke arah seorang perempuan yang duduk menangis terisak-isak di sebuah kursi. Wajahnya sembab bengkak dan ada beberapa luka yang  masih belum kering.
"Pagi hari satu minggu yang lalu, korban bukan lagi hanya memukuli ibu tapi berniat hendak membunuh Ibu dengan sebilah keris, hanya karena Ibu terlambat menyiapkan sarapan pagi. Padahal Ibu saat itu sedang gering, menderita sakit demam panas. Saya berusaha mencegah namun korban dengan semena-mena menikam saya..."
Pangeran Nalapraya lalu membuka lebar-lebar baju birunya di bagian dada. Pada bagian tubuh itu terlihat jelas luka bekas tusukan benda tajam sepanjang hampir setengah jengkal.
"Ketika saya berlumuran darah dan jatuh terlentang, korban tanpa belas kasihan sama sekali mendatangi Ibu, membanting Ibu ke lantai. Selagi Ibu terkapar tidak berdaya korban bergerak hendak menusuk ke arah leher. Saya berusaha menyelamatkan Ibu dengan menendang korban hingga jatuh terguling. Pada saat terguling keris yang di pegang korban sendiri secara tak sengaja menusuk dada dan menghujam tepat di arah jantung. Korban akhirnya tewas. Jelas seperti yang disaksikan sendiri oleh Ibu peristiwa itu adalah kecelakaan. Namun Majelis Keadilan menyebutnya sebagai pembunuhan tanpa dapat mengajukan saksi yang membenarkan tuduhan tersebut. Karena yang terjadi adalah kecelakaan maka saya tidak akan mengajukan pembelaan, juga tidak akan meminta ampun. Saya di sini hanya menyatakan menyesal  telah terjadinya peristiwa yang sangat tidak diharapkan itu. Selanjutnya saya tidak mengharapkan tanggapan Majelis Keadilan atas apa yang saya sampaikan ini. Saya menyatakan siap menerima hukuman dipancung di alun-alun di depan Istana sekarang juga! Biarlah ketidakadilan disaksikan oleh semua orang di Kerajaan ini. Dan tangan-tangan mereka yang berdarah semoga akan dibasuh oleh keadilan yang datang dari Para Dewa."
Ibu pangeran Nalapraya langsung menjerit lalu tersandar di tempat duduk setengah sadar setengah pingsan. Suasana persidangan menjadi kacau. Orang banyak yang ada dalam ruangan sidang berteriak-teriak gaduh. Mereka menghujat, mencaci maki Majelis Keadilan karena dianggap telah telah menjatuhkan hukuman semena-mena. Mereka meminta agar Pangeran Nalapraya segera dibebaskan.
Sementara gedung sidang menjadi kacau dan panas, di luar gedung hujan turun dengan lebatnya. Deru angin keras tiada henti. Sesekali kilat menyambar disusul gelegar suara guntur. Alam seolah ikut meratapi terjadinya ketidakadilan ini.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba ruangan sidang diterangi oleh seberkas cahaya terang yang entah dari mana datangnya. Cahaya itu menyorot ke arah sembilan anggota Majelis Keadilan dan Ketua Majelis Siga Kalamanda. Lalu ada getaran aneh di lantai, dinding serta  langit-langit ruangan sidang. Sesaat kemudian terdengar gema suara yang membuat banyak orang jadi kecut merinding.
"Selama ini manusia tidak pernah menerapkan keadilan dengan benar, maka selama itu pula tangan Para Dewa akan turun ke bumi. Hukuman pancung atas diri Pangeran Nalapraya tidak akan menghidupkan kembali Wakil Patih Kerajaan Wiramenggala. Malah hanya akan menambah jatuhnya satu korban lagi. Para Dewa di Swargaloka telah menetapkan bahwa Pangeran Nalapraya yang berusia delapan belas tahun hanya pantas dihukum dengan kutukan selama sepuluh tahun. Bilamana sebelum masa hukuman kutuk itu berakhir dia menemukan seorang anak perawan yang bersedia dinikahinya maka kutukan akan berakhir. Tiada tuntutan lagi yang boleh dijatuhkan atas dirinya."
"Roh Agung!"
Ada beberapa orang di dalam ruangan sidang berseru dengan suara tercekat. Begitu mendengar suara tanpa kelihatan ujud orang yang bicara, semua orang yang ada di ruang sidang tundukkan kepala. Para anggota Majelis Keadilan tampak ketakutan. Orang banyak berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah sepuluh orang itu. Apa yang terjadi. Sembilan mulut anggota Majelis Keadilan ditambah sang Ketua Siga Kalamanda saat itu tampak pencong ke kiri. Ketika mereka berusaha bicara yang keluar hanya suara cadel!
Sepuluh orang ini langsung jatuhkan diri ke lantai ruangan, tempelkan kening di lantai berulang kali dan keluarkan ucapan yang tidak jelas. Agaknya mereka tengah menyeru Para Dewa mohon pengampunan. Namun apa yang mereka mohon tidak terjadi malah orang banyak di ruangan itu terus memaki dan menyoraki mereka!
Pangeran Nalapraya adalah satu-satunya orang di ruang sidang yang masih tetap berdiri tegar. Setelah merunduk setengah berlutut pemuda gagah ini membuka mulut dengan suara lembut tapi jelas sehingga orang mendengar.
"Mahluk yang bicara tanpa kelihatan ujud. Salam sejahtera untukmu. Tiada kekuasaan tertinggi selain kuasaNya Para Dewa. Saya percaya hukum kutuk yang tadi diucapkan datangnya dari Swargaloka. Saya ikhlas menerima. Karena itu saya mohon diberi tahu hukum kutuk apa yang akan dijatuhkan pada diri saya."
"Pangeran Nalapraya, salam sejahtera berbalas bagi dirimu. Masuklah ke Hutan Raja. Saat ini baru saja memasuki musim penghujan. Kau akan melihat banyak sekali bunga-bunga mengembang. Carilah bunga bunga paling besar di dalam Hutan Raja dan menebar busuknya bau bangkai. Pegang kuncup hijaunya. Maka seperti itulah ujud hukuman akan jatuh atas dirimu. Kepalamu mulai dari leher ke atas akan lenyap dan berganti menjadi bunga besar berbau busuknya bangkai! Bilamana kutuk telah jatuh atas dirimu dan kau telah mengalami perubahan, tinggalkan Kerajaan ini, pergilah ke arah timur hingga akhirnya kau menemukan sebuah Kerajaan bernama Bhumi Mataram. Menetaplah di sana sampai Para Dewa memberi petunjuk lebih lanjut atas dirimu. Perlu kau ketahui, bilamana Para Dewa menghendaki, sewaktu-waktu kau menjalani hukuman, ujud kepalamu bisa kembali untuk beberapa ketika."
Tidak lagi memperdulikan Majelis Keadilan, Nalapraya menemui ibunya, memeluk dan mencium kening perempuan itu dan berkata "Ibu, maafkan anakmu. Jika Para Dewa menghendaki kita pasti akan bertemu."
Sang ibu menjerit keras. Sebelum jatuh pingsan perempuan ini berteriak.
"Roh Agung. Hyang Jagat Bathara Dewa! Siapapun yang hadir di tempat ini secara gaib. Puteraku Nalapraya tidak berdosa! Aku mohon biar diriku yang menerima hukum kutukan! Jangan hukum kutukan dijatuhkan atas dirinya!"
Untuk kedua kalinya perempuan ini rubuh dan kali ini dia benar-benar pingsan. Dengan menguatkan hati Pangeran Nalapraya tinggalkan ruangan sidang. Setengah berlari dia pergi memasuki Hutan Raja yang terletak di pinggir selatan Kotaraja. Beberapa orang mengikuti. Kebanyakan dari mereka adalah para sahabat dan tetangga si pemuda. Ketika sampai di dalam Hutan Raja orang-orang itu tidak berhasil menemui sang Pangeran. Selain itu sebuah bunga besar yang disebut Bunga Bangkai dan selama ini terlihat tumbuh di dalam Hutan Raja dekat sebuah kolam, kini tidak kelihatan lagi. Lenyap tidak diketahui kemana perginya.
Seekor burung gagak hitam berdiri di atas sebuah batu besar tak jauh dari tempat beradanya Bunga Bangkai. Burung ini tiada henti mematuki batu keras itu hingga akhirnya berlubang. Dari lubang itu mengucur keluar air sangat bening. Seolah air mata yang meratapi nasib peruntungan malang pemuda bernama Nalapraya. Sejak hari itu pula Pangeran Nalapraya tidak pernah terlihat lagi Di Tarumanegara.

***

LIMA
PERNIKAHAN GAIB

SATU purnama setelah peristiwa jatuhnya hukum kutukan atas dirinya, Nalapraya sampai di sebuah desa bernama Tegal rejo. Karena tidak tahu mau pergi kemana atau menemui siapa akhirnya pemuda ini mencari satu tempat yang baik untuk beristirahat. Nalapraya menemukan sebuah goa begitu sunyi, juga agaknya jarang orang mendatangi tempat itu. Ditambah pula keadaan goa yang bersih dan sejuk serta tak jauh dari situ ada satu rimba belantara yang ditumbuhi banyak pohon bebuahan lalu terdapat pula sebuah telaga kecil maka pemuda ini memutuskan untuk menjadikan goa tersebut sebagai tempat kediaman sementara hingga dia menemukan tempat yang lebih baik.
Beberapa hari berada di goa ternyata Nalapraya merasa kerasan hingga akhirnya dia menjadikan goa itu sebagai tempat kediaman selamanya sekaligus menjadi tempat pertapaan sampai petunjuk dari Yang Maha Kuasa datang.
Memasuki tahun kedua pertapaannya di goa Tegalrejo itu, Nalapraya yang kepalanya masih berujud Bunga Bangkai, pada suatu malam ketika dia tengah khusuk bersemedi tiba-tiba ada seberkas cahaya putih berbentuk bola masuk ke dalam goa dan turun di atas pangkuannya. Walau hati bergejolak namun Nalapraya berusaha bertahan agar tapa samadinya tidak terhenti. Pada saat itu dia mendengar suara mengiang di telinganya kiri kanan.
"Anak perjaka pilihan Para Dewa. Sudahi tapa samadimu sekarang juga. Buka dua matamu dan lihat apa yang ada di pangkuanmu."
Nalapraya coba untuk tidak mengambil perhatian dan tidak mengikuti perintah suara gaib itu. Namun serta merta sekujur tubuhnya menjadi panas. Kuncup hijau di kepalanya mengepulkan asap, bunga kuning berbintik coklat di atas bahu menciut mengeriput. Getaran keras menyelimuti sekujur tubuh. Tidak mampu bertahan akhirnya si pemuda membuka ke dua matanya. 
"Nalapraya, katakan apa yang kau lihat berada di pangkuanmu?" Suara mengiang bertanya.
"Siapa yang bertanya?" Nalapraya balik bertanya.
"Tidak perlu balik bertanya. Jawab saja apa yang ditanya."
Si pemuda menatap ke arah pangkuannya lalu berkata. "Saya melihat cahaya berbentuk bulat seperti bola."
"Sekarang dengar baik-baik. Cahaya itu akan menuntunmu ke suatu tempat yang sangat rahasia. Di tempat ini kau akan dipertemukan dengan seorang anak perawan berhati mulia. Di tempat ini kau akan dinikahkan dengan anak perawan itu. Kau boleh mengunjunginya sebanyak tujuh kali berturut-turut dan melakukan hubungan sebagai suami istri. Pada setiap pertemuan Para Dewa menurunkan berkah padamu hingga ujud kepalamu kembali ke bentuk asal. Setelah
tujuh kali maka kau tidak akan bertemu lagi dengan anak perawan itu, kecuali Para Dewa menghendaki lain. Dari hasil hubungan kalian kelak istrimu akan melahirkan dua orang bayi laki-laki. Keduanya akan menjadi Kesatria sakti mandraguna andalan Kerajaan Bhumi Mataram. Sekarang bersiaplah untuk berangkat."
Nalapraya tidak segera bangkit berdiri tapi keluarkan ucapan.
"Suara gaib, siapapun kau adanya apakah saya boleh mengajukan pertanyaan?"
"Lakukan cepat. Waktumu tidak banyak" 
"Saya ingin tahu dimana letak tempat sangat rahasia itu. Apakah tempat itu memiliki nama?"
"Sayang sekali, Para Dewa tidak akan memberi tahu nama atau letak tempat yang kau tanyakan itu."
Nalapraya terdiam sesaat lalu kembali bertanya.
"Siapakah nama anak perawan yang akan dinikahkan Dewa dengan saya itu?"
"Hal itupun tidak diperkenankan Para Dewa untuk kau ketahui." Suara mengiang berikan jawaban.
"Jika ini benar-benar datang atas kemauan Para Dewa, maka saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya memilih meneruskan bertapa di goa ini. Saya harap siapapun adanya jangan mengganggu diriku lagi."
"Anak perjaka bernama Nalapraya. Sadar atau tidak kau telah terikat pada perjanjian dengan Para Dewa. Kau akan mendapatkan kesembuhan dari hukum kutukan bilamana mengikuti apa yang telah ditetapkan Para Dewa."
"Kalau begitu saya lebih memilih mati di tempat ini dari pada mengikuti satu kemauan yang dipaksakan dan sangat tidak adil. Silahkan Para Dewa mencabut nyawa saya saat ini juga!"
Lalu Nalapraya duduk bersila, pejamkan mata, dua tangan dirangkap di atas dada.
"Anak muda, mengapa bersikap bodoh. Ketidak adilan yang kau katakan itu justru  mendatangkan rakhmat di masa datang. Bukankah kau berjanji pada Ibumu akan menemui perempuan itu. Bagaimana mungkin kau akan datang padanya dengan ujud kutukan seperti keadaanmu saat ini?"
"Hukum kutukan ini telah saya terima dengan pasrah. Mengapa masih ada tindakan yang saya rasakan sangat tidak adil dan ingin terus menerus memperalat saya?"
"Nalapraya, justru di dalam ketidakadilan itu kau kelak akan mendapatkan keadilan. Bilamana kau tetap menginginkan kematian maka kelak Bhumi Mataram akan dilanda kekacauan besar tanpa ada yang bisa mengendalikan dan memperbaiki."
"Saya orang Tarumanagara. Saya tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap Bhumi Mataram."
"Kau keliru anak muda. Tarumanagara dan Bhumi Mataram hanyalah sebagian kecil dari jagat ciptaan Yang Maha Kuasa. Dimanapun kau berada kau sebenarnya berada di alam yang sama. Jadi kau memiliki rasa tanggung jawab serta bakti yang sama pula. Kita semua adalah insan yang diciptakan untuk semua dan semua untuk kita."
Lama Nalapraya duduk terdiam. Perlahan-lahan dia kemudian berdiri. Bola bercahaya di pangkuannya bergerak naik, melayang ke arah mulut goa. Tanpa berkata apa-apa lagi Nalapraya melangkah mengikuti cahaya bundar itu. Dia tidak menyadari kalau saat itu dia bukan melangkah biasa  tapi melesat cepat laksana hembusan angin!

***

MALAM itu di tempat kediamannya di dasar Sumur Api, yang terletak antara Prambanan dan Kali Dengkeng, selagi berada di atas pembaringan antara tertidur dan jaga Ananthawuri tiba-tiba mencium bau sangat busuk. Kepalanya langsung pusing dan perut mual. Anak perawan dari Desa Sorogedug ini berusaha agar tidak muntah. Nafasnya mulai terasa lega ketika bau busuk lenyap dan kini berganti dengan bau wangi harum semerbak. Saat itu dia dapatkan diri terbaring bukan di dalam kamar, namun di alam terbuka. Dari arah langit kelihatan ada satu cahaya putih, mendatangi ke arahnya lalu menyelubungi sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Saat itu juga Ananthawuri merasakan ada kehangatan dalam tubuhnya. Lalu ada hembusan nafas di permukaan wajahnya. Si gadis membuka mata lebih besar. Sesaat kemudian dia baru menyadari kalau ada satu sosok tubuh di dalam cahaya putih. Sosok tubuh ini adalah sosok seorang pemuda berwajah gagah, mengenakan pakaian serba biru.
"Anak perawan, siapakah namamu?" Pemuda gagah bertanya.
Ananthawuri membuka mulut hendak menjawab. Namun tiada suara yang mampu diucapkannya. Dia hanya bisa mengedipkan mata dan tersenyum.
"Anak perawan, apakah kau sudah mengetahui kalau Para Dewa akan menikahkan kita?"
Kembali si pemuda berbaju biru yang bukan lain adalah Nalapraya berkata dan lagi-lagi Ananthawuri tak kuasa menjawab. Nalapraya muncul dan dengan kuasa Para Dewa, muncul dengan kepala utuh sebagaimana aslinya.
Tiba-tiba ada suara gaib berkata.
"Nalapraya, Para Dewa bukan akan, tapi baru saja telah menikahkan kalian secara gaib. Anak perawan itu sekarang syah menjadi istrimu. Perlakukan dia sebagai seorang istri sebagaimana mestinya."
Si pemuda memandang ke langit. Apa yang dikatakan suara gaib sewaktu di goa Tegalrejo kini agaknya akan menjadi kenyataan. Namun dalam diri anak muda berperilaku baik ini muncul perasaan bimbang.
"Apakah saya tidak menyalahi aturan adat dan agama jika saya menggauli anak perawan ini?"
"Para Dewa telah mengatur semuanya. Jangan ada perasaan bimbang apa lagi ragu !” Terdengar jawab suara gaib. "Ini adalah berkat Para Dewa paling besar untuk dirimu dan calon istrimu. Kalian berdua telah menjadi insan-insan terpilih."
Nalapraya menatap wajah cantik Ananthawuri beberapa ketika lalu bertanya.
"Anak perawan, apakah kau bersedia dan ikhlas dinikahkan Para Dewa dengan diriku?"
Jawaban tak terdengar meluncur dari  mulut Ananthawuri.
"Mulutmu bergerak tapi suaramu sejak tadi tidak terdengar," kata Nalapraya pula. "Berikan tanda jika kau suka menikah denganku. Jika kau ikhlas mau menjadi istriku."
Ananthawuri tersenyum. Kedipkan mata lalu anggukkan kepala. Ketika si pemuda memeluk tubuhnya dia balas merangkul. Dia telah lama menunggu hal ini terjadi. Sejak mahluk Roh Agung memberi tahu. Malam itu terjadilah hubungan suami istri antara kedua insan tersebut. Ternyata atas kehendak Para Dewa Nalapraya tidak cuma datang malam itu. Dia muncul tujuh malam berturut-turut. Pada malam ke tujuh Nalapraya berkata pada Ananthawuri.
"Kekasihku istriku. Atas kehendak Para Dewa malam ini adalah malam terakhir aku mengunjungimu. Setelah itu semua kembali berpulang pada Yang Maha Kuasa. Mungkin kita akan bertemu lagi, mungkin juga tidak untuk selama-lamanya. Jika kelak dari hubungan kita selama tujuh malam kau mengandung dan melahirkan dua anak lelaki, pelihara mereka baik-baik. Berikan nama Mimba Purana pada anak kita yang bungsu dan Dirga Purana pada putera
kita yang sulung. Berdoalah setiap malam tiba agar sewaktu-waktu kita bisa berkumpul kembali. Satu hal perlu aku beri tahu. Walau kita telah berhubungan dan kelak kau akan melahirkan, namun menurut  suara gaib yang sering kudengar, kau akan tetap merupakan seorang gadis, seorang anak perawan. Karena Para Dewa telah memilih dirimu dan menyayangi dirimu."
Mendengar kata-kata Nalapraya, Ananthawuri kucurkan air mata. Mulutnya bergerak. Banyak kata-kata yang diucapkan.Tetapi seperti yang sudah-sudah suaranya tidak pernah keluar dan terdengar. Nalapraya memeluk Ananthawuri erat-erat, mencium pipi dan keningnya berulang kali. Si gadis kemudian keluarkan sehelai sapu tangan warna merah muda.
"Brettt!"
Ananthawuri robek sapu tangan itu tepat di bagian tengah. Potongan pertama diserahkan pada Nalapraya, potongan kedua disimpan di balik pakaian hijau yang dikenakannya.
"Kekasihku, istriku tercinta. Aku mengerti...aku mengerti apa maksudmu."
Nalapraya mengambil robekan sapu tangan, menciumnya berulang kali, menyimpan di balik pakaian lalu dia kembali memeluk Ananthawuri. Cukup lama kedua insan itu saling berangkulan dengan saling mengucurkan air mata sampai akhirnya Ananthawuri menyadari bahwa saat itu sosok sang suami tidak ada lagi dalam pelukannya.

***

SEPERTI yang diriwayatkan dalam kisah sebelumnya dalam judul "Perawan Sumur Api" apa yang telah terjadi dengan dirinya diceritakan Ananthawuri pada Sukantili  sang ibunda yang juga diam di dasar Sumur Api. Hanya saja kepada sang ibu anak perawan ini mengatakan bahwa dia tidak mengalami secara sungguhan, tapi mengalami dalam mimpi. Dan semua apa yang terjadi tidak dituturkan secara lengkap. Karena bagaimanapun juga si gadis merasa malu. Hari ke delapan sang pemuda memang tidak datang lagi. Demikian juga hari-hari berikutnya. Ananthawuri menunggu dengan penuh sabar dan penuh harapan. Hingga pada suatu hari akhirnya anak perawan itu menemui ibunya, memberi tahu bahwa dia telah terlambat haid.
"Saya merasa ada kelainan pada tubuh saya."
"Kelainan bagaimana anakku?" tanya sang Ibu.
"Dada saya bu Tadi pagi saya memperhatikan dan meraba. Dada saya membesar dan lebih kencang dari biasanya. Pinggul saya terasa melebar. Ibu, jangan-jangan saya..."
Sukantili memeluk anaknya. Seminggu kemudian Sukantili melihat ada kelainan pada perut anaknya. Sang Ibu tidak bisa menduga lain. Anak perawannya memang benar-benar telah mengandung.
"Anakku, kalau bukan kehendak dan kuasa Yang Maha Kuasa, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi." Sukantili lalu memeluk anak gadisnya. Saat itu tiba-tiba berhembus tiupan angin disertai suara berdesir seolah-olah ada seorang berjubah panjang melintas di samping ibu dan anak itu. Lalu terdengar suara tanpa ujud.

Dua insan yang tengah bersatu hati
Di dunia ini tidak ada yang abadi
Namun kehendak Yang Maha Kuasa adalah pasti 
Ananthawuri, takdir Yang Maha Kuasa telah terjadi 
Kau hamil tapi dirimu tetap suci
Setelah sembilan bulan sepuluh hari
Kau akan melahirkan
Namun kau tetap sebagai seorang perawan 
Karena keturunanmu sudah ditetapkan
Menjadi Kesatria Bhumi Mataram

***

ENAM
SEBAYANG KALIGANTHA

TELAH lebih dua hari Ratu Dhika Gelang Gelang mendatangi hampir seluruh candi di dalam dan di luar batas Kerajaan Bhumi Mataram. Namun orang yang dicari yaitu pemuda kekasihnya yang bernama Sebayang Kaligantha tidak kunjung ditemukan. Dengan perasaan kawatir Ratu Dhika mendatangi rumah kediaman si pemuda di sebuah desa kecil di kaki persimpangan Kali Elo dan Kali Progo. Ternyata rumah si pemuda kosong.
"Pus Meong Ragil Abang," kata perempuan gemuk berkulit hitam itu pada kucing merah peliharaannya. "Aku tidak tahu lagi kita mau mencari ke mana. Namun aku kawatir telah terjadi sesuatu dengan Sebayang Kaligantha. Sekarang aku perlu  bantuanmu. Pergunakan kemampuan penciumanmu. Coba kau lacak dimana keberadaan pemuda itu."
Ratu Dhika lalu masuk kembali ke dalam rumah. Turunkan kucing besar merah. Binatang ini mengelilingi bagian dalam rumah sambil mengendus tiada henti. Lalu keluar dan melanjutkan mencium jejak-jejak di tanah yang telah mulai pupus. Tak lama kemudian didahului suara mengeong panjang Ragil Abang melompat ke kiri dan selanjutnya lari ke arah timur.
Mengikuti sekitar sepeminuman teh ternyata kucing merah lari ke arah hutan jati yang sudah gersang, terus ke satu bukit kapur yang jarang didatangi manusia. Di atas bukit kapur ini ada satu runtuhan candi. Ragil Abang mengeong keras di depan tangga candi yang sudah hancur.
"Oala...Pertanda buruk! Pertanda buruk!" kata Ratu Dhika Gelang Gelang.
Lalu sekali melesat perempuan gemuk ini melesat melewati tembok candi. Sampai di bagian dalam candi, Ratu Dhika Gelang Gelang memekik keras. Di atas satu gundukan batu rata terbujur tertelentang sosok seorang pemuda. Dua mata terpejam. Tubuh yang sebelumnya kekar berotot tampak lunglai tiada daya. Jangankan bergerak, bemafaspun agaknya dilakukan dengan susah payah. Pipi dan rongga matanya cekung membiru. Karena hanya mengenakan celana maka di dadanya yang telanjang terlihat jelas satu robekan  luka yang masih menganga sepanjang satu jengkal. Dua kaki dan dua tangan terpentang diikat dengan rantai besi sebesar betis. Ujung rantai besi dipendam ke dalam gundukan batu.
"Sebayang! Jahanam mana yang menyiksamu seperti ini! Akan kubunuh! Akan kuhabisi!" Teriak Ratu Dhika Gelang Gelang. Tangan kanan diangkat ke atas.Tangan itu serta merta pancarkan cahaya merah. Begitu dihantamkan empat kali berturut-turut, empat rantai besi yang mengikat dua tangan dan dua kaki si pemuda tak ampun lagi hancur berkeping-keping.
Ratu Dhika Gelang Gelang cepat turunkan sosok pemuda dari atas gundukan batu rata, dibaringkan di lantai candi, kepala dipangku. Sebelum kembali mengajukan pertanyaan perempuan ini cepat kerahkan hawa sakti dan tenaga dalam, dimasukkan ke dalam tubuh si pemuda melalui ubun-ubun dan pusar. Dada yang luka diusap dengan telapak tangan kiri.
Sepasang mata si pemuda terbuka sedikit. Begitu terbuka dia langsung menjerit. Wajahnya yang tidak berdarah menunjukkan rasa takut amat sangat. Ratu Dhika tepuk-tepuk wajah pemuda itu.
"Sebayang, tenang! Tidak ada yang perlu kau takutkan. Lihat ini aku. Ratu Dhika Gelang Gelang, kekasihmu!"
Dua mata membuka lebih lebar. Si pemuda mengenali. Mulutnya berucap lirih. 
"Ratu, syukur kau datang. Satu hari saja terlambat pasti aku sudah jadi mayat..."
"Katakan apa yang terjadi dengan dirimu. Ada koyakan luka di dadamu. Seseorang telah mencuri sesuatu dari dalam tubuhmu!"
"Kau betul Ratu. Lima hari lalu ada tiga orang muncul di rumahku. Yang dua hanya sebagai pengiring. Yang satu orang pelakunya. Aku di bawa ke tempat ini. Dadaku dirobek. Orang itu mengambil jimat Mutiara Mahakam dari dalam rongga dadaku."
"Kurang ajar! Kau tahu, kau mengenali siapa manusianya?!" tanya Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Aku mengenali. Tapi agaknya dia bukan tokoh yang menjadi otak perbuatan keji itu. Dia hanya seorang yang disuruh diperalat..."
"Tidak perduli siapa dia. Yang penting lekas kau katakan siapa nama orang itu!"
"Dia orang dari selatan, Namanya....."
"Bett....bettt!"
Belum sempat Sebayang Kaligantha menyelesaikan ucapan memberi tahu nama si penjebol dadal pencuri jimat Mutiara Mahakam, tiba-tiba dua buah benda hitam melesat di udara. Benda pertama cepat dihantam Ratu Dhika Gelang Gelang dengan pukulan tangan kosong tangan kiri hingga mental dan menancap di dinding lapuk  candi. Benda kedua tak mampu disingkirkan. Benda ini dengan telak menancap tembus ke dalam tenggorokan Sebayang Kaligantha. Darah muncrat. Dari mulut si pemuda keluar suara menggorok pendek lalu kepalanya terkulai. Mata nyalang tak berkesip. Tubuhnya mulai dari leher sampai kepala serta dari leher sampai separuh dada tampak membiru pertanda ada racun jahat yang mengidap.
"Ragil Abang! Kejar pembunuh jahanam itu!" teriak Ratu Dhika Gelang Gelang pada kucing merah. Dia memeriksa keadaan Sebayang Kaligantha sebentar. Setelah memastikan bahwa pemuda itu tidak bernyawa lagi, perempuan ini menggerung keras. Puas menangis mayat yang masih hangat itu dibaringkan di lantai candi. Sepasang mata yang terbuka disapu dengan tangan agar tertutup. Setelah lebih dulu menotok leher Sebayang Kaligantha, Ratu Dhika mencabut benda yang menancap di tenggorokan kekasihnya. Ternyata sebuah besi pipih bulat yang pinggirannya bergerigi dan berwarna biru karena dilapisi racun jahat. Ratu Dhika Gelang Gelang masukkan senjata rahasia itu ke balik pakaiannya lalu melompat ke arah melesatnya kucing merah.
Setelah mengejar cukup lama dia tidak mampu menyusul atau menemui si kucing merah. Ratu Dhika Gelang Gelang hentikan pengejaran. Dua tangan diangkat ke atas lalu digoyang-goyang hingga dua gelang yang digelantungi  kerincingan mengeluarkan suara keras. Dengan berbuat begitu perempuan ini berharap kucingnya akan mendengar dan datang ke arahnya. Namun sampai dua tangan terasa letih binatang itu tidak kunjung muncul.
"Sesuatu telah terjadi dengan Ragil Abang! Jangan-jangan dia sudah menemui ajal pula. Dibunuh manusia jahat pembunuh Sebayang Kaligantha!" 

***

DI LANGIT sang surya mulai menggelincir ke ufuk tenggelamnya di sebelah barat. Ratu Dhika Gelang Gelang cemas sekali dan juga jengkel. Sampai saat itu dia belum mendapatkan jejak si kucing merah. Apa lagi jejak pembunuh Sebayang Kaligantha. Apa saja yang menghalangi jalannya seperti batu, semak belukar bahkan pohon habis dilabraknya dengan tendangan hingga mencelat hancur.
Tiba-tiba perempuan yang sebenarnya adalah puteri ke tiga dari Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu yang pernah memerintah Kerajaan Bhumi Mataram, hentikan langkah. Kepala diputar, memandang berkeliling. Dia tidak melihat sesuatu tapi dia bisa mencium.
"Bau busuk. Busuk bangkai. Apa ada mayat binatang atau manusia sekitar sini?"
Ratu Dhika berucap seorang diri. Dia menghirup udara dalam-dalam. Hampir muntah tak tahan oleh bau busuk yang menyengat memasuki jalan pernafasan sampai di rongga dadanya. Namun dengan cara begitu dia  berhasil mengetahui dimana beradanya sumber bau busuk. Begitu dia melompat ke balik serumpunan semak belukar, perempuan ini berteriak girang.
"Pus Meong Ragil Abang!"
Ternyata kucing merah itu masih hidup. Namun bersamaan dengan itu Ratu Dhika Gelang Gelang tersurut mundur sampai tiga langkah.

***

TUJUH
PEMBUNUH DARI SELATAN

DI DEPAN semak belukar lebat, bersandar ke sebuah batu hitam besar duduk menjelepok di tanah satu mahluk yang seumur hidup baru kali itu dilihat Ratu Dhika Gelang Gelang. Jika manusia mana kepalanya. Kalau hantu mengapa tubuhnya utuh seperti seorang manusia? Dan Ragil Abang si kucing merah duduk jinak di pangkuan mahluk aneh itu tengah diusap-usap kepalanya!
Orang yang duduk di tanah bersandar ke batu itu mengenakan baju dan celana biru. Bahu baju sebelah kiri dalam keadaan robek. Tubuhnya mulai dari leher ke atas tidak memiliki kepala. Sebagai pengganti kepala ada sekuntum bunga luar biasa besar, berwarna kuning berbintik coklat. Bunga ini dilapisi lendir. Pada bagian tengah bunga mencuat kuncup berwarna hijau setinggi tiga jengkal. Bunga aneh ini  menebar bau busuknya bangkai yang membuat Ratu Dhika Gelang Gelang hampir tidak sanggup menahan muntah.
"Bunga Bangkai...." Ucap Ratu Dhika Gelang Gelang. Lalu perempuan ini berteriak. "Ragil Abang! Apa yang kau perbuat di situ! Lekas kesini!"
Kucing merah di atas pangkuan mahluk aneh lalu melompat dan lari ke arah Ratu Dhika Gelang Gelang, langsung naik ke atas bahunya.
"Pemilik kucing merah telah datang. Aku gembira. Salam sejahtera untukmu..."
Ratu Dhika Gelang Gelang terbelalak. Mahluk yang punya kepala berbentuk Bunga Bangkai itu ternyata bisa bicara!
"Mahluk aneh! Kau ini hantu atau manusia?!" Membentak Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Aku adalah sebagaimana kau melihat diriku saat ini," jawab mahluk yang ditanya yaitu Nalapraya alias Pangeran Bunga Bangkai.
"Kau apakan kucingku?!"
"Tidak aku apa-apakan. Dia kucing baik. Aku tadi hanya mengelus-elusnya. Ternyata kucingmu itu punya kepandaian tinggi. Tadi dia tengah mengejar seseorang.
"Seseorang siapa?!" Tanya Ratu Dhika Gelang Gelang. "Mana orangnya?!"
"Aku tidak tahu siapa orang itu.Tapi saat ini dia adi atas sana. Sudah jadi mayat!" Pangeran Bunga Bangkai menunjuk ke  atas pohon besar di belakang Ratu Dhika Gelang Gelang. Ketika perempuan ini berputar dan mendongak ke atas, dia melihat seorang tua berkumis dan berjanggut putih, berpakaian serba hitam, tergelimpang melintang di atas cabang pohon. Ratu Dhika berpikir-pikir kalau kucingnya yang membunuh orang itu mengapa korban berada di atas cabang pohon? Lalu mengapa tidak ada tanda-tanda luka bekas cakaran atau gigitan. Pertanyaan selanjutnya, apakah orang itu yang telah membunuh Sebayang Kaligantha?
Dari dalam saku pakaiannya mahluk tanpa kepala berpakaian serba biru keluarkan sebuah benda. Kejut Ratu Dhika Gelang Gelang bukan kepalang ketika dia melihat benda apa yang ada di tangan mahluk aneh bau bangkai itu. Benda tersebut adalah benda pipih bulat bergerigi dan berwarna biru seperti yang dipergunakan orang untuk membunuh Sebayang Kaligantha. Untuk memastikan dia tidak keliru Ratu Dhika Gelang Gelang keluarkan benda yang disimpannya di balik pakaian, yang sebelumnya membunuh dan menancap di leher kekasihnya. Sama!
"Jahanam keparat! Jadi kau pembunuhnya!" teriak Ratu Dhika Gelang Gelang. Wuttt! Dia lemparkan besi pipih bulat bergerigi dan mengandung racun itu ke arah mahluk berkepala Bunga Bangkai.
"Hyang Bathara Jagat! Tidak ada permusuhan mengapa kau menyerang dengan  benda beracun! Siapa yang aku bunuh?!"
Nalapraya berseru sambil cepat melompat ke samping.
"Kau membunuh Sebayang Kaligantha!"
"Siapa itu Sebayang Kaligantha? Aku tidak kenal!" teriak Nalapraya.
Saat itu besi bulat bergerigi yang dilemparkan ke arahnya walau bisa dielakkan namun masih sempat menyambar pucuk hijau yang menjadi kepalanya hingga tergores dan mengepulkan asap, membuat bau bangkai busuk semakin menjadi-jadi.
"Bagus! Mahluk iblis! Kau punya ilmu juga rupanya! Keluarkan semua ilmu kepandaianmu! Kalau kau tidak mampus dalam tiga jurus lebih baik aku bunuh diri!"
Tangan kanan Ratu Dhika Gelang Gelang berkelebat ke depan. Bukan untuk melepaskan pukulan sakti tapi tangan itu justru berubah panjang. Lima jari yang kini membentuk cakar besi lancip melesat ke dada Nalapraya. Siap untuk menjebol dada dan menghancurkan jantung! Inilah serangan bernama Cakar Besi Penghancur Berhala!
"Hai! Apa salahku kau menyerang seganas ini?!" Kembali Pengeran Bunga Bangkai berteriak sambil melompat mundur.
Breettt!
Tak urung dua ujung jari lancip yang sudah berubah menyerupai besi hitam legam masih sempat merobek dada pakaian birunya. Melihat serangannya lagi-lagi tidak mampu mengenai sasaran Ratu Dhika Gelang  Gelang menjadi Kalap. Didahului teriakan dahsyat perempuan ini kembali menyerbu. Dua tangan di pentangkan ke depan. Sepuluh kerincingan yang tergantung di gelang emas keluarkan suara nyaring. Bersamaan dengan itu sepuluh sinar kuning menyambar.
Pada saat itulah tiba-tiba Ragil Abang si kucing merah yang berada di bahu kanan Ratu Dhika tegakkan ekor, mengeong keras lalu melompat dan mendekam di bahu kiri Nalapraya. Binatang ini kembali mengeong sambil lidahnya menjilat-jilat bahu Pangeran Bunga Bangkai.
"Ragil Abang! Apa yang kau lakukan! Lekas menyingkir atau kau akan mati sekalian!" Teriak Ratu Dhika dalam amarahnya yang meledak karena terpaksa batalkan serangan maut.
"Kucingmu mau menunjukkan bahwa dia bersahabat dengan diriku. Jika kami bersahabat maka berarti kau juga adalah sahabatku!"
"Hantu kesasar! Enak saja kau bicara!" Hardik Ratu Dhika Gelang Gelang begitu mendengar kata-kata Nalapraya Namun kalau tadi dia sangat marah melihat perbuatan Ragil Abang yang melompat ke bahu mahluk tanpa kepala itu, kini amarahnya mengendur sedikit dan ini membuat dia mau berpikir lebih jernih.
"Ragil Abang memang menunjukkan sikap bersahabat dengan mahluk aneh kesasar itu. Mengapa?" Ratu Dhika ingat pada mayat yang melintang di cabang pohon. Perempuan ini  angkat tangan kanannya. Diarahkan pada mayat di atas pohon. Lalu dia kerahkan ilmu bernama Selaksa Angin Menghisap Roh. Begitu tangannya bergerak sedikit maka mayat di atas pohon tertarik keras ke bawah dan jatuh bergedebukdi tanah. Dengan cepat Ratu Dhika Gelang Gelang memeriksa pakaian orang itu. Dalam sebuah kantong kain berwarna hitam dia menemukan lima
buah besi bulat pipih bergerigi berwarna biru.
"Kurang ajar!" Rutuk Ratu Dhika.
"Tapi...." Perempuan ini angkat kepala, memandang melotot pada Nalapraya. "Mahluk aneh, katakan dengan jujur. Bagaimana kau juga memiliki benda pembunuh seperti ini?!
Jangan-jangan kau menipuku. Bukan mustahil kau adalah kawan dari kakek ini!"
"Aku tidak memiliki benda pembunuh itu. Yang aku keluarkan dan aku perlihatkan padamu tadi adalah senjata rahasia yang dipergunakan kakek itu untuk menyerang kucing milikmu. Ketika aku berusaha menolong kucingmu, kakek yang aku tidak kenal itu berbalik menyerangku. Aku bermaksud hanya melumpuhkannya.Tapi dia malah semakin ganas. Aku terpaksa menendangnya hingga mencelat mental ke atas cabang pohon. Ketika terkapar di atas cabang sana, sebuah benda jatuh dari balik pakaiannya. Ternyata senjata rahasia berbentuk besi bulat biru dan bergerigi itu. Si kakek menemui kematian diatas pohon. Mungkin ada isi perutnya yang  pecah. Aku menyesal, aku merasa berdosa. Seumur hidup baru hari ini aku membunuh orang..."
Mendengar ucapan Nalapraya Ratu Dhika Gelang Gelang tak urung jadi menganga tercengang. Kucing merah di atas bahu Nalapraya mengeong panjang lalu melompat kembali ke bahu tuannya.
"Kalau begitu aku telah kesalahan mengira," kata Ratu Dhika Gelang Gelang pula. "Aku tengah mengejar seorang yang telah membunuh kekasihku dengan senjata berbentuk besi bulat bergerigi berwarna biru seperti ini. Aku yakin kakek ini pelakunya. Apa kau mengenal tua bangka jahanam ini?" Sambil bertanya sambil kakinya bergerak menendang. Sosok mayat yang ditendang mencelat mental dengan pinggang hancur!
Nalapraya gelengkan kepala.
"Aku harus mengurus jenazah Sebayang Kaligantha. Tapi ada beberapa hal perlu aku tanyakan padamu..."
"Soal jenazah kekasihmu itu, kau tak usah merisaukan. Para Dewa telah mengurusnya baik-baik."
Ratu Dhika Gelang Gelang kerenyitkan kening. Sepasang alis mata hitam kereng mencuat ke atas.
"Enaknya kau berkata begitu..."
"Aku tidak berdusta. Ada serombongan orang yang kebetulan lewat. Mereka menemukan jenazah kekasihmu. Mereka turun tangan membakar jenazah itu..." 
"Aku tidak percaya ucapanmu. Kau berada di sini. Bagaimana kau bisa tahu. Apa kau bisa melihat? Matapun kau tak punya!"
"Sudahlah, nanti kau kembali saja pergi ke tempat dimana kekasihmu menemui kematian. Kau akan membuktikan sendiri apakah aku ini bohong atau bagaimana."
Ratu Dhika Gelang Gelang pandangi manusia berkepala Bunga Bangkai itu beberapa lama. Dalam hati dia mulai menduga-duga. Jangan-jangan mahluk ini adalah Dewa yang menjelma turun ke bumi. Maka selanjutnya perempuan ini bicara hati-hati.
"Sahabatku yang aku tak tahu namanya, pertanyaan apa yang hendak kau sampaikan padaku?" Bertanya Nalapraya.
"Seumur hidup baru kali ini aku melihat-mahluk sepertimu. Tubuh manusia, bisa bicara tapi kepala berupa Bunga Bangkai!"
"Aku insan yang malang. Kutukan Dewa jatuh atas diriku sebagai hukuman."
"Kalau dia dikutuk berarti dia bukan utusan atau penjelmaan Dewa..." pikir Ratu Dhika Gelang Gelang. "Hukuman apa? Kenapa kau sampai dikutuk begini rupa?" Sang Ratu kemudian bertanya.
"Aku tak bisa menceritakan padamu..."
"Kau tinggal sekitar sini?" tanya Ratu Dhika.
"Di sebuah goa tak jauh dari sini. Aku tinggal dan bertapa di sana." 
"Kau tengah memperdalam ilmu kesaktian atau tengah berusaha menebus dosa agar ujudmu kembali ke bentuk semula?"
Nalapraya tidak menjawab.
"Kau punya nama?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu."
"Kau mahluk aneh. Lalu dari mana asal usulmu?"
"Aku bukan orang Bhumi Mataram. Aku berasal dari Kerajaan Tarumanagara."
"Kalau begitu agaknya kau tengah mencari atau ingin mendapatkan sesuatu..."
"Saat ini aku hanya ingin pengampunan dari Para Dewa. Agar kutukanku bisa diakhiri lebih cepat..."
Ratu Dhika Gelang Gelang tertawa.
"Tidak, aku tidak percaya. Kau bertapa bukan hanya karena itu. Ada satu dorongan lain yang lebih kuat yang membuat kau datang jauh-jauh dari Tarumanagara. Kalau kau mau bersikap jujur padaku mungkin aku bisa menolong. Bukankah aku harus berterima kasih padamu karena kau telah menanam budi menyelamatkan kucing merahku?"
Pangeran Bunga Bangkai keluarkan suara tertawa.
"Sahabatku, berbuat baik menanam budi dengan mengharapkan pamrih bukanlah satu kebajikan tapi merupakan kebijakan untuk mendapatkan sesuatu. Yang Maha Kuasa tidak suka pada orang-orang seperti itu."
Ratu Dhika Gelang Gelang kembali terkesiap mendengar ucapan orang. Nalapraya kemudian berkata lagi.
"Sahabat, dugaanmu memang benar. Kau mungkin bisa menolong jika kau ikhlas melakukan dan bukan aku yang meminta. Aku tengah mencari seseorang..." Kata Nalapraya pula.
"Siapa?"
"Aku tengah mencari istriku."
Ratu Dhika Gelang Gelang terkejut.
"Astaganaga! Kau tengah mencari istrimu katamu? Hik...hik! Tidak sangka kau punya seorang istri."
"Aku tidak bisa menceritakan bagaimana kejadiannya aku sampai punya istri. Semua sudah kehendak danTakdir Yang Maha Kuasa. Semua serba gaib."
"Gaib?!"
Pengeran Bunga Bangkai mengangguk.
"Apakah istrimu minggat atau diculik orang, atau kabur bersama kekasih barunya?"
"Tidak satupun dugaanmu yang benar..." 
"Lalu?"
"Kami berpisah setelah berkumpul selama satu minggu. Di satu tempat yang aku tidak tahu dimana..."
"Ceritamu semakin aneh. Bagaimana ciri-ciri istrimu? Apakah dia juga sepertimu. Berkepala bunga busuk begini rupa?"
"Istriku manusia biasa sepertimu. Tingginya hampir sama denganmu. Tapi  kulitnya putih bersih tidak hitam sepertimu. Wajahnya cantik, tidak diberi dandanan mencolok sepertimu. Rambut hitam sepinggang..."
Ratu Dhika tersenyum.
"Di Bhumi Mataram ini ada puluhan perempuan seperti itu..."
"Itulah yang menyulitkan diriku dalam mencarinya. Apa lagi aku juga tidak tahu namanya."
Dua bola mata Ratu Dhika Gelang Gelang terbeliak. "Kau bercanda!"
Nalapraya alias Pangeran Bunga Bangkai gelengkan kepala.
"Apa katamu? Mana ada orang tidak tahu nama istrinya sendiri! Kucingku saja punya nama."
"Aku yakin istriku punya nama. Tapi aku tidak pernah tahu siapa namanya."
Dari pucuk hijau di atas tubuh Nalapraya terdengar tarikan nafas panjang.
"Sebelum berpisah istriku memberikan sehelai sapu tangan yang dipotong dua. Satu potongan diberikan padaku, satu potongan lagi ada padanya." Dari balik pakaiannya Pangeran Bunga Bangkai kemudian keluarkan robekan sapu tangan merah muda yang diberikan Ananthawuri pada malam terakhir sebelum mereka berpisah lalu diserahkan pada Ratu Dhika. Perempuan ini
ambil potongan sapu tangan yang diberikan, diperhatikan dan dibolak balik lalu berkata.
"Sahabatku malang yang kehilangan  istri. Aku tidak tahu. Tapi orang atau perempuan yang memiliki sapu tangan merah muda seperti ini sangat banyak di Bhumi Mataram. Aku sendiri punya lebih dan satu! Lalu dari balik kemben merah yang dikenakannya dia keluarkan lima helai sapu tangan merah muda!
Setelah memasukkan lima sapu tangan ke balik pakaian, Ratu Dhika kembali meneliti potongan sapu tangan merah muda.
"Di sini sama sekali tidak ada sulaman atau tanda-tanda lain yang menyatakan siapa pemiliknya. Kurasa sangat sulit menjajagi dan mencari istrimu melalui potongan sapu tangan merah muda ini."
"Cobalah kau cium. Mungkin kau bisa mendapat petunjuk," kata Nalapraya pula.
Ratu Dhika tempelkan sapu tangan merah muda ke hidungnya lalu menghirup dalam-dalam. Dia mencium harum bunga melati.
"Aku mencium bau bunga melati. Segar sekali," kata Ratu Dhika kemudian. "Sudah berapa lama sapu tangan ini kau simpan?"
"Lebih dari delapan purnama."
"Adalah aneh kalau bau bunga yang ada masih melekat."
"Tubuh istriku seperti itu. Wangi seharum bunga melati." Memberi tahu Nalapraya.
Ratu Dhika tatap mahluk tanpa kepala itu dengan pandangan sayu sedih kemudian berkata. 
"Aku akan berbuat sebisaku. Mudah-mudahan aku bisa menolong."
"Terima kasih. Lakukanlah dengan ikhlas. Sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas merupakan sebagian ibadah dan sudah merupakan sebagian keberhasilan."
"Ya...ya..." jawab Ratu Dhika berulang ulang sambil anggukkan kepala dan penuh kagum atas ucapan orang. Lalu dia bertanya. "Kau mau kemana sekarang?"
"Aku akan kembali ke pertapaan di Tegalrejo."
"Ada lagi yang mungkin akan kau sampaikan padaku?"
"Rasanya tidak ada.Tapi....Memang ada satu hal. Istriku itu. Konon dia tengah mengandung. Mungkin akan segera melahirkan."
"Oala.....Dewa Maha Agung." Ucap Ratu Dhika Gelang Gelang sambi tampungkan dua tangan ke atas dan mulut berkomat kamit seperti tengah memanjatkan doa. Ketika perempuan ini angkat kepala, sosok Pangeran Bunga Bangkai tak ada lagi di hadapannya.
"Hyang Jagat Batara." Ucap Ratu Dhika." Mahluk seperti itu bisa punya istri. Dan sang istri mau melahirkan. Hyang Jagat Dewa! Bagaimana kelak ujud bayi itu? Yang Maha Kuasa Dewa berbuat sekehendakNya. Wahai Para Dewa. Aku tidaktahu siapa sebenarnya mahluk tadi. Tapi aku mohon pada Para Dewa, kasihani dia dan tolong dia." Lalu sambil mengusap Ragil Abang dia tinggalkan pula tempat Itu menuju bukit kapur dimana terletak bangunan candi runtuh tempat Sebayang Kaligantha menemui ajal dibunuh dengan senjata rahasia beracun.

***

DELAPAN
SANG RATU DAN SANG PENGERAN

TAK LAMA setelah Ratu Dhika Gelang Gelang meninggalkan candi runtuh di bukit kapur serombongan pemuda yang berburu rusa dan kelinci di hutan jati sampai di candi itu. Mereka yang berjumlah delapan orang ini bermaksud istirahat sebelum kembali pulang setelah mendapatkan hasil buruan berupa tiga ekor rusa dan hampir selusin kelinci.
Begitu masuk ke dalam candi kaget para pemburu muda ini bukan alang kepalang. Di lantai candi mereka melihat sesosok tubuh terbujur dengan leher koyak dan sebagian tubuh bergelimang darah. Beberapa di antara pemuda itu lebih kaget lagi karena mengenali, sosok yang sudah jadi mayat itu bukan lain adalah Sebayang Kaligantha sahabat mereka. Para pemuda itu lalu berunding, apa yang akan mereka lakukan dengan jenazah Sebayang Kaligantha. Jika dibawa pulang kerumahnya di desa dekat Kaliprogo perjalanan cukup jauh. Selain itu Sebayang
Kaligantha adalah pemuda yang hidup sebatang kara, tidak punya orang tua ataupun saudara dan sanak keluarga.  Akhirnya diputuskan untuk membakar jenazah Sebayang Kaligantha. Apa lagi diantara mereka ada seorang yang cukup punya pengetahuan di bidang keagamaan hingga jenazah pemuda itu bisa diurus sesuai dengan agama yang dianutnya. Maka dikumpulkanlah kayu bakar sebanyak mungkin, ditumpuk di pelataran candi.
Hanya sesaat setelah kayu dibakar dan api mulai berkobar tiba-tiba sosok Sebayang Kaligantha bergerak ke atas. Semua orang yang ada di tempat itu bukan saja menjadi kaget tapi juga ketakutan. Mereka yang tengah membaca doa, berucap terbata-bata akhirnya tak sanggup lagi melanjutkan doa. Ketika jenazah yang naik ke atas berada sekitar dua jengkal dari atas tumpukan kayu api yang menyala mendadak ada cahaya tiga warna memancar keluar dari tubuh Sebayang Kaligantha. Ketika cahaya tiga warna itu melesat ke langit, jenazah Sebayang Kaligantha juga melesat seolah mengikuti. Di satu ketinggian cahaya tiga warna lenyap, tubuh Sebayang Kaligantha menebar seperti meledak lalu berubah menjadi asap hitam dan akhirnya lenyap dari pandangan mata semua orang yang ada di candi!
"Dewa Jagat Bathara! Apa yang terjadi?!" Seorang pemuda sahabat yang sangat dekat dengan Sebayang Kaligantha berseru keras. Tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak. "Aku juga ingin tahu apa yang  terjadi?!" Lalu terdengar suara bergemerincing disusul suara kucing mengeong! Di lain kejap seorang perempuan gemuk berkulit hitam, mengenakan kemben merah dan berdandanan seronok berdiri di hadapan delapan pemuda. Ratu Dhika Gelang Gelang!
Mengenali siapa yang datang yaitu perempuan muda berkepandaian tinggi yang mereka ketahui adalah kekasih Sebayang Kaligantha delapan pemuda jadi timbul keberanian lalu menceritakan apa yang terjadi mulai dari awal sewaktu mereka menemukan mayat pemuda sahabat mereka itu dalam keadaan leher hampir putus, tubuh biru bersimbah darah.
"Aku berada di sini sewaktu Sebayang menemui ajal. Dibokong seseorang secara keji. Yang aku ingin tahu apa yang terjadi setelah kalian menemukan mayatnya." Kata Ratu Dhika Gelang Gelang pula. Seorang dari delapan pemuda memberi penjelasan.
"Kami mengumpulkan kayu api untuk menyempurnakan jenazah Sebayang menuju alam baka. Ketika api mulai menyala tiba-tiba tubuh Sebayang naik ke atas. Lalu kami lihat ada cahaya tiga warna, hitam, biru dan merah memancar keluar dari tubuh Sebayang. Cahaya itu melesat ke langit. Tubuh Sebayang mengikuti. Di atas sana tubuh Sebayang seperti meledak. Berubah menjadi kepulan asap lalu lenyap."
"Cahaya tiga warna. Hitam, merah dan biru." Mengulang Ratu Dhika Gelang Gelang.
Dia ingat peristiwa sewaktu bersama Arwah Ketua diserang cahaya tiga warna dalam menghadapi Sri Sikaparwathi jejadian. Ratu Dhika menatap ke langit.
"Tidak mustahil Sebayang Kaligantha sudah menjadi korban penggandaan pula. Mudah-mudahan pemuda itu masih hidup. Mungkin dalam keadaan sengsara bahkan bisa saja dalam keadaan sekarat. Aku harus mencari tahu dimana tubuh aslinya berada."
Lalu Ratu Dhika ingat pada manusia aneh berkepala Bunga Bangkai. 
"Jangan-jangan dia manusia pengendalinya. Bisa juga dia mata-mata pihak selatan. Aku mendengat kabar orang selatan telah mempersiapkan satu pasukan besar untuk menyerbu Bhumi Mataram. Apa yang harus aku lakukan?" Sang Ratu berpikir sejenak. 
"Aku harus mencari manusia Bunga Bangkai itu. Dia memberi keterangan setengah-setengah. Dia mengatakan kejadian ada orang yang turun tangan menolong membakar jenazah Sebayang. Tapi dia tidak menceritakan perihal cahaya tiga warna. Jika kutanya dia tidak mau memberi keterangan jelas biar aku bunuh saja!"
Setelah mengucapkan terima kasih pada delapan pemuda dan meminta mereka agar segera kembali pulang ke desa Ratu Dhika Gelang Gelang segera menuju desa Tegalrejo. Menjelang tengah malam dia sampai di lereng bukit dimana terletak goa tempat kediaman dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda ada orang yang tinggal di dalam goa itu. Tidak ada ranjang tidur, juga tidak ada sepotong perabotan pun. Hal ini membuat Ratu Dhika Gelang Gelang merasa bahwa dia benar-benar telah ditipu orang. Dalam marahnya Ratu Dhika Gelang Gelang kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan hingga tangan itu berpijar merah. Tidak bertemu orang yang dicari, menghancurkan goa itu sudah cukup membuat hatinya puas.
Tiba-tiba kucing merah di bahu Ratu Dhika Gelang Gelang merunduk dan mengeong keras. Gerakan Ratu Dhika agak tersendat namun akhirnya pukulan sakti di tangan kanan dilepaskan juga ke dalam gua. Pukulan bernama Langit Robek Bumi Terbongkar!
Sinar merah berkiblat. Di saat yang sama dinding sebelah dalam goa tiba-tiba bergerak membuka. Dari balik dinding muncul keluar sosok Pangeran Bunga Bangkai. Begitu melihat sinar merah melabrak ke arahnya Pangeran ini berteriak kaget dan cepat bertindak mundur.
"Sahabat! Mengapa...." Ucapan Pangeran Bunga Bangkai hanya sampai di situ karena sinar merah telah lebih dulu menghantam tubuhnya sebelah depan. Dia masih sempat melihat ada selarik sinar putih tipis turun dari atas atap goa seperti membuat tabir  perlindungan bagi dirinya. Namun begitu sinar merah menghantam tak ampun Pangeran Bunga Bangkai terpental. Bagian dalam goa hancur berkeping-keping. Ragil Abang kembali mengeong keras sementara Ratu Dhika Gelang Gelang terpental keluar dari goa yang sudah runtuh hancur, jatuh setengah berlutut dengan sekujur tubuh bergetar dan muka pucat.
"Apa yang terjadi. Apa yang sesungguhnya terjadi. Di balik dinding goa itu ternyata....Dewa Agung, apakah aku....Tapi aku bersyukur kalau si penipu jahat itu telah menemui ajal!"
Tiba-tiba ada kilatan cahaya putih disusul suara bergema.
"Kematian adalah bagian setiap manusia di dunia fana agar bisa sampai ke alam baka. Namun kematian manusia tidak ditentukan oleh manusia lainnya. Ratu Dhika Gelang Gelang. Kau telah bertindak diluar batas kewajaran. Kau telah mencelakai seseorang yang telah menjadi pilihan Para Dewa untuk ikut menyelamatkan Bhumi Mataram dari angkara murka...."
"Si..siapa yang bicara?" Ratu Dhika tergagap pucat. "Roh Agung?" 
"Ratu Dhika....." 
"Tunggu! Siapa sebenarnya manusia berkepala Bunga Bangkai itu!"
"Ratu Dhika, kau tidak pantas memotong ucapanku. Pasang telinga dan dengarkan baik-baik. Atau kutukan atas diri orang itu akan berpindah pada  dirimu!”
Mendengar kata-kata tanpa ujud itu Ratu Dhika Gelang Gelang kini sadar kalau dia bukan berhadapan dengan sembarang mahluk gaib.
"Hyang Jagat Batara Agung, saya yang hina ini mohon maafmu. Saya mengaku salah. Telah melepas tangan tanpa menyelidiki lebih dulu. Saya siap menerima hukuman."
"Sekali ini kesalahanmu diampunkan Para Dewa. Namun mulai hari ini kau ditugaskan menjadi penjaga Sumur Api. Bilamana ada yang sampai menerobos masuk ke dalam Sumur Api sekalipun seekor semut!
Maka hukuman yang lebih berat akan jatuh atas dirimu!"
Ratu Dhika Gelang Gelang jatuhkan diri bersujud ke tanah. Setengah meratap dia berkata.
"Dewa Jagat Bathara Agung. Saya yang hina ini mohon ampunMu. Banyak tugas yang harus saya laksanakan. Saya harus mencari dimana beradanya Sebayang Kaligantha..."
"Ratu Dhika, bila kau masih terus berkeras menolak hukuman maka saatnya kau berubah diri!"
Saat itu juga bagian atas kepala Ratu Dhika Gelang Gelang berubah menjadi kuncup hijau sementara bagian di bawah leher mengembang membentuk kelopak bunga lebar berlendir berwarna kuning berbintik coklat. Bersamaan dengan itu tubuhnya sebelah atas mulai mengeluarkan bau busuk!
Ratu Dhika menjerit keras. 
"Ampun seribu ampun! Wahai Para Dewa di Swargaloka, saya meratap meminta keampunan. Saya berjanji akan mematuhi apa yang telah ditetapkan. Saya akan menjadi penjaga Sumur Api. Jangankan untuk satu purnama. Untuk seribu purnamapun akan saya lakukan!" Ratu Dhika benturkan keningnya berulang kali ke tanah sampai luka sambil air mata bercucuran.
"Selama bertugas menjaga Sumur Api kau tidak diperkenankan meninggalkan tempat itu lebih dari seratus langkah!
Bilamana Para Dewa berkehendak lain maka Para Dewa akan memberi keampunan atas dirimu. Kau harus berangkat menuju Sumur Api saat ini juga!"
"Akan saya lakukan. Akan saya lakukan wahai Para Dewa."
Ratu Dhika Gelang Gelang segera berdiri sambil mengepit Ragil Abang si kucing merah lalu dengan langkah terhuyung-huyung, masih menangis terisak dia tinggalkan tempat itu. Sambil berjalan tidak lupa dia mengambil kaca lalu bercermin memperhatikan wajah.
"Ah, mengapa wajahku jadi buruk. Keningku luka dan benjut! Mengapa hidungku seperti melebar dan pesek! Mahluk Bunga Bangkai, apakah kau masih hidup atau sudah mati karena pukulanku tadi? Mahluk Bunga Bangkai maafkan diriku! Jika seandainya kau masih hidup, tolong...tolong temui diriku di Sumur Api. Aku akan bersujud minta maaf dan ampunan padamu. Aku tak bisa mencari menemuimu. Aku hanya boleh meninggalkan Sumur Api paling jauh seratus langkah! Tobat.....!"
Mendadak Ratu Dhika Gelang Gelang hentikan langkah. Di kejauhan dia mendengar suara tambur ditabuh dan suara seruling ditiup.
"Itu pasti dua manusia aneh Si Tambur Bopeng dan Si Suling Kurus. Ada apa keduanya berkeliaran di sekitar sini. Arwah Ketua menyuruh aku mengawasi dua orang itu. Bagaimana ini?"
Setelah berpikir sebentar akhirnya perempuan ini memutar langkah, berjalan ke arah suara tambur dan seruling. Namun baru menindak tiga langkah tiba-tiba suara mengiang mendera telinganya.
"Ratu Dhika Gelang Gelang, tugasmu adalah segera pergi ke Sumur Api. Mengapa lebih memperdulikan si penabuh tambur dan si peniup seruling?!"
Ditegur seperti itu Ratu Dhika menjadi kecut dan cepat-cepat berjalan kembali ke arah semula. Namun dalam hati dia mengomel.
"Kalau mahluk gaib sudah terlalu banyak mencampuri urusan dunia di Bhumi Mataram ini oala! Lebih baik rasanya aku berhenti saja jadi orang!"
"Kalau kau memang mau berhenti jadi orang, mengapa tidak membenturkan kepalamu ke gunung batu?!"
Tiba-tiba ada suara menyahuti disusul tawa cekikikan. Ratu Dhika Gelang Gelang tersentak  kaget. Dia memandang berkeliling.
"Siapa yang barusan bicara? Kalau manusia masakan bisa mendengar ucapan hatiku?" Merasakan tengkuknya mendadak jadi dingin, perempuan ini segera mempercepat langkahnya.

***

SEMBILAN
TAMBUR BOPENG DAN SULING BURIK

SUARA tambur dan seruling terdengar semakin santar. Tak lama kemudian kelihatan dua orang berdiri di depan goa yang runtuh akibat pukulan Langit Robek Bumi Terbongkar yang tadi dilepaskan Ratu Dhika Gelang Gelang. Orang yang memegang tambur bertubuh gemuk pendek bermuka bopeng. Kawannya yang meniup seruling berbadan tinggi kurus, muka penuh bintik-bintik putih.
Si gemuk bopeng hentikan menabuh tambur. Dia berpaling pada si kurus burik yang juga telah berhenti meniup seruling.
"Apakah kita terlambat?" tanya si gemuk bopeng.
"Jangan-jangan orang yang hendak kita temui sudah menemui ajal dibawah timbunan reruntuhan goa."
"Siapa yang punya pekerjaan? Heran, Bhumi Mataram akhir-akhir ini telah dijejali banyak orang-orang jahat. Tambur Bopeng, mari cepat kita periksa. Kalau benar dia sudah menemui ajal celaka kita. Celaka Kerajaan ini!" 
"Suling Burik! Yang Kuasa Maha Agung! Memohon padaNya untuk keselamatan orang yang kita cari!"
Lalu tam..tam..tam. Si gemuk pendek bermuka bopeng mulai menabuh tambur kembali. Sahabatnya si Suling Burik segera pula meniup seruling. Suara seruling melengking keras dan sesekali menurun berhiba-hiba. Tabuhan tambur terkadang keras lalu berubah pelan. Sementara suling ditiup dan tambur ditabuh terjadilah hal yang sulit dipercaya. Satu persatu runtuhan puing-puing yang bertimbunan di goa bekas kediaman dan pertapaan Pangeran Bunga Bangkai terangkat ke atas, melayang ke udara lalu jatuh menumpuk di lereng pedataran yang menurun. Ketika tumpukan puing batu telah terangkat semua, kelihatan satu sosok berkepala aneh duduk dalam sikap bersamadi. Sekujur tubuh dari atas sampai ke bawah tertutup debu reruntuhan goa. Si Tambur Bopeng tabuh tamburnya keras-keras lalu berhenti. Mata memandang melotot ke depan. Disebelahnya Si Suling Burik tiup serulingnya kuat-kuat lalu berhenti dan seperti temannya menatap ke depan. Begitu tabuhan tambur dan tiupan seruling berhenti, sosok tanpa kepala di depan sana bergerak. Sekali dia goyangkan tubuh maka debu beterbangan dan kini lebih jelas kelihatan sosoknya. Berpakaian biru, tanpa kepala. Yang ada di bagian kepala adalah kuncup hijau setinggi tiga jengkal dan kuntum bunga besar kuning berbintik  coklat berlendir! Saat itu juga bau busuk menghampar di tempat itu.
"Kita sudah menemukan! Dia masih hidup! Terima kasih Dewa! Terima kasih Yang Maha Kuasa!" Berseru Si Tambur Bopeng.
"Aku turut bersyukur. Tapi setelah tertimpa dan tertimbun batu goa yang luar biasa beratnya, apakah otaknya tidak cidera dan masih waras?!" Si Suling Burik keluarkan ucapan.
"Selama dia masih mampu menebar bau busuk, berarti dia tidak kurang suatu apa." Jawab Tambur Bopeng.
"Kalau begitu mari kita periksa!"
Sambil menabuh tambur dan meniup seruling dua orang aneh itu melangkah mendekati sosok tanpa kepala yang bukan lain adalah Pangeran Bunga Bangkai alias Nalapraya, Pangeran Kerajaan Tarumanagara yang tengah menjalani kutukan dari Para Dewa karena dituduh telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Mendengar suara tambur dan seruling sejak tadi serta melihat ada dua orang mendatangi Nalapraya segera berdiri.
"Salam sejahtera bagimu wahai orang yang baru keluar dari timbunan reruntuhan goa. Kami datang untuk satu urusan sangat penting."
Yang berucap adalah Si Tambur Bopeng.
"Salam berbalas disertai ucapan terima kasih karena sahabat berdua telah menolong aku keluar dari timbunan batu  goa. Apakah aku mengenal sahabat berdua?"
"Dalam hal tolong menolong apakah harus diutamakan soal kenal atau tidak?
Kami merasa bahagia telah berbuat kebajikan karena dipercaya Para Dewa untuk menolong Pangeran."
Nalapraya terkejut karena ada orang tak di kenalnya mengetahui siapa dirinya. Menyebut Pangeran. Untuk jelasnya dia lantas bertanya.
"Puji syukur semoga sahabat berdua akan mendapat pahala serta rakhmat besar dari Dewa Agung Yang Maha Kuasa. Sahabat tadi memanggil saya dengan sebutan Pangeran. Apakah...."
"Sstttt.... Jangan bicara terlalu keras." Kata si Suling Burik. "Tanah dan batu serta pohon di tempat ini mungkin saja punya telinga. Apakah kami mengada-ada? Bukankah sahabat seorang Pangeran muda berasal dari Kerajaan Tarumanagara di wilayah barat? Bernama Nalapraya?"
Nalapraya tercengang.
"Dari mana sahabat berdua mengetahui siapa diriku?"
"Orang di Bhumi Mataram ini mungkin tidak ada yang tahu. Tapi kami sudah tahu riwayat Pangeran. Malah sejak dua belas purnama lalu kami telah menunggu kedatangan Pengeran di Bhumi Mataram ini."
Kembali Pangeran Bunga Bangkai dibuat tercengang oleh ucapan orang. "Aku sungguh tertarik. Sahabat berdua sudah tahu siapa diriku. Sebaliknya aku belum tahu siapa  kalian."
Si Tambur Bopeng pukul tamburnya berdentam-dentam lalu membungkuk dan berkata.
"Aku yang gemuk pendek dan bermuka bopeng ini biasa dipanggil si Tambur Bopeng."
Si Tinggi kurus tiup serulingnya melengking-lengking lalu menjura seraya berkata. "Aku yang kurus tinggi jelek ini bernama Suling Burik."
"Nama kalian berdua sungguh bagus...." Memuji Nalapraya." Sekarang katakan urusan sangat penting apakah yang tadi para sahabat maksudkan?"
Si Tambur Bopeng membungkuk. Lalu menjawab.
"Kami datang sebagai utusan. Untuk menyampaikan pinangan."
Kali ini Pangeran Bunga Bangkai benar-benar dibuat tercengang dan terkejut. Kalau saja kepala dan wajahnya ada, pasti akan kelihatan bagaimana raut muka sang Pangeran.
"Kalian berdua adalah utusan. Untuk menyampaikan pinangan. Utusan siapa? Lalu siapa yang hendak kalian pinang? Diriku?!"
Si Suling Burik membungkuk.
"Mengenai kami ini utusan siapa mohon dimaafkan karena saat ini belum dapat kami beritahukan. Tapi mengenai siapa yang akan kami pinang, saat ini juga dapat kami beritahukan. Yang jelas yang hendak kami pinang bukan Pangeran." 
"Lalu siapa?" tanya Nalapraya.
"Putera Pangeran," menjawab Tambur Bopeng. Kepala aneh Pangeran Bunga Bangkai menatap ke arah Tambur Bopeng lalu berputar ke jurusan Suling Burik.
"Kalian ini bicara apa? Aku sama sekali tidak punya putera. Tidak punya anak." Lalu Pangeran tanpa kepala ini keluarkan tawa bergelak. Si Tambur Bopeng dan Suling Burik ikutan tertawa.
"Sahabatku Pangeran Nalapraya. Saat ini Pangeran memang belum punya putera. Tapi dalam waktu tidak terlalu lama lagi bukankah Pangeran akan segera memiliki dua orang bayi laki-laki? Nah kami akan meminang salah seorang dari putera Pangeran itu. Putera yang mana nanti baru
ketahuan setelah tujuh tahun berjalan."
Lama Pangeran Bunga Bangkai terdiam.
"Kalian ini siapa? Bagaimana bisa tahu banyak mengenai riwayat diriku?"
"Pangeran, siapa kami beginilah ujudnya. Mengenai diri dan riwayat Pangeran agaknya bukan cuma kami yang tahu di Bhumi Mataram ini. Namun mengenai pinangan memang baru kami yang punya niat baik. Saat ini jika tidak dikatakan terlalu memaksa dan berlaku lancang, apakah kami bisa mendapatkan penjelasan bahwa Pangeran menerima pinangan yang kami sampaikan?"
"Jika aku menjawab pertanyaan kalian,  berarti aku sudah gila. Anak saja belum punya, aku juga tidak tahu siapa yang mau meminang anakku! Dua sahabat, lebih baik kita bicara perihal lain. Atau kalau tidak kalian berdua silahkan meninggalkan tempat ini. Aku tetap menghormati kalian, berterima kasih dan tidak melupakan pertolongan kalian berdua."
"Kalau Pangeran tidak bersedia membicarakan soal pinangan itu lebih lanjut tidak jadi apa. Yang penting Pangeran sudah tahu bahwa kami telah mengajukan pinangan. Jadi jangan putera Pangeran kelak diberikan pada orang lain. Soal kami diminta pergi, itu hak Pangeran. Namun ketahuilah mulai saat ini kami telah menjadi pengawal-pengawal Pangeran. Kemana Pangeran pergi kesitu kami ikut. Bilamana nanti putera Pangeran yang kami pinang telah besar maka kami akan melanjutkan tugas menjadi pengawalnya."
"Sahabat berdua. Aku hidup dalam kutukan Para Dewa.Tapi aku percaya Para Dewa masih melindungi diriku. Karena itu aku tidak memerlukan pengawalan kalian berdua..." .
"Kami mengerti, tapi kami berdua tidak akan beranjak dari tempat ini barang sejengkalpun. Kami mohon maaf kalau telah berlaku lancang. Mungkin bisa membuat Pangeran menjadi jengkel atau marah. Namun kami hanya menjalankan tugas. Sekalipun kami berdua dibunuh, kami tidak mungkin pergi meninggalkan Pangeran." 
"Sahabat berdua. Jika kalian ingin berbakti, masih banyak orang lain yang pantas tempat kalian berbakti. Pergilah ke Kotaraja. Kalian berdua pasti menemukan pekerjaan yang pantas."
Tambur Bopeng dan Suling Burik tidak menjawab. Kedua orang ini dudukkan diri di tanah. Dua tangan disatukan dan dijunjung di atas kepala. Tubuh tidak bergerak sedikitpun. Mata dipejam. Melihat apa yang dilakukan kedua orang itu Pangeran Bunga Bangkai jadi berpikir.
"Kalau mereka bukan menipuku, mungkin aku bisa minta bantuan keduanya untuk mencari istriku..."
"Dua sahabat, bangunlah. Mengapa menyembah seperti itu. Jika kalian berdua memang punya niat baik, aku bersedia membawamu kemana aku pergi."
Mendengar ucapan Pangeran Bunga Bangkai Tambur Bopeng dan Suling Burik serta merta buka mata masing-masing lalu melompat bangun!
"Terimakasih Pangeran, terimakasih."
Tambur Bopeng dan Suling Burik berbarengan sambil membungkuk berulang kali.
"Tam...tam...tam!"
Tambur Bopeng pukul tamburnya dengan tangan kiri. Suling Burik tidak mau kalah. Dia segera tiup serulingnya. Sambil memukul tambur dan meniup seruling keduanya melangkah memutari Pangeran Bunga Bangkai. Satu kali dari bawah tambur, si Tambur Bopeng keluarkan gulungan kain putih lalu diberikan pada Pangeran Nalapraya.
"Pangeran, jika kau bisa melihat kau pasti bisa
"Apa ini?" tanya Pangeran Bunga Bangkai.
"Salinan dari tulisan yang ada pada Empat Gading Bersurat." Jawab Tambur Bopeng.
"Gading Bersurat?" Pangeran Bunga Bangkai buka gulungan kain.
"Bacalah, mungkin ada manfaatnya untuk Pangeran ketahui. Kami berdua yakin ada hubungannya dengan diri Pangeran..."
Pangeran Bunga Bangkai buka gulungan kain dimana terdapat serangkai tulisan cukup panjang dalam huruf Palawa. Dengan agak berdebar pemuda ini mulai membaca.

Gading Bersurat Pertama
Di masa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala memegang tahta. Di Bhumi Mataram dua anak lelaki akan lahir ke dunia. Terlahir dari seorang Ibu yang pada saat melahirkan berusia tujuh belas tahun. Perempuan yang telah dipilih Para Dewa. Berasal dari sebuah desa kecil di selatan Prambanan. Ibu yang akan tetap perawan sepanjang masa. Kelak dua anak akan menjadi Kesatria mengabdi pada Kerajaan Mataram. Siapa berjodoh akan menangguk rakhmat. Siapa tidak berjodoh jangan menebar umpat dan hujat. Berita disebar ke utara, selatan, timur dan barat. Untuk kemaslahatan seluruh umat.

Gading Bersurat Kedua
Siapa yang bersahabat dengan dua anak  Akan mendapat rakhmat dari Para Dewa Siapa yang menjadi guru serta pelindung dua anak  Akan mendapat rakhmat Para Dewa sepanjang masa Siapa yang bisa menguasai dua anak Akan menguasai Bhumi Mataram  Namun niat jahat akan mendapat balasan  Karenanya tempuhlah selalu jalan yang lurus Jalan yang penuh rakhmat .

Gading Bersurat Ketiga
Jika ingin tahu lama kehamilan Dari perawan desa yang dipilih Para Dewa Menjadi ibu dari bayi Yang kelak akan menjadi Kesatria Mataram  Letakkan gading di atas Sumur Api Ukur bagian gading yang menjadi hitam. Maka akan diketahui lama kehamilan.

Gading Bersurat Ke Empat
Malam bulan purnama empat belas hari Konon itulah saat lahirnya dua bayi Orang baik dan orang jahat. Manusia nyata dan mahluk gaib. Akan berkumpul untuk mendapatkan bayi Sumur Api akan menjadi Sumur Darah Mohon perlindungan hanya pada Yang Maha Kuasa  Semoga Bhumi Mataram terlepas dari bencana.

Setelah membaca tulisan di atas kain putih, Pangeran Bunga Bangkai merenung berpikir. Saat itu yang bertahta di Kerajaan Bhumi Mataram adalah Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Berarti dua bayi dimaksud akan lahir sekarang ini di masa pemerintahannya. Dada Pangeran Bunga Bangkai berdebar, jantung berdetak kencang dan darah mengalir cepat.
 "Dua bayi dilahirkan, apakah....Jika ini memang ada sangkut paut dengan diriku seperti yang dikatakan dua sahabat aneh, berarti yang akan lahir itu adalah anak-anakku...."
"Dua sahabat, dari mana kalian dapatkan kain bertulis ini?" Pangeran Bunga Bangkai bertanya.
"Dari orang yang mengutus kami," jawab Tambur Bopeng.
"Kalian masih belum mau memberi tahu siapa sang pengutus itu?"
Tambur Bopeng menggeleng. Pangeran Bunga Bangkai putar kepalanya ke arah Suling Burik. Orang ini gelengkan kepala. Pangeran Bunga Bangkai kembali merenung. 
"Malam bulan purnama empat belas hari. Malam tadi aku lihat di langit bulan besar muncul belum bulat benar. Baru malam ke dua belas."
"Dua sahabat, apakah kalian tahu bagaimana ciri-ciri perawan desa yang katanya akan melahirkan dua bayi lelaki itu?"
"Tidak satupun dari kami yang tahu. Kami tidak pernah melihat." Jawab Tambur Bopeng.
"Namun pernah ada cerita tentang lenyapnya seorang perawan desa bersama ibunya di selatan Prambanan. Hanya sayang kami juga tidak tahu siapa mereka. Kalau Pangeran mau menyelidiki kami bisa mengantar ke desa itu. Agak jauh di arah timur. Dari penduduk mungkin kita bisa mencari keterangan." Menjelaskan Suling Burik.
"Apakah kalian berdua tahu dimana letak Sumur Api yang tertulis pada kain putih itu?" Kembali Pangeran Bunga Bangkai ajukan pertanyaan.
"Kami belum pernah kesana. Tapi kami tahu dimana kira-kira letaknya. Jika dicari pasti bertemu." Menjawab Suling Burik.
"Kalau begitu kita berangkat ke sana sekarang juga." Kata Pangeran Bunga Bangkai pula.

***

SEPULUH
MALAM BERDARAH DI SUMUR API

KESUNYIAN mencekam sekitar Sumur Api. Cahaya api yang membesit keluar dari dasar sumur tidak mampu menerangi sampai ke pinggiran rimba belantara hingga bayang-bayang hitam pekat tampak bertebaran dimana-mana. Langit yang semalam cerah malam ini justru tampak redup. Bulan purnama empat belas hari yang diharapkan muncul seolah sembunyi dibalik ketebalan awan.
Sesekali jauh di dalam rimba terdengar suara raungan anjing hutan, mengejutkan burung-burung yang hampir terlelap tidur. Binatang ini kepakkan sayap lalu menghambur terbang mencari tempat yang lebih dirasakan aman. Dalam sebuah kali kecil tak jauh dari Sumur Api, beberapa orang mendekam dalam gelap, seolah menyatu dengan tebing kali. Di atas pohon-pohon besar, hampir tidak kelihatan, tersamar dalam kegelapan, mendekam pula beberapa orang yang setiap saat selalu memandang memperhatikan ke arah Sumur Api.
Di balik sederetan semak belukar dan dua gundukan batu juga tampak beberapa orang bersembunyi, diam tak bergerak laksana patung. Lalu ketika ada suara kucing mengeong disertai bunyi bergemerincing, semua orang yang ada di tempat itu jadi tercekat. Mata dipentang  menatap ke arah Sumur Api. Melihat siapa yang muncul semua jadi terkesiap. Bagaimana mungkin.Tadi tidak terlihat orang itu dekat sumur. Kini tahu-tahu dia sudah berdiri di sana!
"Ratu Meong......" beberapa orang berucap perlahan, bibir bergetar dada berdebar.
"Ratu Dhika Gelang Gelang..."Beberapa orang lain menyebut nama perempuan itu. Dua orang yang mendekam di tebing kali saling berbisik.
"Tidak disangka perempuan satu ini juga punya urusan di Sumur Api. Kita harus segera bicara dengan teman-teman agar cepat menyingkirkannya. Kalau tidak urusan bisa jadi tidak karuan."
"Aku tidak seberapa kawatir dengan perempuan itu. Yang aku takutkan adalah kalau sampai mahluk bernama Arwah Ketua datang ke tempat ini. Terakhir sekali aku dengar dia memusnahkan mahluk jejadian Sri Sikaparwathi."
Yang ada di tepi Sumur Api memang Ratu Dhika Gelang Gelang. Di bahu kirinya berbaring kucing merah Ragil Abang. Perempuan berkemben yang dibelah bagian bawah depan belakang ini berdiri memegang cermin. Sambil merapikan dandanan serta rambutnya dia berkata.
"Ragil Abang, apakah sudah kau hitung berapa manusia kesasar yang datang ke tempat ini?!"
Kucing merah di bahu kiri Ratu Dhika  Gelang Gelang menjawab dengan ngeongan panjang. Perempuan itu kemudian tertawa cekikikan.
"Sembilan orang katamu! Hik...hik...hik! Banyak sekali! Perlu apa malam-malam mereka ke sini. Malah ada yang datang dari kemarin pagi! Hik...hik!"
Ratu Dhika melangkah ke dekat Sumur Api. Dia memandang ke langit hitam gelap lalu berkata lantang.
"Sembilan mahluk tolol! Kalau kalian hendak menunggu munculnya bulan purnama empat belas hari maka itu adalah satu kesia-siaan! Bulan purnama tidak akan muncul malam ini! Apapun urusan kalian di tempat ini datanglah satu bulan lagi sampai bulan purnama yang akan datang!"
Tak ada yang menjawab. Sembilan orang yang mendekam di tempat gelap diam membisu tapi mata menengadah ke langit. Mereka memang tidak melihat bulan purnama empat belas hari. Awan gelap masih bertebaran di langit.
Di atas satu pohon besar seorang tua berjanggut putih panjang yang mendekam sambil melilitkan janggutnya ke cabang pohon berpaling pada seorang nenek kepala botak beralis rimbun yang duduk manja di sebelahnya merangkul pinggangnya. Sambil ciumi kepala botak si nenek dia berbisik.
"Kekasihku Kunti Jenggala, aku tahu betul di langit sana bulan purnama telah muncul. Tapi ada seseorang berkepandaian tinggi mengarak awan hitam menutupi  rembulan."
"Ametung Warangtilis, Ratu Dhika Gelang Gelang manusia sungguhan. Kepandaian mengarak awan hanya dimiliki oleh mahluk gaib jejadian atau mahluk alam roh." Menjawab sang kekasih sambil balas mengusap janggut si kakek.
"Kau bisa menduga siapa mahluknya?" tanya kakek bernama Ametung Warangtilis.
"Di Bhumi Mataram hanya satu mahluk yang bisa melakukan. Siapa lagi kalau bukan Arwah Ketua, dedengkot raja diraja mahluk alam kematian! Sejak tadi tidak ada satu orang tokohpun yang berada di sini berani jual tampang unjukkan diri. Jika Ratu Dhika Gelang Gelang melakukan hal itu maka berarti dia punya seseorang yang diandalkan. Pasti dia mengandalkan Arwah Ketua!"
"Lalu apakah kau merasa takut kekasihku?" Si kakek bertanya lalu menjilat kepala botak si nenek. Di dekat Sumur Api Ratu Dhika goyangkan dua tangannya hingga gelang yang diganduli kerincingan berbunyi keras.
"Sembilan mahluk yang ada di tempat ini! Apa kalian manusia sungguhan atau mahluk jejadian! Dengar apa yang aku katakan! Aku Ratu Dhika Gelang Gelang, kerabat Sri Maharaja yang bertahta di Bhumi Mataram, mempunyai kewenangan untuk mengatakan bahwa kalian semua tidak ada kepentingan di tempat ini! Karena itu aku meminta kalian semua untuk segera pergi! 
Siapa yang berani menolak bangkainya akan menggeletak di tempat ini atau rohnya akan berserabutan kelangit!"
Tidak ada suara jawaban. Namun dari arah kali terdengar suara seperti orang menggerutu. Ratu Dhika Gelang Gelang melangkah lebih dekat ke Sumur Api. Tangan kirinya yang memegang cermin diletakkan di dekat bibir batu sumur. Cahaya nyala api di dasar sumur menerangi cermin. Ketika cermin itu digoyang maka cahaya merah terang memantul ke depan. Ratu Dhika membuat gerakan sembilan kali ke sembilan arah. Setiap gerakan cermin yang diarahkan jatuh tepat secara bergantian pada sembilan wajah orang-orang yang mendekam di tempat gelap.
"Hik...hik...hik. Kau benar Ragil Abang! Mereka semua berjumlah sembilan orang! Beberapa diantaranya cukup aku kenal! Biaraku bicara lagi. Aku mulai dengan yang aku kena! lebih dulu!"
Ratu Dhika Gelang Gelang goyangkan lagi cerminnya lalu diam tidak digerakkan. Pantulan cahaya terang nyala api dari dasar sumur jatuh pada satu wajah seram yang mendekam di belakang gundukan batu besar. Orang ini lelaki garang berambut tebal hitam, memelihara berewok, janggut dan kumis tebal. Mata kiri berwarna merah, mata kanan berwarna kuning. Dua gigi di sudut bibir sebelah atas mencuat berbentuk caling berwarna merah. Pantulan cahaya merah dari cermin membuat  tampangnya tambah menyeramkan.
"Kamara Tunggalbisma alias Hantu Mata Iblis! Kita sudah lama saling kenal. Atas nama persahabatan aku minta kau menjadi orang yang pertama untuk segera meninggalkan kawasan Sumur Api ini. Syukur-syukur kalau kau mau mengajak delapan orang lainnya untuk ikut bersamamu. Kalian tidak akan melihat bulan purnama malam ini! Apapun urusan dan kepentingan kalian di tempat ini adalah satu kesia-siaan!"
Lelaki di balik gundukan batu menggeram pendek. Lalu meniup ke depan. Cahaya merah yang sejak tadi menyoroti wajahnya buyar. Tangan kiri Ratu Dhika Gelang Gelang yang memegang cermin bergetar. Perempuan gemuk ini cepat kerahkan tenaga dalam hingga getaran di tangannya menjadi lenyap. Setelah lebih dulu tertawa Ratu Dhika Gelang Gelang Berkata.
"Aku sangat mengagumi ilmu kepandaianmu, Kamara Tunggalbisma. Sayang kalau ilmu meniup langka yang kau miliki itu lenyap dan dilupakan orang begitu saja. Aku mohon, tinggalkan tempat ini."
"Ratu Dhika!" Suara jawaban Kamara Tunggalbisma menggelegar. "Aku pergi ke mana aku suka! Aku diam dimana aku senang! Bhumi Mataram adalah milik semua orang. Dia boleh berada dimana saja sesuai kehendaknya, termasuk diriku yang ingin berada di kawasan Sumur Api ini. Kalau kau  meminta aku pergi maka kau juga akan aku minta angkat kaki dari sini."
"Begitu?!" Ratu Dhika Gelang Gelang berucap sambil menyeringai. Alis kereng mencuat ke atas. Perempuan ini lalu tertawa panjang. "Kalau kita memang sama-sama ingin pergi maka aku persilahkan kau pergi duluan!"
Ratu Dhika tutup ucapannya dengan menggerakkan tangan kiri yang sudah dialiri tenaga dalam tinggi.
"Wusss!"
Dari dalam cermin yang melesat kini bukan cuma pantulan cahaya nyala api tapi api sungguhan. Kamara Tunggalbisma berteriak kaget tak mengira. Dia cepat menyingkir. Namun terlambat. Tubuhnya terbanting ke tanah.Tergelimpang tak bergerak lagi. Di mukanya yang seram kini tampak lobang besar menggidikkan! Udara di tempat itu serta merta dipenuhi bau daging yang terpanggang!
Kesunyian yang menggantung dipecah oleh suara Ratu Dhika Gelang Gelang.
"Kasihan....Kasihan sekali! Siapa lagi yang perlu aku kasihani?!"
"Ratu Dhika Gelang Gelang! Kita memiliki kepentingan sama! Mengapa menyelesaikan persoalan dengan kematian?!"
 Tiba-tiba ada yang bicara lantang.
"Siapa yang bicara?! Aku ingin melihat tampangnya!"
Saat itu juga dari atas pohon  melayang turun sepasang kakek nenek yang bukan lain adalah Ametung Warangtilis dan kekasihnya Kunti Jenggala.
"Ah, sepasang tua bangka bercinta!" Ratu Dhika berseru lalu tertawa gelak-gelak.
"Sudah lama aku mendengar nama besar kalian. Baru kali ini bisa bertatap muka. Sungguh satu kehormatan besar!"
Si kakek Ametung Warangtilis diam saja namun sepasang matanya memperhatikan sang Ratu dengan pandangan mata liar. Di sebelahnya si nenek berkomat kamit. Ratu Dhika membentak.
"Kalian bilang kita punya kepentingan sama! Kepentingan apa?!"
Ametung Warangtilis berjingkat sedikit lalu miringkan kepala. Lidah dijulurkan untuk menjilat kepala botak si nenek yang membuat Ratu Dhika menjadi jijik.
"Tua bangka edan! Kalau mau bercinta jangan dihadapanku! Pergi ke comberan sana!"
Ametung Warangtilis menyeringai sambil julur-julurkan lidah.
"Comberan memang bukan tempat sedap. Tapi lebih enak dari pada kuburan atau timbunan kayu pembakar jenazah! Ha...ha...ha!"
Si nenek ikutan tertawa lalu berkata.
"Ratu Dhika! Jika kau berjanji menyerahkan dua bayi yang bakal lahir malam ini, aku dan kekasihku bersedia mengakhiri urusan sampai di sini!" 
"Ah, jadi itu maksud kalian datang ke Sumur Api. Berarti kepentingan kita tidak sama! Kau mau dua bayi. Aku sebaliknya melindungi mereka! Selagi malam belum larut pergilah dari sini!"
"Jika begitu jawabmu, maka kami akan membawamu sama-sama masuk ke dalam sumur api!" Kata si nenek bernama Kunti Jenggala.
"Kalau kalian memang punya kemampuan aku sudi-sudi saja ikut!" jawab Ratu Dhika.
Sepasang kakek nenek angkat dua tangan lurus-lurus ke atas. Saat itu juga dari ujung jari-jari mereka mengepul asap putih menghampar hawa luar biasa dingin. Asap putih kemudian dengan cepat bergulung ke bawah menyelubungi tubuh mulai dari kepala sampai ujung kaki. "Ilmu Salju Merapi!" teriak Ratu Dhika Gelang Gelang terkejut. Dia mengenali dan mengetahui kehebatan ilmu tersebut. Walau belum tentu sepasang kakek nenek itu mampu mengambil dua bayi yang malam itu memang akan lahir di dasar Sumur Api, namun kalau keduanya bisa menerobos masuk ke dalam sumur paling tidak kekacauan besar akan terjadi.
"Ragil Abang! Hadapi si kakek! Aku akan menahan si nenek!" teriak Ratu Dhika.
Kucing merah di atas bahu kiri mengeong keras lalu melompat ke arah Ametung Warangtilis. Tubuh berselubung si kakek segera berkelebat menghadapi serangan kucing merah. Kejap itu juga cahaya putih menderu membungkus kaku tubuh Ragil Abang. Kucing ini seperti memiliki tenaga dalam mengandung hawa panas, menggeliat jungkir balik di udara lalu kembali menyerang lawan dengan dua kaki depan terpentang, kuku siap mencabik-cabik. Kunti Jenggala lepaskan dua pukulan tangan kosong. Selagi Ratu Dhika Gelang Gelang membuat gerakan mengelak nenek ini memburu dengan tendangan serta dua pukulan tangan kosong. Tendangan meleset, dua pukulan tangan kosong saling beradu dengan dua lengan Ratu Dhika Gelang Gelang. Si nenek mencelat ke udara. Ketika lawan mengejar, perempuan tua ini goyangkan sekujur tubuhnya. Seluruh benda putih menyerupai salju yang menutupi dirinya berhamburan dan dengan cepat menyelubungi tubuh Ratu Dhika. Selagi perempuan gemuk ini tertegun kaku Kunti Jenggala langsung menghajar dengan pukulan-pukulan keras hingga Ratu Dhika terjengkang. Dua pukulan dengan telak melanda dadanya membuat Ratu Dhika semburkan darah. Sadar akan bahaya yang dihadapi Ratu Dhika cepat kerahkan hawa panas hingga sebagian tubuhnya yang kaku kini bisa digerakkan. Kunti Jenggala tertawa bergelak. Sekali lompat saja dia sudah melayang di atas tubuh Ratu Dhika, siap untuk menghancurkan kepala lawan dengan hunjaman tumit kaki kanan! 
Sambil bergulingan selamatkan diri Ratu Dhika kerahkan hawa panas ke tangan kanan. Begitu tangannya mampu digerakkan dengan cepat dia melepas pukulan sakti Langit Roboh Bumi Terbongkar. Pukulan sakti inilah yang sebelumnya dikeluarkannya waktu menghancurkan goa tempat pertapaan Pangeran Bunga Bangkai. Kalau batu goa yang begitu tebal saja hancur berantakan dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan tubuh seorang nenek seperti Kunti Jenggala!
Tak ampun lagi tubuh si nenek mencelat sampai dua tombak ke udara. Ketika tubuh itu melayang turun keadaannya tercerai berai menjadi dua puluh tujuh potongan!
Lapisan benda putih menyerupai salju yang menyelubungi Ratu Dhika meleleh cair begitu si nenek Kunti Jenggala menemui ajal. Ratu Dhika tengah berusaha berdiri sambil pegangi dada ketika sebuah benda jatuh di depannya.
"Bluukk!"
Ketika melihat benda yang jatuh Ratu Dhika menggerung keras dan jatuhkan diri menubruk. Benda itu ternyata adalah Ragil Abang. Kucing besar ini menemui ajal kena dihantam pukulan dahsyat Ametung Warangtilis. Si kakek sendiri tewas dengan dua belas koyakan luka mengerikan di muka, leher dan dada. Kalap melihat kematian kucing peliharaannya, Ratu Dhika Gelang Gelang  menjerit-jerit lalu tendang tubuh Ametung Warangtilis. Karena tendangan yang dilancarkan dengan mengandalkan aji kesaktian Langit Roboh Bumi Terbongkar, maka seperti yang dialami si nenek, tubuh kakek inipun hancur bercerai berai!
"Kubunuh semua! Kubunuh semua!" Teriak Ratu Dhika Gelang Gelang masih kalap. Tiba-tiba enam orang berkelebat dari tempat gelap, langsung mengurung Ratu Dhika Gelang Gelang. Mereka adalah sisa dari sembilan orang yang sejak tadi mendekam di tempat gelap, menunggu kesempatan. Melihat kehebatan dan keganasan ilmu perempuan itu mereka merasa sangsi untuk bertarung sendiri-sendiri. Setelah secara diam-diam saling mengatur siasat, mereka lalu menyerbu bersama-sama.
"Bagus! Kalian sudah keluar semua! Ayo serang! Biar aku buat mampus kalian berbarengan!"
Ratu Dhika Gelang Gelang hentakkan dua kaki, angkat tangan ke udara. Dua puluh kerincing menderu keras. Dua puluh larik sinar kuning memancar menyilaukan. Siap menebar maut. Tapi enam orang yang mengurung tidak tunjukkan perasaan jerih.
Didahului teriakan keras mereka menyerbu. Mereka sadar kalau di antara mereka akan jadi korban. Namun mereka juga mengharap bilamana Ratu Dhika Gelang Gelang tewas maka mereka bisa menerobos masuk ke dasar Sumur Api. Akibatnya setiap orang membekal niat keji. Siapa saja diantara mereka  kelak yang masih hidup akan dibunuh agar bisa mendapatkan dua orang bayi. Walau mereka belum melihat bulan purnama empat belas hari namun mereka yakin bulan itu ada di atas langit sana yang saat itu masih tertutup tebaran awan gelap.
Tiba-tiba tam...tam...tam! Suara tambur ditabuh. Disusul suara tiupan suling. Tanah bergetar. Udara bergaung. Awan tebal yang sejak tadi menutupi langit secara aneh perlahan-lahan menebar buyar. Langit tampak terang ketika rembulan empat belas hari sedikit demi sedikit muncul menampakkan diri.

***

SEBELAS
LAHIRNYA DUA BAYI KERAMAT

DI DALAM ruangan tidur di dasar Sumur Api. Ananthawuri terbaring di ranjang besar. Perawan desa Sorogedug yang sedang hamil besar ini berada dalam keadaan setengah tidur setengah terjaga. Dia tidak tahu apakah dia bermimpi atau melihat kejadian yang sebenarnya ketika di langit di luar Sumur Api bulan purnama empat belas hari akhirnya muncul, di dalam ruangan satu cahaya putih kemilau turun dari langit-langit kamar menyelubungi dirinya. Sekujur tubuhnya terasa sejuk dan nyaman. Bersamaan dengan itu bau harum segar menebar. Perlahan-lahan kedua matanya terasa berat lalu terpejam dan tertidur sangat lelap. 
Suara aneh yang tidak pernah didengarnya sebelumnya membangunkan anak perawan pilihan Para Dewa dari tidurnya. Ananthawuri nyalang mata, mengucak-ngucak beberapa kali sementara telinganya terus mendengar suara aneh itu. Suara genta lonceng!
Ananthawuri bergerak bangun. Karena kebiasaan dua tangan langsung mengelus perut. Ananthawuri terkejut ketika merasakan bahwa perutnya yang selama ini besar karena mengandung kini telah rata. Tiba-tiba dia mendengar suara lain. Suara tangis bayi!
Dewa Agung Jagat Bhatara! Di atas tempat tidur di sampingnya berbaring dua bayi laki-laki merah montok, melejang-lejang kaki, menggerak-gerakkan tangan dan menangis sama-sama keras. Sulit dibedakan bayi satu dengan lainnya karena kedua bayi itu seperti kembar.
"Anakku? Apakah mereka benar anak-anakku? Bayi-bayi yang aku lahirkan seperti pernah diberitahu Roh Agung? Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak merasa seperti melahirkan. Aku hanya tidur dan tahu-tahu mereka sudah ada di sini. Kalau mereka bukan anak-anakku lalu...?"
Ananthawuri kembali mengusap perutnya yang telah kempes.
Bagaimanapun dalam diri anak perawan dari Desa Sorogedug itu ada perasaan ikatan bathin bahwa dua bayi itu memang  adalah darah daging yang dilahirkannya. Perasaan kasih sayang yang muncul dalam dirinya membuat dia membelai kepala ke dua bayi itu. Ketika membelai itulah dia melihat bahwa bayi yang di sebelah kanan ada anting-anting emas di telinga kirinya sedang bayi yang di sebelah kiri ada anting-anting yang sama tapi pada telinga kanan.
"Dewa Agung, sembilan bulan lebih saya menunggu. Sekarang inilah anugerahMu. Saya merasa sangat berbahagia. Terima kasih Dewa, terima kasih Yang Maha Kuasa Maha Pengasih...." Ananthawuri lalu merunduk mencium kening bayi itu satu persatu. Ketika dia mencium kening bayi yang memiliki anting-anting emas pada telinga kanan, tiba-tiba dua cahaya putih sejuk muncul menyelubungi dua bayi. Bersamaan dengan itu terdengar suara yang tidak asing lagi. Suara Roh Agung.
"Ananthawuri anak perawan pilihan Para Dewa Berkat anugerah Para Dewa yang paling indah telah menjadi bagian dirimu. Mereka bayi-bayi yang baru kau lahirkan secara gaib bukanlah bayi-bayi biasa. Mereka dua bayi keramat berwajah mirip. Namun mereka tidak kembar. Mereka akan tumbuh tidak seperti bayi biasa. Satu purnama bagi mereka sama dengan dua belas purnama. Jangan heran bilamana dalam usia tujuh bulan mereka akan sama besarnya dengan anak-anak seusia tujuh tahun. Bilamana mereka dewasa kelak.  Mereka akan menjadi dua orang Kesatria Yang akan berbakti pada Bhumi Mataram. Mereka sama dengan sehelai kain putih. Mereka bisa tetap putih tapi juga bisa berubah hitam. Sesuai dengan apa yang mereka terima dari luar. Karenanya pelihara dan jaga mereka baik-baik. Mohon selalu petunjuk dan perlindungan Para Dewa Agar mereka berada dijalan yang benar dan lurus. Seperti yang pernah dikatakan suamimu, Pada hari terakhir pertemuan kalian Berikan nama Dirga Purana pada bayi
yang ada anting-anting di telinga kiri Dialah anakmu yang sulung. Berikan nama Mimba Purana Pada bayi yang memiliki anting-anting di telinga kanan. Dialah anakmu yang bungsu Semoga berkat Para Dewa menjadi bagian kalian bertiga.
Aku pergi sekarang."
"Roh Agung, tunggu dulu. Bolehkah saya bertanya?" Ananthawuri yang sejak tadi berdiam diri mendengarkan ucapan suara tanpa ujud memberanikan diri membuka mulut.
"Apa yang ingin kau tanyakan anak perawan pilihan Para Dewa?"
"Siapakah nama suami saya? Nama ayah dari dua anak saya?"
"Suamimu seorang Pangeran. Hanya itu yang bisa aku beritahu."
"Seorang Pangeran? Lalu apakah dia tidak punya nama?"
"Hanya itu yang bisa aku katakan."
Suara tanpa ujud mengulangi ucapannya.
"Roh Agung, apakah saya bisa bertemu dengan dia? Dimana saya harus mencari suami saya? Apakah anak-anak saya bisa bertemu dengan ayahnya?"
"Pertemuan adalah salah satu kehendak Yang Maha Kuasa. Memohonlah padaNya. Niat baikmu pasti akan dikabulkan. Untuk itu kau perlu bersabar..."
"Satu hal lagi wahai Roh Agung. Sejak tadi saya mendengar bunyi suara lonceng. Saya tidak tahu dari mana datangnya. Mohon petunjuk Roh Agung, apakah artinya suara lonceng itu, dari mana datangnya?"
"Suara lonceng yang kau dengar datang dari Swargaloka tempat kediaman Para Dewa." Menjelaskan suara tanpa ujud. "Itu adalah satu pertanda bahwa kelak salah seorang dari puteramu akan menerima satu ilmu kesaktian melebihi dari saudaranya yang lain. Ilmu itu bersumber pada Lonceng Gaib terbuat dari emas milik Para Dewa..."
"Berarti Para Dewa membeda-bedakan diantara dua putera saya?"
"Para Dewa tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan berkat dan rahmat diberikan bukan cuma pada manusia tapi juga pada tetumbuhan dan hewan. Jika kau mau merenungi lebih dalam justru disitulah makna yang sangat hakiki dari kehidupan dimana terkait hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa Maha Pencipta. Manusia memiliki suratan nasib dan takdir masing-masing."
"Dari kedua putera saya wahai Roh Agung, yang mana yang akan mendapat kelebihan ilmu itu?"
"Aku tidak tahu karena itu adalah kuasa dan kehendak Para Dewa. Namun jika mereka sudah dewasa kelak kau akan mengetahui sendiri. Waktuku sudah habis. Selamat tinggal..."
"Terima kasih Roh Agung. Saya selalu mohon petunjukmu," kata Ananthawuri sambil membungkuk dalam-dalam.

***

KEMBALI ke Sumur Api.
Ketika Ratu Dhika Gelang Gelang dengan galak menghadapi enam musuh yang datang menyerang secara serentak, suara tambur dan tiupan seruling memenuhi tempat itu. Tanah bergetar, udara bergaung dan api di dalam sumur bergejolak, menyambar tinggi melewati bibir sumur.
Tiba-tiba ada yang berseru.
"Sahabatku Ratu Dhika, kau dalam keadaan terluka di dalam. Biar aku dan dua teman menghadapi para penyerang keji pembawa niat jahat!"
Meski belum melihat orang yang bicara namun Ratu Dhika mengenali suara. Maka dia segera menyahuti.
"Aku tidak perlu bantuan. Kaupun belum tentu berhati lurus dan membawa niat jujur!"
Enam larik serangan laksana topan prahara menyambar ke arah Ratu Dhika Gelang Gelang. Empat dari serangan itu memancarkan cahaya menggidikkan. Ratu Dhika Gelang Gelang goyangkan dua tangan dan hentakkan dua kaki. Saat itu juga dua puluh sinar kuning menyambar keluar dari kerincingan emas, menyambut serangan enam lawan tak kalah ganasnya. Namun sebelum semua ilmu kesaktian itu saling bentrok di udara tiba-tiba terjadi keanehan.
Satu persatu enam orang yang menyerang Ratu Dhika tubuh mereka terangkat ke atas lalu seperti ada tangan yang tidak kelihatan tubuh-tubuh itu dibantingkan ke tanah, ke arah gundukan batu dan ada juga yang dilempar ke batang pohon besar. Jerit pekik memenuhi udara. Enam tubuh berkaparan. Tiga dalam keadaan kepala hancur. Dua orang mengalami patah leher dan satu dengan dada remuk. Semuanya tidak bernyawa lagi!

TAMAT

Meskipun Ratu Dhika Gelang Gelang yang dalam keadaan terluka dalam mendapat pertolongan dari dua orang aneh, apakah dia masih mampu menyelamatkan Sumur Api dari serombongan tokoh pendatang baru yang juga ingin menerobos masuk ke dasar Sumur Api pada malam bulan purnama yang sama?
Mengapa Arwah Ketua tidak muncul untuk membantu?
Siapa yang telah mencuri jimat Mutiara Mahakam dan apakah Sebayang Kaligantha pemuda kekasih Ratu Dhika yang memiliki jimat itu masih hidup?
Siapa sebenarnya manusia pengganda gaib yang memiliki ilmu kesaktian begitu tinggi?
Lalu siapa sang peminang salah seorang bayi keramat yang mengutus si Tambur Bopeng dan si Suling Burik?

Lalu siapa pula:
(Judul kisah berikutnya)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon untuk menuliskan komentar setelah Anda membaca halaman ini..